Pandemi memaksa siapapun bergerak secara terbatas, yang biasanya weekend hangout bareng teman-teman sampai pagi. Karena pandemi terpaksa jadi kaum rebahan. Salah satu cara untuk membunuh kebosanan di kala di rumah saja adalah menonton film, banyak sekali film-film yang bisa ditonton mulai film dalam negri, film lawas & luar negeri. Dari film-film yang pernah saya tonton, film Thailand adalah salah satu film yang akan saya rekomendasikan kepada teman-teman semua. Apalagi 5 rekomendasi film Thailand ini bisa menghibur kamu dan menghilangkan kejenuhan di kala pandemic yang entah kapan akan sirna.

Bad Genius

Awal mula berkenalan dengan film Thailand adalah dengan film Bad Genius. Gokil memang film itu. Sinematografi, editing dan aktor-aktornya ga ada yang ngalahin deh. Kalau masalah konflik dan plot ga usah diragunakan, paling juara film ini buat bikin jantungan. Haha. Bercerita tentang Lin anak yang paling genius di sekolah ternama dan terpopuler di Thailand. Lin yang genius ingin sekali membantu rekannya dalam memahami pelajaran-pelajaran di sekolah

Lynn, perempuan genius bahkan bisa menjawab soal matematika dengan hanya melihat soalnya, geniusnya sudah keblinger. Kehidupan Lynn berubah ketika bertemu Grace yang ingin sekali mengikuti ekstrakulikuler teater tetapi peraturan sekolah memutuskan untuk siswa/i yang ingin mengikuti ekskul tersebut harus memiliki nilai bagus. Grace yang memiliki kemampuan akademik yang tak cukup bagus, menginkan Lynn untuk menjadi gurunya. Pada ujian matematika tiba, ternyata Grace tetap tak bisa mengerjakan soal-soal tersebut, padahal soal tersebut serupa dengan yang diajarkan oleh Lynn. Dan Lynn pun memberikan jawabannya lewat penghapus yang di taruh di bawah sepatu dan diberikan kepada Grace. Yeah, menyontek pun berbuah hasil, Grace berhasil mendapatkan nilai bagus.

Kisah contek menconteh pada film Bad genius memang sungguh sangat menegangkan. Namun, pada Bad Genius Series yang tayang tahun 2020, kisahnya jauh lebih menagangkan dan mereka membawa cerita Lyn dan rekan-rekannya mencontek to the next level. Setelah berhasil menjadikan mencontek di sekolah mereka sebuah proyek dan menghasilkan banyak cuan, Lyn dan rekan-rekannnya melakukan kecurangan pada tes internasional (tes masuk sekolah di luar negeri), sayangnya kecurangan kali itu tidak berjalan mulus namun tak membuat Lyn berhenti sampai situ, bahkan mereka melanjutkan rencana mereka untuk melakukan kecurangan-kecurangan lainnya yang membahayakan diri dan nama baik mereka.

Setiap kecurangan yang dilakukan penuh dengan taktik yang menegangkan, bahkan saya sendiri menyaksikannya sampai ikut deg-deg-an. Jika, pada film Bad Genius Lyn memberikan jawaban melalui jari-jemarinya seperti bermain piano, dalam drama ini Lyn memberikan jawaban melalui mic informasi yang rusak di sekolah. Lho kok bisa? Emang ga ketahuan? Ya bisa dong, namanya juga film.

Dalam series Bad Genius, empat tokoh utama Lyn, Bank, Grace dan Pat mempunyai porsi cerita masing-masing. Suka sekali bagaimana sang penulis mengeksplor cerita masing-masing karakter. Yeah, that’s we want honey. We want know more about them. Karena sering melakukan kecurangan bersama, maka persahabatan mereka pun semakin erat. Bahkan Lyn rela mengambil resiko untuk dirinya dan rekan-rekannya, saat rencana kecurangan yang sudah dibuat tak berjalan muncul.

Baca selengkapnya review film Bad Genius disini.

Suckseed

Setelah mononton Bad Genius di Viu saya pun coba menonton film-film Thailand lainnya yang tersedia. Terlihat dari poster filmnya, Suckseed memang bercerita tentang sahabat di sekolah yang membuat band. Cerita yang berunsur drama komedi ini cukup tidak membosankan, apalagi kisah ketika remaja di bangku sekolah yang membuat kamu bakal kangen sama masa-masa sekolah.

