Ting.

Ting.

Ting.

Bunyi pesan baru dari iMessage-ku. Dan ternyata Adara lagi-lagi memborbardirku dengan pesan-pesan chat “P”. Aku suka heran dengan Adara, kenapa sering sekali memulai chat dengan kata “P”. Dulu aku pernah tanya kepadanya, alasan dia membordariku pesan-pesan yang harusnya bisa dia kirim cukup sekali dan alasan dia kenapa mengawali pesan dengan “P” sudah jelas-jelas namaku berawalan huruf “Y”. Dan dengan enteng dia pun menjawab “Ya ga apa, kirim pesan kan gratis, jadi sayang aja kalau kirimnya cuma sekali”. Dasar anak itu, dulu aku menanyakan itu karena aku kesal sekali dia membordir pesan-pesan itu ketika aku sedang meeting dengan salah satu Expat klienku dan bodohnya aku lupa sekali men-silent HP ku.

Aku pun tak membalas langsung pesan Adara. Biasanya kalau dia mengirimi “P” itu tandanya dia mau cerita hanya saja engga sekarang. Lagi pula ini jam kerja, Adara gila cuan dan kerja, engga akan mungkin menyita waktu kerjanya. Kalau pun ada hal di luar kerjaan yang menurut dia penting, biasanya dia akan menggunakan waktu makan siangnya.

Adara salah satu temanku yang paling tahu kisah-kisah kehidupanku. Sebagai anak introvert yang cukup sulit membuka diri, aku memilih Adara untuk menjadi teman cerita ku di kala bahagia, sedih, bingung, marah dan bahkan aku seringkali bertanya untuk keputusan-keputusan yang akan kuambil. Adara juga orang yang paling rela di ganggu kapanpun, ya kecuali jam kerja. Kata-kata Adara yang sampai sekarang membuatku terenyuh salah satunya “Babe, lo kan tahu pintu rumah gue selalu terbuka semalam apapun lo datang dan lo selalu punya gue untuk cerita semua kegundahan lo”. Aku memeluk erat Adara ketika itu, aku yang waktu itu terlalu kaget dengan pernyataan Cave mengasingkan diri selama tiga bulan. Mengasingkan diri dari hingar bingar ibukota dan seisinya.

Ting.

Ting.

Pesan baru dari Adara muncul di layar HP ku.

“Babe”

Bisa gue telepon jam berapa?”

Oh, ternyata sudah waktunya makan siang pantas saja dia mulai chat-ku kembali.

“Hmm. Agak sore kali ya, hari ini kerjaan numpuk nih. Jam 6 sore ya”.

“Dasar budak corporate”

“Getol banget nyari cuan”

“Yaudah, jam 6 ya”

“Awas lho enggak diangkat”

“Iya BAWEL!”

***

Incoming Call

Adara

Hallo, Dar“.

“Masih kerja lo?”

“Masih nih. But’ it’s okay kalau lo mau cerita. Gue takut lo terjun dari rooftop kantor lo kalau ga gue ladenin”.

“Sial lo! Gue kesel nih sama si Botak. Masa tadi pagi gue liat eksplor IG gue ada muncul video Tik Tok cewek joget-joget sexy banget yang di-like sama si Botak. Dasar ya, otaknya mesum banget”.

“Yaampun, gue pikir lo mau cerita apaan, Dar. Yaelah namanya juga cowok wajar kali sukanya ngeliatin begituan”

“Ish, baru kali ini gue punya pacar nge-like postingan begituan. Eh apa pacar-pacar gue yang kemarin juga gitu ya, gue aja yang engga tau”

Haha. Iya mungkin, Dar. Terus lo udah bilang sama si Botak?

“Belom, gue kan lagi ngambek ceritanya. Saking keselnya ya, gue report & block aja tuh akun si artis Tik Tok. Awas ya kalau ketemu langsung, gue sleding tuh kakinya”.

