Pernah pergi ke bioskop dan ternyata di dalam teater bioskop, hanya kamu satu-satunya penonton?
Kalau jawabannya tidak, haha lucky you guys. Dan saya adalah salah satu orang yang pernah merasakan itu. Kok bisa? Ya entahlah, jangan tanya saya, tanya pada orang-orang yang kenapa tidak mau datang ke bioskop. Saya pun ga tahu harus bahagia/sedih/takut/bangga ketika menonton sendiri di dalam bioskop. Wait. I mean, saya benar-benar menonton sendiri di dalam bioskop, and it’s mean dari 140 kursi di bisokop hanya satu kursi yang terisi dan itu diisi oleh saya.

Bioskop serasa milik sendiri


Kegemaran, menonton memang muncul sejak kuliah dulu dan 3 tahun terakhir semakin menggila dengan film. Pasalnya, saya jadi hobi menonton dan membaca karena ingin mengetahui sesuatu atau kehidupan yang tidak pernah dialami dan juga untuk mengetahui bagaimana kehidupan sosial orang-orang di luar serta bagaimana saya harus bersikap, terkadang saya menonton hanya untuk merasakan emosi karakter yang memang bukan saya banget dan kadang suka aja nonton untuk nyari ide atau inspirasi buat ditulis. Faktanya memang setelah menonton, banyak banget yang bisa saya tulis. Semakin banyak film yang saya tonton, semakin banyak pengetahuan yang bisa didapat.
But, kalau nobar sama kawan-kawan saya selalu menjauhi film-film yang bergenre drama melankolis. Oh, come on! Honestly, saya orangnya sangat-sangat baper dan paling ga mau nangis depan banyak orang, biasanya saya nonton drama melankolis di rumah biar bisa nangis bombay tanpa ada yang harus nyinyirin lebay atau cengeng. Sedangkan kalau menonton film horor, kudu dan wajib nobar dan jangan di malam. Enggak kok saya bukannya takut nonton film horor tapi kalau nonton di malam hari takut kesiangan bangunnya, kan besoknya harus kerja, kalau kesiangan ke kantor nanti potong gaji dan kerja jadi ga mood dan bos bisa marah-marah ujung-ujungnya ngeluh pingin Resign! #ElahNgelesAjaSih hahaha.
Kok bisa sendirian di bioskop?
Let’s the story beginhahaha. So, hari minggu kemarin tanggal 11 Maret 2018 saya berkunjung ke Post Santa, salah satu toko buku alternatif (TBH, saya lebih suka Post Santa ketimbang toko buku besar, soalnya disana bukunya bagus-bagus dan yang pasti mayoritas bukunya ga akan kamu temukan di toko buku besar) sebelumnya memang sudah janji dengan dokter THT di daerah Ciranjang. Karena saya tipe orang kalau malam belum mau pulang, jadilah saya berniat untuk menghabiskan waktu sampai malam dengan menonton. Fyi, ga usah kasian ya pas baca tulisan ini karena saya emang udah biasa nonton sendirian, kalau nonton bareng kawan-kawan kan harus nyamain dulu sama jadwal mereka. Kalau ada waktu senggang dikit biasanya nonton di bioskop kalau lagi ga ada duit atau filmnya ga bagus-bagus amat biasanya saya nonton di Hooq atau Viu.
Pas pesan jam 20.30 dan film mulai 21.00 ternyata baru saya doang yang book ticket. Sempet mikir, turn arround and back home or just watch & enjoy the movie. Sambil mikir, saya makan gultik Blok. M saja dulu. Nonton ga ya? Kalau nonton sendirian, khawatir ada yang nyolek atau dengar bunyi yang ga diinginkan. Kalau ga nonton, sayang udah beli tiket, udah nonton film Indonesia, beli tiket di weekeend kan mahal, sayang dong ya kalau ga nonton. Gak ada salahnya sih ya, nonton aja tohdurasinya juga cuma 1 jam 24 menit. Bismillah deh ya, kalau benar sendirian saya akan angkat kaki sepanjang film. Konon dulu, saya pernah diceritain kalau ngomong tentang hal gaib, kakinya jangan napak biar yang gaib ga dekatin atau ganggu kita. Yaudah sih, saya emang orangnya percayaan banget apa kata orang hahaha.
Senangnya ketika mau masuk teater ada 2 orang yang mendekati mbak penjaga pintu teater 6, film yang saya ingin tonton. Alhamdulillah, gak jadi sendirian. Setidaknya kalau ada hal gaib yang ganggu, saya merasakannya ga sendirian. Anditu semua sirna sudah, karena dua orang tadi cuma nyapa mbak penjaga teater dong, soalnya si mbak teman mereka. Ealah kzl! Di sisi lain saya juga kasian sama mbak penjaganya, dia berdiri di depan teater cuma mau ngerobek tiket saya doang. Mudah-mudahan mbaknya ga dendam ya. Dan jadilah, si Diah sally yang suka nonton ini berada di teater 6, Blok. M Plaza, menonton film Indonesia ter-epik tahun ini.