Pad dan rekan lainnya yang membuat band untuk memikat gadis-gadis impian mereka, sayangnya upaya itu gagal terus, walau begitu mereka terus berusaha menampilkan yang terbaik untuk band mereka. Kisah persahabatan di masa sekolah memang selalu asyik untuk ditonton, mungkin kita pun ketika menonton film ini akan teringat bagaimnaa dulu kamu dan kawan-kawan di sekolah bermain tanpa berpikir harus cari uang, nabung buat biaya nikah.

App War

Berbeda dengan Suckseed, App War menceritakan tentang rekan lama yang sama-sama membangun sebuah start up. Seperti start up pada umumnya yang membutuhkan suntikan dana besar agar perusahaannya terus berkembang. Namun, berkembang saja tak cup butuh menghasilkan banyak cuan jika ingin mendapatkan suntikan dana, jadilah mereka mempunyai impian untuk memenangkan Liga Start Up agar bisa menjalankan perusahaan yang mereka buat. Sayangnya, aplikasi yang mereka launch seling beberapa lama kemudian ada aplikasi serupa yang keluar dan jauh lebih disukai oleh khalayak. Kalau kita bandingkan, kisah perang aplikasi ini mirip aplikasi ojek online di Indonesia. Aplikasinya serupa. Senang sekali menyaksikan persahabatan mereka, kata orang semakin dewasa, sahabat kita pun semakin sedikit.  Sahabat sekaligus rekan kerja membuat mereka harus memisahkan urusan pribadi dan profesional.

O-Negative

Saya selalu merasa Tuhan membawa saya pada film yang pas sekali dengan suasana yang saya rindukan. Selama pandemi berbulan-bulan hanya di rumah dan tak bertemu teman-teman, dipertemukannya saya dengan serial O-negative. Serial yang diadaptasi dari film yang berjudul sama di tahun 1998 ini mengisahkan lima sahabat yang disatukan ketika orientasi di bangku kuliah fakultas seni. Kisah ini mengingatkan saya pada masa-masa orientasi dulu di bangku kuliah. Sampai sekarang saya selalu kesal kalau ada senior yang sukanya teriak-teriak pakai nyinyir pada masa orientasi. Saya selalu ngedumel dalam hati “itu si senior apa ga sakit ya tenggorokannya ngomong pakai teriak-teriak begitu”. Hahah.

Kisah di masa orientasi, memang hal yang paling membekas sekali. Pada masa orientasi biasanya senior suka sekali memberikan junior tugas yang agak konyol dan unfaedah. Pada saat itulah persahabatan 3 orang perempuan dan 2 laki-laki  dalam film O-negative semakin kuat karena sering dihukum bersama dan kesusahan bersama-sama. Lambat laun persahabatan mereka pun diuji dengan cinta. Kisah persahabatan yang diuji oleh cinta pun sering terjadi di sekitar kita, bahkan kata orang cowok dan cewek temenan itu bullshit, pasti salah satu dari mereka ada yang suka tapi dipendem. Apa iya begitu? Kamu punya ga sih teman lawan jenis yang sampai sekarang akur tanpa terjadi konflil dengan kisah percintaan?

Hormonies

Awal menonton karya-karya sineas Thailand agak terganggu dengan dialek mereka yang lucu namun, seiring berjalan saya cukup terbiasa dengan dialek mereka walau sampai sekarang tak satu pun nama mereka yang saya hafal, saya hanya hafal satu nama artis Thailand, Mario Maurer itu pun karena saya kesal meonton film Pee Mak yang serem dan ngagetinnya bikin orang spot jantung.

Pada film Hormonieswajah para pemain sudah tak asing lagi tapi sampai saat ini sulit sekali saya baca nama-nama mereka. Karakter dalam serial Hormonies ada begitu banyak sekali, kisah tentang persahabatan di bangku SMA ini cukup asyik diikuti. Di sekolah mereka ada satu anak yang suka sekali mempertanyakan hal-hal sepele namun membutuhkan jawaban yang rumit, film ini juga menceritakan tentang kenakalan remaja yang sering terjadi. Jika ada kisah persahabatan, tentu tak asyik jika tak dibumbui dengan kisah percintaan. Seperti film remaja Thailand pada umumnya, namun yang membedakan kali ini adalah percintaan remaja mereka cukup rumit, bahkan sang penulis skenario tak tanggung-tanggung untuk mengisahkan kisah percintaan sesama jenis.

Lima film tentang persahabatan ini bisa menjadi obat bagi kamu yang kangen karena sudah lama sekali tak bersua dengan sahabat-sahabat karena terhalang pandemi. Apalagi film-film di atas kebanyakan mengisahkan tentang persahabatan di masa sekolah. Hmm, kira-kira kamu masih berhubungan baik dengan sahabat-sahabatmu di bangku sekolah dulu kah? Apakabarnya mereka sekarang?