“Yah, kalau elo report & block elo ga bisa tahu dong si Botak nge-like foto dia lagi apa enggak. Haha. Lagian udah sih, malah aneh kan kalau cowok lo nge-like fotonya Mario Maurer.  Masa lo cemburu sama artis Tik Tok yang kemungkinannya cuma 0.05% si Botak bisa jadi sama dia dan meninggalkan lo”.

“Iya, juga sih ya. Lagi pula itu artis Tik Tok dari Thailand, bisa bahasa Thailand aja engga tuh si Botak! Gue baru tahu nih, rasanya cemburu sama artis. Jadi inget lo dendam bertahun-tahun sama Raisa, bahkan lo denger lagu Raisa di radio aja lo ganti”.

Salah satu hal terbodoh yang pernah aku lakukan adalah membenci Raisa selama lima tahun. Aku benci sekali gara-gara Cave suka sekali dengan dengan Raisa bahkan kalau cerita tentang Raisa matanya selalu berbinar-binar, lebih sebalnya lagi dia sering sekali reply tweet-nya. Aku dulu juga pernah ngambek gara-gara dia posting fot Raisa di path. Raisa Andriana yang selama kemunculannya di dunia tarik suara sudah menjadi dambaan para pria. Aku ingat sekali kejadian di tahun 2013 itu, bahkan sampai aku putus dengan Cave pun aku belum bisa memaafkan Raisa. Pertama kali aku mulai mendengarkan lagi-lagu Raisa, ketika Milo mengajakku ke sebuah acara musik yang mana salah satu line up-nya adalah Raisa, ketika itu Milo sedang meliput acara tersebut, dia mengajakku karena ada Tulis sebagai salah satu line up nya juga. Asyiknya, menonton bersama Milo, aku tak perlu berdesakan dengan penonton lain karena Milo punya akses khusus di media area.

Aku suka ketawa sendiri, jika mengingat kelakuanku kala itu. Yaampun bisa-bisanya benci sama orang yang jelas-jelas dia kenal kita aja engga. Dosaku banyak juga ya gara-gara benci Raisa bertahun-tahun. Harusnya ketika itu aku memaklumi saja tingkah Cave yang suka dengan idolanya itu. Dan menurutku yang dilakukan Cave ketika itu masih dalam batas wajar, lalu kenapa aku cemburu sekali ya ketika itu dengan Raisa. Kalau dibilang cantik, jelas Raisa lebih cantik kemana-mana dari aku, kalau dibilang kaya juga jelas Raisa lebih kaya dan yang jelas kalau Cave suka dnegan Raisa toh, Raisanya belum tentu mau sama dia kan ya. Haduh, bodoh sekali aku ini.

“Kok lo jadi bahas gue sih, Dar. Sial lo. Yaudah lo jangan ngikutin jeleknya gue waktu itu. Masa gara-gara cemburu sama idolanya si Botak lo jadi dendam kesumet sama dia. Wah jangan sampai, Dar bisa-bisa dosa lo setinggi puncak Himalaya dan dia makin dekat dengan surga Firdaus”

“Berarti waktu lo kesel gara-gara si Cave mengidolakan Raisa, lo makin deket sama neraka Jahanam ya. Pantesan lo jadi sering solat taubat”.

“ADARA! Jahat banget sih mulutnya”.

“Haha abis lo duluan yang ngomongnya gitu”.

“Eh tapi Cave lebih berkelas lho mengidolakan Raisa yang sudah terbukti skill nya di tanah air. Daripada cowok lo idolanya artis Tik Tok Thailand, yang skill jogetnya juga so-so”.

“Duileh, baru disenggol dikit aja langsung ngebelain Cave. Inget woi, Cave udah punya 2 buntut. Haha”.

“Heh! Udah ah, gue mau lanjut kerja lagi. Jadi, males gue lo bahas-bahas Cave!”

“Haha. Yaudah kerja gih sana biar banyak cuan. Oiya, kerjanya yang fokus ya, jangan keingetan suami orang. Lama-lama jadi pelakor lo!”

“Kurang ajar lo ya.”