Awalnya saya sempat bingung, tumben banget bioskop di Plaza Blok.M menayangkan film-film Indonesia, beberapa tahun terakhir Plaza Blok. M sudah tidak menayangkan film-film Indonesia, entah mungkin karena dulu film-film Indonesia belum sebagus dan se-menguntungkan sekarang. Bahkan, sampai akhir tahun kemarin bioskop di Plaza Blok.M belum menayangkan film-film Indonesia, sampai pada akhirnya mereka menayangkan film Indonesia, tepat ketika Dilan 1990 tayang. Mereka tahu sekarang film Indonesia cukup menjanjikan dan mendatangkan uang.
Gila banget sampe segitunya sih! Emang nonton film apa sih?

Kalau beberapa waktu lalu saya membaca buku anak yang membawa saya nostalgia ke masa lalu, kali ini saya menonton film anak yang dipenuhi dengan seni yang menakjubkan. Bercerita tentang anak kembar buncing (perempuan dan laki-laki) Tantri & Tantra yang selalu bermain bersama. Tantra yang jatuh sakit membuat Tantri kehilangan teman bermain. Dari sinilah kisah itu dimulai, Tantra yang sakitnya semakin parah, bahkan beberapa panca inderanya sudah tidak dapat berfungsi dengan baik, yang mengharuskan Tantra di rawat di rumah sakit. Berlatar belakang budaya Bali, Kamila Andini ingin menyampaikan lewat film anak ini tentang bagaimana orang-orang Bali merasakan atau menjalani hidup dengan hal-hal yang terlihat dan tak terlihat.

Jelas sekali mengapa Kamila Andini mengambil latar Bali dalam film ini, Bali memang pas menjadi latar film ini karena memang budaya Bali sangat-sangat kental terlebih bagaimana mereka masih percaya dan terkoneksi dengan leluhur-leluhur mereka. Ketika melihat adegan-adegan dalam film ini, saya pun langsung berpikir betapa edannya Kamila Andini, membuat script hal-hal yang terlihat dan menghubungkannya dengan hal-hal yang tak terlihat atau magis mungkin kata yang tepat, serta merealisasikan hal-hal tersebut dalam sebuah adegan ter-epik tahun ini.

Yang paling saya suka dalam film ini bagaimana Kamila Andini menampilkan sifat anak kembar pada umumnya, yang suka berbagi satu sama lain dan meganalogikannya dengan telur. Ketika makan dengan telur Tantri akan makan putih telur dan kuning telurnya akan diberikan kepada Tantra. Simple but it’s genius & touching.

Awal jadwal tayang 1 Maret, entah kuasa jadwal tayang jadi tanggal 8 Maret


Melalui karyanya ini, Kamila Andini bisa menjadi sineas yang sangat diperhitungkan di tanah air. Film anak yang cukup membuat orang dewasa berpikir jika menontonnya, nampaknya melalui proses yang sangat-sangat panjang, pasalnya film ini dibuat sejak tahun 2011. Paham betul, kenapa film ini diproduksi begitu lama, pastinya film se-epik ini melawati riset yang cukup panjang, terlebih dia harus cuti melahirkan anak kedua. Proses yang panjang ini membuahkan hasil, menyabet penghargaan di Tokyo Filmex 2017 & Best Yout Film di ajang Asia Pasific Screen Award & Jogja-NETPAC Asian Film Festival kategori Asian Features Competititon, serta nominasi di Singapore International & Toronto International Film Festival tahun 2017, yang terbaru Sekala Niskala mendapat nominasi di Berlin International Film Festival 2018 kategori Generation Kplus – Best Film. Patut dibanggakan hasil kerja kerasnya dengan menonton film ini di bioskop.

One of best scene


Seperti Kamila Andini yang membuat Sekala Niskala (The Seen and Unseen) dengan proses yang sangat panjang, saya pun mempunyai proses yang sangat panjang untuk menonton film ini. Dan seperti Kamila Andini yang mendapat penghargaan untuk kerja keras pada film ini, saya pun mendapat kepuasan setelah menonton film ini. Semenjak kemunculan film ini tahun lalu, saya selalu menunggu jadwal releasefilm ini, and finally bisa menonton filmnya di bisokop yang serasa milik sendiri. You know what I mean guys. Hahaha.

Walaupun awal bulan kemarin saya sempat trauma nonton film Indonesia gara-gara nonton film Benyamin, tapi film Sekala Niskala berhasil membuat saya mau balik lagi dan lagi ke bioksop serta terus mendukung film bagus di Indonesia.