Asyik sekali selama di rumah aku tak perlu bersusah payah mengantre untuk makan tiga kali sehari. Selama di boarding school hidupku ditentukan oleh jaros (bel raksasa). Jaros itulah yang menentukan kapan waktu makan malam, solat, istirahat, pergantian pelajaran dan kapan sudah boleh tidur malam. Semua kehiudan di boarding school ditentukan oleh benda yang bernama jaros. Jika jaros waktu makan tiba, tak sedikit dari murid-murid berlarian sambil mengangkat rok panjang mereka, biasanya yang paling rajin lari ketika jaros makan adalah para junior kelas satu, mungkin karena takut kehabisan lauk kali ya, mangkanya mereka lari atau karena mereka sudah lapar sekali. Aku termasuk orang yang santai, jadi aku agak heran saja kenapa orang-orang itu suka berlarian melakukan sesuatu seakan-akan hari kiamat berada persis di belakang mereka. Mungkin karena aku ga begitu suka makan dan biasanya kalau lauk di dapur habis ya apa boleh buat terpaksa harus beli di kantin.

Dulu aku dan teman-temanku pernah ketika waktu makan tiba dan kami harus meninggalkan dapur karena ketika makan kami harus memilah milih seperti orang cari kutu di rambut panjag, bedanya kami mencari gabah pada nasi yang kami makan, aku juga heran kenapa orang dapur memasak nasi yang gabahnya masih banyak sekali, kebayangkan kami harus makan pelan-pelan. Belum lagi pernah juga aku menemukan ulat di sayur kacang panjang. Belum lagi jika kau berpikir bagaimana orang-orang di dapur itu memasak, apakah tangannya bersih dan steril? Kalau dilihat dari tempat masaknya sih sepertinya jauh dari kata steril, tapi walau begitu jarang sekali aku sakit ketika di boarding school, mungkin dalam setahun aku paling banyak sakit cuma tiga kali, sampai jarangnya sakit aku pernah berpura-pura sakit hanya untuk rebahan di kamar saja. Sayangnya, trik berpura-pura sakit tak selalu mulus karena untuk mendapatkan izin agar seharian tak beraktifitas sangat sulit, izin dari bagian kesehatan sulit sekali.

Bahkan dulu temanku sampai melakukan hal yang tak pernah terpikirkan olehku, dia membuat dirinya mual sehingga muntah-muntah dan tak sering ada juga yang berpura-pura sakit delepen atau perut sakit karena menstruasi datang, sudah bukan rahasia lagi kalau menstruasi datang memang sakit sekali perutnya, bahkan bisa kram tapi tak sedikit bagian kesehatan bisa mengenali gejalanya, bahkan gejalanya tidak demam dan hanya terlihat lemas saja. Saking susahnya mendapatkan surat izin sakit, ketika aku sakit benaran dan demam tinggi, ah sesungguhnya kau benci sekali ketika sakit karena aku bawel sekali ketika sakit, aku hanya mendapatkan izin tidak mengikuti dua dari enam mata pelajaran, akhirnya karena aku tak kuat bersiap diri mengikuti pelajaran ketiga sampai keenam aku pun bablas melanjutkan tidur dan istirahat. Ketika itu yang ada di otakku ya, tak apalah mau mereka menghukumku karena tak mengikuti sisa pelajaran juga tak apa, yang terpenting aku istirahat dan sehat dulu, ingat sekali ketika itu juniorku yang sedang bertugas menjaga keamaan setiap kamar membangunkanku bahkan untuk membuka mata saja aku tak bisa saking panasnya badanku.

Kehidupan di boarding school memang sekeras itu, kita dituntut untuk mandiri. Karenanya aku dan teman-temanku sangat akrab sekali sampai saat ini, walau baru beberapa tahun bersama tapi kami seperti keluarga sendiri karena 1×24 jam kami selalu bersama, susah senang pun bersama. Tak sedikit juga karena terlalu dekat ada diantara junior dan senior ku yang harus dikeluarkan karena mereka terlalu dekat, konon katanya ada beberapa orang yang memergoki mereka berciuman di tempat gelap. Boarding school yang diisi oleh seluruh murid dan pengajar perempuan, dan hanya pemimpin dan beberapa pengajar senior yang bisa dihitung pakai jari yang laki-lakinya. Jelas berciuman antar sesama jenis merupakan pelanggaran terbesar di boarding school. Kemungkinan itu bisa saja terjadi, mengingat semua diantara kita adalah perempuan dan cukup sering bersama. Beberapa kawan ku ketika tahu hal itu bertanya “Kok bisa ya mereka melakukan itu di tempat suci (boarding school) tega sekali mereka!”. Aku yang ketika itu tidak mau ikut campur hal-hal yang menurutku tabu dan lagi pula aku tak tau harus bagaimana bereaksi, diam tak menggubris pertanyaan retorik temanku itu.

Semenjak kejadian itu bagian keamanan memperketat jam malam, tak boleh lagi ada junior dan senior yang berduaan saat malam tiba walau itu niat yang baik, misal si junior yang ingin meminta penjelasan pada pelajaran yang tak dimengerti kepada si senior atau bahkan hanya untuk sekedar bertukar cerita bahagia dan keluh kesah. Jika bagian keamanan menemukan junior dan senior yang berduaan maka bagian keamanaan akan meneriaki mereka berdua dan menyuruh mereka untuk tidur. Aku pribadi bukan ornag suka berkumpul dengan senior dan junior, aku lebih suka curhat bersama teman-temanku atau sekedar cerita hal-hal lucu bersama mereka, kalau pun ada pelajaran yang tak ku ketahui aku lebih suka meminta diajarkan langsung oleh ustdzah (sebutan guru/pengajar perempuan).