Perasaan sedih dan kecewa tak jarang menghampiri kita, bahkan terkadang kita membiarkan perasaan itu terus ada dan mungkin bisa menyeburkan kita pada kehampaan. It’s Okay, honey! Perasaan itu wajar ada dalam diri apalagi perasaan itu muncul karena dipicu oleh perilaku orang terdekat dan kepercayaan kita. Tak apa nikmati saja prosesnya, dan nikmati bagaimana kamu akan menjadi kuat dengan adanya perasaan itu.

Tentunya kita bahagia saat emosi positif menghampiri, terlebih emosi itu hadir karena kerja keras yang telah kita lakukan. Bagaimana dengan emosi negatif seperti marah, sedih dan kecewa? Tentu hidup terasa hambar jika hanya ada emosi positif, bahkan kita tak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi tanpa adanya emosi negatif. Hanya saja, kita perlu mengontrol danmengetahui kapan batasannya mengakhir emosi negatif itu. It’s okay to not be okay, honey. Kamu enggak sendirian, setiap orang pernah mengalami emosi atau perasaan negatif itu.

Teringat ketika di umur 25 tahun, saya mengalami Quarter Life Crisis. Ketika itu saya down sampai tak berdaya, bahkan sampai tak ingin banyak berjumpa oleh kawan-kawan saya. Ketika itu rasanya sedih sekali, saya yang gila sekali kerja bahkan saya sudah mulai cari side job ketika zamannya kuliah dulu tapi kini di umur 25, karir saya hancur bahkan saya menjadi pengangguran karena sengaja resign dari kantor itu. Kantor dimana tempat saya menginvestasikan uang puluhan juta, iya saya bergabung dan menanam saham di perusahaan tersebut. Saya resign, karena kelakuan bejat dari kenalan saya dalam perusahaan. Kelakuan yang lebih pantas dimiliki binatang itu, memang tidak dilakukan pada saya tapi nurani saya ketika itu harus dan segera untuk meninggalkan orang tersebut dan tempat saya bekerja.

Memang dasar bejat, ya susah untuk diubah. Bahkan ketika saya menjual saham yang saya miliki, sahamnya pun anjlok. Dan dia melakukan audit menggunakan auditor kenalannya. Jadilah, saham itu dibuat anjlok. Jelas kecewa ketika itu, kecewa karena merasa ditipu dengan dulu saya menyebutnya teman, namun semenjak hari itu saya hanya menganggapnya sebagai kenalan yang sebenarnya enggak mau kenal sama sekali. Sedih juga melanda ketika itu, sedih karena resign tapi enggak tau harus melamar kemana lagi dan pastinya sedih karena penghasilan saya di kantor itu gaji terbesar yang pernah saya terima selama bertahun-tahun kerja. Marah sudah pasti, marah dengan kelakuannya.

Ketika itu, saya berusaha tegar menghadapi itu semua. Sambil kesana kemari mencari apa yang bisa dibisniskan dengan uang yang saya punya. Sampai pada akhirnya bekerja di salah satu perusahaan yang gajinya jauuh lebih rendah dari sebelumnya. Kebiasaan punya uang bulanan, pas enggak ada uang bulanan jadi stres. Ohya, semenjak menganggur dulu saya sering main ke mall yang berujung pulang bawa belanjaan. Saking stresnya eggak punya uang, sekalian aja abisin itu duit yang ada di rekening. Parahnya lagi ketika itu jobnge-MC juga lagi sepi-sepinya. Ketika itu, saya merasa semakin jauh dan ditinggalkan oleh mimpi-mimpi yang pernah saya rancang.

Tak apa jauh dari segala impian, asal jangan jauh dari Tuhan.

Rasanya, saya semakin bosan tak punya uang dan terus meratap. Saya pun, menyibukkan diri dengan membaca, menulis, menonton dan membuat konten-konten untuk sosial media saya. Biar dompet kere, tapi bisa tetap menghasilkan hal baru walau itu enggak bisa cuan. However, saat itu saya berpikir setiap orang punya timeline sukses masing-masing, begitu pun dengan kegagalan yang dialaminya punya timeline sendiri. So, It’s Okay to Not Be Okay, Honey! Because your timeline of sucess will rising soon. Just, do your best, nikmati fase-fase ketidak okay-an mu, tetapi ingat jangan terlalu jatuh dengan perasaan itu.