“Selamat ulang tahun, babe. Semoga apa yang disemogakan bukan hanya sekedar semoga dan lekas terwujud. Tuhan berkati setiap langkah dan perbuatan lo ya.

I’m the one who feel hapvpy you’re born and be my friend, walau elo selalu balas chat gue singkat.

You deserved to be with a best man for being your best soulmate forever. Hopely, you’ll find him soon ya. Aamiin. GBU!”

Pagiku di awali dengan pesan baru dari Adara. Di hari ulang tahunku dia selalu memberikan ucapan dan doa dengan sekali kirim, katanya dia ingin sehari aja engga jadi orang yang ngeselin buatku. Baguslah, aku tak perlu menerima bombardir pesan dari Adara, bisa-bisa kaget dan terbangun karena pesan-pesan dari Adara. Salah satu aku tak suka dibombardir pesan karena aku pernah terbangun waktu malam hari rekan kerjaku minta dikirimi file. Yang mana file itu bukan hal yang sangat urgent. Gila emang, minta dikirimi file jam dua pagi. Gendeng emang.

Aku menatap layar HP tersenyum melihat pesan dari Adara. Bukan Adara namanya kalau engga mengirimi pesan yang menyentuh di saat ulang tahunku. Adara selalu mengirimkan ucapan yang berbeda setiap tahunnya, bukan hanya berbeda tapi juga membuatku terenyuh. Memiliki teman seperti Adara saja aku sudah sungguh terharu, Adara salah satu hadiah yang Tuhan berikan karena dia adalah teman curhatku satu-satunya. Bahkan yang membuat ku terharunya lagi, Adara tahu bagaimana memberiku hadiah tanpa aku terkejut dan aku suka dengan yang dia berikan. Di ulang tahunku tahun kemarin Adara datang ke rumah, setelah Adara masuk diikuti oleh supirnya. Tumben sekali ketika itu Adara bawa supir, ternyata Adara meminta bantuan supirnya untuk membawa dan membuka durian. Edan.

Lima durian yang sudah dibelah-belah, ditaruh lilin ulang tahun dan Adara menyanyikan lagu ulang tahun untuk ku. Aku tak berhenti tertawa, bukan karena mendengar suara Adara saat bernyanyi tapi aku terbahak dengan kelakuan Adara, jikalau orang-orang memberikan kue ulang tahun saat temannya ulang tahun Adara justru mengganti kue itu dengan durian. Dia tahu, jika membawakan kue ulang tahun maka setelah memotoh kue aku akan memakannya dikit saja sebagai formalitas, sedangkan Adara tahu sekali aku suka dengan durian. Aku tak pernah melupakan ulang tahunku tahun kemarin karena kue ulang tahun hadiah dari Adara, hadiah yang sangat outof the box dan ketika itu aku tak membiarkan satu buah pun masuk ke mulutnya Adara. Aku memnag pelit berbagi kalau sudah urusan durian.

“Terima kasih, Adara. Lo selalu bisa mengucapkan “Happy Birthday” dengan kata-kata yang menyentuh setiap tahunnya. Seperti tahun sebelumnya, gue sungguh berharap tahun ini lo ngasih gue hadiah yang lebih istimewa lagi selain kue buah durian seperti tahun kemarin, misal tahun ini ngasih kebon durian 50 hektar, mungkin”.

“Elo makin tua, bukannya berdoa karena makin dekat ajal, malah makin ngelunjak lo ya!”