Unfinished Business tuh?

Gimana maksudnya?

Iya, perkara yang lo ceritain itu adalah bagian dari unfinished business. Ya, sebisa mungkin diubah dari unfinished business jadi finished business.

Kira-kira begitulah percakapan antar 2 insan yang mengambil intisari setelah asyik curhat berjam-jam. Sebelum membahas apa itu unfinished business, saya Cuma mau ngasih tahu bahwa tulisan ini akan ditulis dengan Bahasa Indonesia, saya hanya bingung bagaimana memberikan judul Bahasa Indonesia yang pas, jadilah lebih enak didengar menurut saya judul diatas. Iya, saya kalau nulis suka baca ulang bahasanya kira-kira enak gak ya kalau diucapin. Maklum biasa nulis skrip buat podcast sendiri. Hehe.

Apa itu Unfinished Business?

Sebenernya apa sih itu Unfinished Business?

Unfinished = Tidak selesai Business = Bisnis/Urusan

Jadi kalau diartikan dalam Bahasa Indonesia, Unfinished Business adalah urusan yang tidak/belum selesai. Namun, permasalahan/urusan yang bagaimana yang belum selesai? Bagaimana ciri-ciri Unfinished Business? Apakah Unfinished Business itu berbahaya? Siapa saja yang bisa terkena unfinished business? Kalau berbahaya lalu bagaimana cara kita memusnahkannya?

Okay sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, sebelumnya saya ingin bercerita terlebih dahulu. Beberapa waktu lalu saya melempar pertanyaan di instagram story saya seperti ini “Please share your unfinished business and how you handle it?” Dan beberapa cerita masuk ke kotak pesan Instagram saya, cerita-ceritanya beragam, ada yang setelah saya baca kok lucu, menggemaskan secara bersamaan ya, tapi mayoritas ceritanya bikin pedih mata dan hati. Haduh kenapa sih mata dan hati itu suka banget deket-deket hal-hal yang sedih. Ckckck.

Dari situ, saya memikirkan seseorang yang cocok jadi jodoh teman ngobrol saya di Podcast yang saya kelola, Podcast Cuma Ngomong. Akhirnya, muncul satu nama yang memang cocok dan mengerti sekali, atau mungkin boleh saya bilang dia ini bersahabat dengan Unfinished Business. Akhirnya saya mengundang kerabat saya, Tiwi. Melihat dari background nya yang mengenyam S1 Psikologi di UGM, membuat saya yakin bahwa Unfinished Business ini bisa dapat pencerahan dari dia. Karena Unfinished Business ini bisa menggerogoti diri jika nempel lama-lama di diri kita.

Ciri-ciri Unfinished Business

Kalau dari segi Psikologi kata Tiwi, Unfinished Business adalah jika seseorang ga nyaman dengan sebuah peristiwa yang terjadi di masa lalu dan ketika seseorang itu teringat kembali peristiwa tersebut muncul dengan perasaan-perasaan negatif seperti kesal, marah, menyesal & malu. Misal, ada seorang perempuan yang 7 tahun lalu sebenarnya sayang sekali sama si cowok yang memang sudah bilang kalau dia suka dengan si perempuan. Ketika itu si perempuan sebenarnya sayang juga, namun karena beberapa hal si perempuan menyimpan perasaannya sampai pada akhirnya si cowok sudah jarang menghubunginya, eh ternyata setelah berselancar di social media menemukan foto-fotonya sedang acara lamaran. Sampai bertahun-tahun si perempuan menyimpan perasaannya dengan penuh penyesalan. Dan sampai sekarang, si perempuan ingin sekali pasangannya seperti cowok itu secara fisik, ga ganteng, tapi humoris, manis dan ngangenin. Aduhai. Hahaha. Bahkan sampai bertahun-tahun si perempuan tidak pernah mendengarkan lagu Raisa, iya karena si cowok itu suka dan ngefans banget sama Raisa. Sampai-sampai setiap ada lagu Raisa di radio langsung di ganti ke channel radio lain, kalau lagi karaoke ada lagu Raisa dia langsung keluar room dan balik lagi 5 menit kemudian. Padahal, Raisa ga pernah buat salah sama perempuan itu, kesalahan Raisa satu kenapa cantik banget sampai-sampai semua cowok tanpa terkecuali suka banget sama dia. Hahaha.

Unfinished Business berbahaya ga sih?

