Home / Review / Movie / Nay: Berbicara tentang Perempuan lewat Film (Movie Review)

Nay: Berbicara tentang Perempuan lewat Film (Movie Review)

Poster Film Nay

Jika berbicara tentang perempuan lewat film, pertama kali yang ada di otak saya adalah Sineas ternama, Djenar Maesayu. Diperkenalkan dengan karya Djenar yang berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet!, membaca bukunya Saia, dan karya filmnya yang lain membuat saya menyimpulkan bahwa tak ada yang lebih baik menginterpretasikan kepahitan yang dialami perempuan lewat sebuah film atau buku selain Djenar Maesayu.

Karena ingin sekali melihat film-film Djenar Maesayu, saya mengikuti akun instagram beberapa bioskop independent. I swear you, film-film beliau memang jarang sekali ada dibioskop. Mungkin, jika tayang di bioskop akan ada banyak yang disensor atau langsung menyabet rating usia 21+ dan tak semua orang bisa menerima film-film beliau karena memang ada banyak konflik yang tabu menurut beberapa orang tapi justru menurut saya harus digaungkan kencang-kencang.

Sempat tayang di bioskop tahun 2015 dan tak lama langsung turun layar. Membuat saya kesusahan untuk menonton film tersebut, sampai pada akhirnya di bulan November 2018 Kineforum, bisokop independent di TIM menayangkannya. Saya pun menonton tanpa melihat review dari kebanyakan orang dan trailer-nya. Tak diduga Dejenar memang selalu bisa mengambil perhatian saya jika bercerita tentang perempuan.

Film yang bercerita tentang sosok perempuan, dengan profesi model dan artis bernama Nay.Di tengah-tengah keriuhan kota Jakarta, Nay mengendarai Mini Cooper kuningnya. Nay mendapat tawaran kerja yang fantastis, bisa dibilang yang dia atau rekan seprofesinya dambakan, namun sayangnya Nay mendapati dirinya hamil dari buah hati pacarnya. Dari sini, kita akan disuguhkan scene bagaimana Nay menghadapi kehamilannya disaat dia mendapat tawaran yang jelas tak mungkin dia tolak. Konflik yang mungkin sering kali kita temui dan dekat dengan kita, berhasil dikulik dengan sangat apik oleh Djenar. Bukan hanya tentang itu, Djenar juga memaparkan bagaimana hubungan Nay dengan sang ibu yang sudah entah dimana, lewat percakapan-percakapan antar Nay dan ibu (gaib) di dalam mobil. Hubungan seorang anak yang benci, bagaimana sang ibu yang mengatasi masalah dengan masalah (lagi).

Nay yang dilahirkan tanpa bapak, membuat sang ibu khawatir Nay tak punya figur ayah. Sehingga sang ibu menikah dengan laki-laki yang menurtnya jarang sekali mau menerima keadaanya. Namun ternyata, sang ayah pilihan ibunya membuat Nay harus mengalami pelecehan seksual ketika kecil. Sosok ayah yang seharusnya bisa melindungi keluarga dan menjadi role model bagi sang anak, justru malah meninggalkan trauma yang sulit untuk dihilangkan.

Djenar Maesayu memang paling pandai menggali konflik perempuan-perempuan. Di beberapa scene saya sempat merasa haru dan geram, geram karena ketika sang pacar diminta pertanggung jawaban malah mengelak dan menghindar untuk berbicara dan mencari jalan tengahnya. Oh man, after you did it and you’ll left. Man with bad habit memang banyak sekali mungkin di sekitar, tapi yang membuat saya lebih geram adalah ketika sang ibu dari pacar mengungkapkan kata-kata yang sungguh sangat tak pantas diucapkan seorang perempuan, teruma seorang ibu. Sang ibu yang tahu anaknya menghamili pacarnya, justru malah mengatakan bahwa sang anak harus menjauhi Nay, wanita yang sudah dihamilinya, karena bisa jadi itu bukan anaknya dan Nay hanya ingin mengeruk kekayaan dari sang pacar. Yang lebih parah sangibu berkata, bahwa Nay ketika melakukan hubungan dengan anaknya itu bukan yang pertama kalinya alias sudah tidak virgin lagi. What? Haha it’s funny ya, orangtua yang harusnya mengajarkan tanggung jawab kepada seorang anak, malah mengatakan hal tersebut. Jadi, pengen nanya balik “emang anak ibu, waktu berhubungan sama Nay masih virgin?”.

Bercerita tentang perempuan lewat film dibalut dengan konflik yang menguras emosi, memang perlu diberikan penghargaan kepada Djenar Maesayu. Ditambah film ini disajikandari awal sampai akhir hanya dengan satu pemeran utama, Nay yang diperankan oleh ShaIne Febriyanti. Genius acting-nya ShaIne Febriyanti, dia dapat mengatasi dan mengeksekusi film ini dengan sangat baik. Dan mungkin ga semua artis sanggup memerankan film ini. Pemain lainnya hadir hanya dalam bentuk suara. Sepanjang film di dalam Mini Cooper kuning melintasi Jakarta tanpa mendengarkan musik dan terus menelepon dan ditelepon oleh orang-orang sekitarnya. Mobil memang menjadi tempat ternyaman untuk mencurahkan segala kegelisahan, terlebih bagi orang sibuk yang selalu kerja di tempat A ke tempatB dll, mobil adalah rumah ternyaman. Tak heran Djenar Maesayu memilih mobil tempat shooting yang pas untuk film ini.

Namun, memang kalau dilihat film ini mirip sekali dengan film Locke yang diperankanoleh Tom Hardy. Konsep film yang sama bahkan konflik yang mirip membuat film ini jadi banyak perbincangan. Konsep boleh sama, namun ekseskusi pasti berbeda. Locke bercerita tentang keluarga, percintaan, perselingkuhan, pekerjaan dan persahabatan dari sudut pandang laki-laki, sedangkan Nay bercerita tentang itu semua dari sudut pandang perempuan. Menurut saya, sudut pandang yang berbeda membuat hasil akhir dari film ini berbeda. Dan sampai tulisan ini dibuat belum ada artikel yang mengatakan bahwa Djenar Maesayu membuat film Nay yang memang terinspirasi dari film Locke.

Bagaimanapun juga, film Nay berhasil mencuri perhatian saya dan layak untuk ditonton. Film ini juga berhasil membuka pikiran dan sudut pandang agar kita bisa lebih memanusiakan manusia.  

About Diah Sally

Perempuan yang tidak pernah serius, karena terakhir dia serius, si Mas minta putus! Walaupun begitu, dia selalu senang diajak berdiskusi santai ataupun serius tentang buku, film dan apapun. Selain gemar berdiskusi, dia juga suka menulis yang dibicarakan & membicarakan yang ditulis. Serta siap meramaikan acaramu. Mari, undang dia untung menjadi Master of Ceremony (MC) di acara spesialmu

Check Also

Rahasia Simbol Satanic di Jakarta (Book Review)

Sampul Buku The Jacrta Secret Hal yang paling menyenangkan di dunia ini adalah menguak rahasia …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *