“Kita sebagai umat Islam itu harus kembali. Kembali ke Islam yang kafah. Dan dengan jalan ini kita justru bisa menyatukan persepsi. Menunjukan pada dunia luar bahwa Islam Indonesia itu kuat karena bersatu.” Kata Mas Is.

“Kembali kemana, Is, maksudmu?”

“Ya kembali ke al Qur’an dan As-Sunnah dong, Gus,” Jawab Mas Is lagi.

“Lah, memang kita selama ini hidup harus pakai itu. Kita nggak pernah dan nggak boleh ke mana-mana memang. Lah masa nggak ke mana-mana kok disuruh kembali. Rumahku itu ya Al Qur’an dan As-Sunnah. Lah ngapain aku disuruh kembali kalau aku sudah di dalam rumah? Jangan-jangan justru yang mewanti-wanti itu yang sebenarnya belum kembali?”

Blurp pada buku ini yang ditampilkan di instagram penerbit mojok, sungguh menggelitik nurani saya. Dan kebetulan ketika itu sedang ada diskon juga serta saya berusaha agar tetap waras di tengah kondisi pandemi yang semakin mencekam, jadilah saya membeli buku ini bersama buku terbitan mojok yang lain. Sebelumnya, saya memang sudah menikmati beberapa buku terbitan mojok salah satunya, 24 Jam bersama Gaspar. Saya akui tema dari buku-buku terbitan Mojok jauh lebih segar dan berbeda. Lalu, bagaimana dengan buku Islam Kita Nggak Ke mana-mana Kok Disuruh Kembali karya Ahmad Khadafi?

Buku yang Tidak Menceramahi dan Menggurui

Terlihat dari judulnya, memang saya pun sudah menduga bahwa buku ini akan banyak sekali mengajarkan bagaimana semestinya sebagai seorang Islam. Saya pun sesegera mungkin membaca buku, begitu sampai. Saya ingin tahu, apa buku ini sebagus ekspetasi saya atau buku ini akan menceramahi saya tentang bagaimana saya semestinya berperilaku sebagai seorang muslim?

Membaca buku ini setiap lembarnya, seperti membaca novel yang tanpa perlu diserapi makna, kita akan tetap mengerti dan maksudnya. Keseluruhan cerita pada bab buku ini, memang sangat dekat sekali dengan kejadian di Indonesia. Setelah selesai baca buku ini, sontak saya berkata “Wah, ini harus dibaca oleh orang-orang yang ngerasa udah paling Islam banget nih. Orang yang dikit-dikit dibilang bid’ah dan bukan ajaran Nabi”. Saya jadi ingat, dulu ketika saya kuliah di salah satu perguruan tinggi yang memang mayoritas condong ke salah satu kelompok, beberapa kenalan saya bilang “Oh, lo kuliah di sana? Paling anti dong sama bid’ah?”. Heran saya dibuatnya, saya kan Cuma kuliah ya di sana bahkan di sana kami enggak diajarkan harus follow kelompok mereka. Bahkan, dosen-dosennya pun tak ingin ikut campur masalah keyakinan mahasiswa/i-nya.

Banyak sekali pesan moral yang ada dalam buku ini. Buku yang ditulis dengan gaya penulisan khotbah dengan cara bercerita ini ditulis dengan sangat apik oleh Ahmad Khadafi. Saya suka sekali gaya penulisan dan penyampaian Ahmad Khadafi melalui tokoh-tokoh yang dibuatnya, Gus Mut, Kiai Kholil & Fanshuri. Sang penulis membuktikan bahwa jika ingin menceramahi seeorang tidak perlu pakai toa, bahkan tidak perlu dengan nada tinggi dan menggebu-gebu. Gus Mut dan Kiai Kholil, jika mereka nyata di dunia ini mungkin mereka yang ceramahnya saya dengar dan buru sampai sekarang.

Bab Paling Menyentil

Dari semua bab pada buku ini, yang pali menyentil dan menohok diri saya adalah bab menghargai keberagaman kok pilih-pilih masjid? Pada bab ini menceritakan seseorang yang baru pindah dari ibu kota dan mencari kost-an dekat dengan masjid, namun ternyata kost-an yang sesuai keinginannya dekat dekat masjid yang diisi dengan orang-orang yang suka membid’ah-bid’ah-kan orang.

Saya langsung teringat beberapa tahun lalu, ketika saya tidak bisa pergi ke masjid tempat biasa saya ‘itikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Tapi, ketika itu saya ingin tetap bisa ‘itikaf di masjid. Jadilah, saya menyambangi masjid yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah. Ketika sampai di masjid itu, ternyata pintu gerbang masjid tertutup dan setelah beberapa menit akhirnya ada seseorang yang membuka gerbang tersebut. Jujur, saya baru pertama kali menyambangi masjid itu, bahkan saya bingung harus masuk ke tempat solatnya lewat mana. Sampai akhirnya saya duduk di dalam masjid, saya baru tersadar bahwa dari gerbang pintu sampai menuju dalam masjid, ada beberpaa pasang mata yang memandang sinis, ketika itu juga saya berpikir mungkin mata mereka memandang saya yang bukan dari kelompok mereka yang berpakaian full tertutup sedangkan saya berbalut mukena di bagian atas dan memakai jeans. Ketika sahur tiba, saya pulang ke rumah dan cerita kepada orang tua saya. Mereka pun menyarankan, untuk tetap kesana jika ingin ‘itikaf, sedangkan saya emoh balik lagi karena khawatir mata-matu itu akan melihat penuh sindiran.

Tersadar bahwa kita ogah berhubungan dengan orang yang non tolerance karena kita orang penuh toleransi, persis pada bab ini! Ketika itu Gus Mut menasehati orang yang penuh toleransi tetapi tidak mau nge-kost di dekat masjid yang suka membid’ah-bid’ah-kan orang lain. Kalau penuh toleransi, kenapa harus pilih-pilih masjid? Kalau mereka memaksa dan keras dengan orang yang tidak se-ajaran dengan mereka, masa iya kita juga harus membalasnya dengan cara yang sama atau malah menjauhinya. Apa yang kita tahu soal hal-hal seperti itu juga tidak bisa membuat kita jadi lebih benar dari mereka kalau kita melakukan hal yang selama ini lantang kita lawan,” kata Gus Mut.

Ga ada yang namanya kembali ke Islam yang kaffah (sempurna atau keseluruhan) yang ada masuk Islam dengan sempurna. Teringat dulu, guru saya selalu bilang masuklah Islam secara kaffah. Bahkan, saya baru mengerti arti kalimat itu beberapa terakhir. Jika, kita masuk Islam secara keseluruhan bahkan sampai jiwa dan raga mungkin itu pula yang akan membawa kita pada kebahagiaan akhirat. Titik. Tanpa butuh perdebatan. Itu pula yang terjadi pada judul buku ini, awalnya saya mempertanyakan kenapa pada judul buku ini tidak ada tanda tanya? Ya, karena memang tulisan-tulisan dalam buku ini tidak untuk diperdebatkan dan memang Islam itu enggak kemana-mana, tapi terkadang orangnya yang suka nyasar kejauhan.