Bayangin deh, 7 tahun ga dengerin lagu Raisa, 7 tahun nahan rasa suka sama itu cowok, 7 tahun menyesal dan berandai-andai “Andai ketika itu si perempuan bilang juga kalau dia suka, bisa jadi sekarang sudah bersatu dan bahagia sama si cowok”. Jadi, sebenarnya Unfinished Business ini adalah hal yang sangat bahaya. Iya, BAHAYA!. Bahaya kalau tidak langsung diselesaikan. Menurutmu berapa kali dalam 7 tahun si perempuan mengingat si cowok? Ga tau kan? Iya sama saya juga ga tau! Yang pasti sepertinya minimal sebulan sekali inget sama si cowok itu. Coba 1 bulan x 7 tahun berapa jadi? Saya serahkan jawabannya sama kamu ya, saya suka bingung kalau berurusan sama angka, jangan hitung-hitungan gini, belanja di indomaret aja kembalinya saya hitung ulang pakai kalkulator HP. Hehe.

How to handle your ex Unfinished Business

Lalu, kalau unfinished business berhaya, bagaimana caranya kita mengusir unfinished business dalam kehidupan? Jawabannya simple sekali, ya  namanya masalah yang belum selesai ya jadi selesaikanlah. Namun, seringkali praktiknya itu yang sulit direalisasikan bukan? Ya, ga apa namanya menyelesaikan sesuatu kan memang butuh proses. Hehe.

Tapi di Episode 2, season 2 Podcast Cuma Ngomong, Tiwi bilang bahwa menyelesaikan Unfinished Business dengan 2 cara yaitu:

  1. Diselesaikan secara langsung, artinya mendatangi orangnya langsung, misal, dari contoh di atas si perempuan mendatangi si cowok untuk menyelesaikannya.
  2. Selesaikan dengan diri sendiri

Hanya saja agar unfinished business ini tidak memiliki anak alias menambah unfinished business lainnya, jadi kamu sebaiknya menakar dirimu sendiri. Mari kita ambil dari kasus di atas, sumpama si perempuan mau menyelesaikan maslaahnya dengan cara nomor 1, maka harus bisa memprediksi masalah ini akan selesai atau akan menambah masalah lagi. Kalau si perempuan merasa mampu bisa menyelesaikan dalam artian ya setelah dia mengungkapkan perasaannya yang 7 tahun lalu itu Cuma mau sekedar bilang biar lebih lega dan ga tergoda sama si cowok silahkan selesaikan masalah itu dengan orangnya langsung. Kalau saya jadi si perempuan, saya akan menghindari menyelesaikan masalah langsung kepada orangnya. Yaiyalah, itu suami orang trus kalau saya bilang perasaan saya dan rumah tangga mereka lagi agak goyang, waduh enggak deh kak, bisa jadi kerabatnya Yeo Da-Kyung di The World of Couple Married. Hahaha.

Lalu, bagaimana kalau menyelesaikan masalah dengan diri sendiri? You’ve to accept that. Mulai berdamai dengan kejadian itu dan kamu bisa mengambil banyak sekali pelajaran yang bisa jadi mendewasakan kamu. Terkadang memang Tuhan mengirimkan seseorang untuk mengobrak abrik jiwa, raga kita karena Tuhan tahu kita kuat dan mampu.Orang yang kuat mengatasi masalah dengan segera bukan dengan melupakan. Ingat MELUPAKAN masalah itu bukan menyelesaikan masalah. Bukan masalahnya dilupakan tapi kita harus mengelola perasaan negatif dari masalah di masa lalu menjadi menjadi perasaan positif di masa sekarang. Mengubah duka jadi tawa. Dan selalu percaya setelah penyesalan pasti akan ada pelajaran yang didapat.

Unfinished Business bisa diselesaikan, namun kejadiannya akan selalu ada di memori kita. Jadi, mari ubah respon & perasaan kita terhadap unfinished business karena itu yang membuat unfinished business menjadi finished business.

Tulisan ini dibuat sebagai selebrasi saya karena sudah bisa menyelesaikan unfinished business selama bertahun-tahun. Saya ga perlu beritahu kamu apa unfinished business-nya, yang jelas cerita di atas bukan cerita saya yaa. Iya, Cuma ngasih tahu saja, takut kamu berasumsi yang enggak-enggak. Hahaha.

Saya merasakan sekali menunda-nunda menyelesaikan unfinished business itu sesat. Jadi, sebisa mungkin selesaikan segera. Karena kita manusia biasa, pasti ada saja permasalahan yang terjadi. Kalaupun kamu sekarang sedang mengalami unfinished business dalam hal apapun, percintaan, karir, keluarga atau pun persahabatan, sekali lagi saya ingatkan segera selesaikan jangan ditunda-tunda. Jadi, kapan kamu mau menyelesaikan unfinished business mu?