Home / Review / Movie / One Cut of dead: Film Zombi dengan gaya bercerita yang berbeda

One Cut of dead: Film Zombi dengan gaya bercerita yang berbeda

Film zombi biasanya diisi dengan ketegangan dan keseraman. Berbeda dengan film zombi, One Cut of Dead asal Jepang membuat siapapun kamu yang menontonnya terpingkal. Gaya bercerita yang berbeda saja sudah memiliki point plus pada film ini, ditambah eksekusi film yang sangat mencengangkan.

Poster film One Cut of Dead

Sejujurnya, saya belum pernah berkenalan dengan film-film Jepang. Bahkan saya nonton film ini tanpa berbekal sinopsis maupun trailernya. Film ini direkomendasikan oleh sutradara favorit saya, Joko Anwar. Tanpa bilang apa-apa di akun twitternya, hanya saran untuk menonton film tersebut, saya pun langsung mengecek jadwal XXI yang ada dan ternyata film tersebut hanya ada di Cinemaxx dan CGV. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau film Jepang dan Thailand memang hanya tayang di dua bioskop tersebut, walau XXI menayangkan beberapa film dari negara tersebut hanya saja layarnya sedikit dan cepat turun layar. Sangat disayangkan memang, film sebagus dan sepintar One Cut of Dead hanya dapat porsi layar yang sedikit.

Film comedy tentang zombi ini, perlu diapresiasi setinggi-tingginya. Film yang sangat detil dimana setiap scene dan act yang dilakukan adalah tabungan yang akan membuat kamu terpingkal di scene berikutnya. 30 menit pertama dalam film ini akan membuatkamu kebingungan atau bahkan sama seperti saya yang selalu mengatakan “iki filmopo yo rek” sambil tertawa. Di awal film kita akan diperlihatkan zombi yang ingin menakutkan perempuan, namun sang aktris berlakon dengan sangat buruk dan sang sutradara pun memarahinya. Di awal scene, saya memang sudah bergeming film ini memang bukan dilakoni aktris dan aktor papan atas.

Scene berikutnya yang semakin membuat saya berkata, edan ini film apa ya? Namuntenang saja dalam 30 menit pertama film ini akan tetap mudah ditertawakan karena cerita yang cukup asal-asalan. Setelah 30 menit ada credit pada film, saya pikir benar-benar habis padahal saya tahu banget durasi film ini sekitar 90 menit. Namun, cerita tetap bersambung dalam pra pembuatan film bagaimana film itu terjadi. Film zombi ini dibuat karena permintaan seorang produser yang ingin menayangkan film zombi one take dan secara live. Edan. Ga kebayang memang bakal berantakannya kaya apa. Terlebih jika live, tak akan tahu kendala apa saja yang akan terjadi, misal: pemain yang kejebak macet, pemain yang tiba-tibasakit perut, mabuk, kru yang tak datang ontime atau bahkan bisa jadi alat bantu yang tiba-tiba rusak. Sudah bukan rahasia umum, hal-hal diatas terjadi.

30 menit pertama (film yang disuguhkan) penonton diajak untuk tertawa dan mengerutkan dahi, setelahnya (pra terjadinya film tersebut) penonton diajak untuk tertawa sampai terbahak dan terpingkal dan sebelum film berakhir (proses pembuatanfilm/behind the scene) penonton diajak untuk tertawa di setiap menit bahkan detik acting. Film yang dibalut dengan gaya dokumenter ini dibanjiri tawaan. Bahkan saya belum pernah melihat film sedetil dan sebagus ini. Di balik tayangan live yang “apaan sih?” ada kisah menggelitik yang tak pernah terduga.

Yang paling membuat saya menggelengkan kepala adalah scene “Pom” pertama mengundang tawa, namun “Pom” kedua dan seterusnya selalu berhasil dibanjiri gelak tawa. Ibarat stand up comedy mengeluarkan punchline pertama dan call back punchline itu lagi untuk menghasilkan materi serta tawa yang kompor gas.

Lagi-lagi saya dibuktikan bahwa break the rules memang dibutuhkan dalam sebuah seni. Film zombi yang melulu dihadirkan tegang, kini hadir dengan gelak tawa yang menggelegar. Saya jadi ingin bersua dengan si penulis skenario yang bisa-bisanya dia kepikiran membuat cerita zombi yang mengocok perut seluruh penonton di bioskop. Dibutuhkan pemikiran yang kritis, peka dan pastinya harus memandang sesuatu dari kacamata humor yang segar.

Terkahir saya baca artikel, bahwa film ini digarap dengan low budget bisa menghasilkan keuntungan 1000 kali lipat. Gendeng. Pemain yang melakoninya juga memang bukan artis papan atas, toh menurut saya jantung dalam sebuah film adalah plot. So, saran saya kamu harus segera ke bioskop dan buktikan sendiri bahwa tulisan ini benar, tulisan tentang review ini benar. Amat sangat sayang melewatkan film yang super duper keren. Dan kalau ada film yang akan saya tonton berkali-kali film ini adalah salah duanya setelah AADC 1. Selamat terbahak dan terpingkal di bioskop kesayangan mantan, eh kesayangan kamu maksudnya. Hihihi.

About Diah Sally

Perempuan yang tidak pernah serius, karena terakhir dia serius, si Mas minta putus! Walaupun begitu, dia selalu senang diajak berdiskusi santai ataupun serius tentang buku, film dan apapun. Selain gemar berdiskusi, dia juga suka menulis yang dibicarakan & membicarakan yang ditulis. Serta siap meramaikan acaramu. Mari, undang dia untung menjadi Master of Ceremony (MC) di acara spesialmu

Check Also

A Star is Born. She’s Lady Gaga (Movie Review)

Film A Staris Born adalah film yang sudah di-remake sebanyak dua kali. Sukses dengan A …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *