Kata orang, jika tak ingin kecewa maka gantungkanlah harapanmu pada Tuhan bukan pada ciptaan-Nya. Betul memang, dahulu aku pernah menggantungkan sebuah harapan besar kepada seseorang yang pernah aku sanjung dan kagumi, nyatanya ia pun meninggalkanku dengan beribu-ribu kenangan. Hasilnya pun, kekecewaan yang begitu berlipat-lipat ganda lebih besar. Ampun!

Katanya, apa yang kamu tuai akan kamu tanam. Aku menanam harapan yang besar, tapi kenapa yang aku tuai kekecewaan yang lebih besar dari harapan itu sendiri? Semenjak itu, aku tak pernah menaruh harapan pada orang lain termasuk keluargaku. Karena menurutku tak ada gunanya menaruh harapan pada manusia, ujung-ujungnya pasti kecewa. Karenanya aku suka kesal, ketika ada atasan atau rekan kerja yang bilang “Saya berharap sekali, kamu bisa menyelesaikan project ini tepat waktu atau bahkan early”. Kalimat sakti atasan yang biasa keluar kalau maksa anak buahnya, ingin sekali waktu itu aku berkata kepada atasanku “Cie, yang menaruh harapan besar pada anak buahnya, siap-siap nih bakal dikecewakan”, tapi hal itu aku urungkan, mengingat rekeningku belum cukup untuk beli Mini Cooper.

Jengah menaruh harapan pada manusia, aku pun menaruh harapan pada Tuhan. Aku menaruh harapan pada Tuhan agar dimanapun kau berada dan siapapun orang yang bersandang denganmu sekarang, kamu tetap bahagia. Setiap pagi, Cave. Setiap pagi, aku selalu berdoa agar kau bahagia. Titik. Walau aku masih menginginkanmu, bahkan aku tak pernah berdoa dan berharap agar Tuhan menitipkan rinduku ini pada mu. Tak mungkin, Cave! Aku ikhlas melepasmu, walau kadang aku pun ragu ini ikhlas atau ‘kepaksa’ ikhlas?

***

Happy birthday, Hon!

Thank’s Hon. You know ya, Hon. I really hate surprise. Then, don’t try to make it.

Sure, Hon. Nih, kadonya.

Apa nih?

Pohon Harapan biar kamu tulis harapan itu, terus gantungin disitu harapan-harapan yang kamu buat. Jadi, mulai saat ini ga usah berharap lagi sama manusia, termasuk sama aku. Kebanyakan berharap nanti kebanyakan kecewa.

Aku kok sedih ya kamu ngomong gitu, Cave. Kaya kamu mau pergi aja. Kenapa kamu? Ga mau minta putus kan?

Enggak dong, Hon. Kalau pun mau minta putus enggak mungkin di hari kelahiranmu juga kan?

Ih, kamu mulutnya enggak pernah dingaji-in ya!

Hahaha.

***

Semenjak hari itu, setiap hari ulang tahunku, aku selalu menuliskan harapan-harapan ini dan menggantungkannya di pohon harapan ‘kita’, yang sekarang pohon ini menjadi miliku tak ada lagi kata ‘kita’, Cave. Harapan dan doa selalu kucarahkan untukmu, semoga harapan-harapan yang digantung ini Tuhan dengar dan kabulkan. Walau setiap ingin menulis harapan, ingin sekali aku menulis kata-kata lain, Cave. Kata yang mungkin jika kau membacanya, mungkin kau akan marah atau kesal atau parahnya lagi mungkin kau akan tambah membenciku, Cave. Tapi kali ini, aku tak kuasa, Cave. Aku harus menulis kata ini dan menggantungkannnya, aku ingin kali ini saja Tuhan mendengarkan harapan dan doaku untuk mu. Iya aku tahu, aku akan menerima kekecewaan yang berkali-kali lipat dengan menuliskan kata ini. I’m sorry, Cave. I’ve to say it.

“Aku harap, waktu itu tak pernah datang. Sungguh.”