Film tentang biografi Astrid Lindgren, seorang sastrawan yang mana salah satu karyanya yang sangat populer adalah “The Adventure of Pipi Longstocking”. Bercerita tentang kehidupan Astrid dimasa muda yang bekerja sebagai juru ketik di salah satu media. Astrid yang masih muda dan tinggal di pedesaan terpencil jatuh hati kepada bosnya di tempat kerja yang mana sekaligus ayah dari kerabat dekatnya, sampai pada akhirnya Astrid hamil. Respon yang sangat wajar yang terjadi pada orang tua ketika sang anak hamil di luar nikah, terlebih orang tuanya adalah salah satu orang berpengaruh di kalangan gereja tempat mereka ibadah.

Orang tua yang tak mau menanggung malu akibat perbuatan sang anak, berinisiatif untuk menggugurkan janin sang anak namun Astrid bersikeras akan melahirkan dan menjaga sang anak. Ia pun diasingkan keluar negeri oleh sang belahan hati, bosnya. Emosi yang diciptakan pada film ini seperti perempuan yang sedang mengalami menstruasi di hari pertama. Hamil dan harus bekerja agar memiliki uang yang cukup untuk melahirkan sang anak di negeri orang adalah hal yang berat bagi Astrid. Sedangkan, disisi lain sang belahan jiwa harus menyelesaikan proses cerai dengan sang istri dan ia pun diancam akan dipenjarakan karena ketawan menghamili Astrid.

Bingung, Chaos dan buntu adalah penggambaran yang tepat pada kejadian itu, ditambah penonton akan langsung disuguhi adegan dimana Astrid melhairkan bayinya di negeri orang. Tak cukup sampai disitu penonton akan dibawa lagi pada konflik Astrid dan anaknya, Lasse. Lasse terpaksa harus dititipkan di Denmark kepada salah satu pengasuh dan mulai saat itu sang anak pun tak tahu ibu kandungnya.

Seperti yang kita ketahui anak-anak memiliki ingatan yang sangat kuat ketika kecil. Lasse yang hanya tahu bahwa ibundanya adalah sang pengasuh membuat hati Astrid kecewa. Konflik antara anak dan ibu (Astrid dan ibunya, serta Lasse & Astrid) dalam film ini nampaknya menyentuh hati para penontonnya. Apakah mereka dapat membereskan konflik yang terjadi?

Menonton film Becoming Astrid seperti membaca teori psikolog Elizabeth Kubler-Ross tentang tahap seseorang menghadapi masalah. Denial, anger, bargaining, depression sampai pada akhirnya acceptance bahwa yang sudah terjadi memang begitu takdirnya, atau memang begitu jalannya dan tak akan bisa diulang kembali sampai pada akhirnya kita memang harus menerima apa yang telah terjadi.