Kadang aku benci sekali dengna diriku yang suka tiba-tiba keingat seseorang, tiba-tiba keingat tentang momen sedih, terharu yang mana seharusnya tidak muncul kenangan itu sekarang. Kadang mood ku suka langsung berubah jika tetiba keingat momen yang tak diinginkan, kadang juga aku harus menangis mengingat kenangan-kenangan bersama teman-temanku di boarding school, seperti saat ini alunan lagu di playlist-ku memutarkan Jangan Menyerah yang dinyanyikan D-Masive, akuingat betul lagu ini yang digunakan sebagai lagu pembukaan acara pensiku ketika di boarding school dan kenangan bersama teman-temanku pun kembali memenuhi ingatanku.

Ketika puber menghampiri sekitar kelas tiga SMP di boarding school, mereka bilang masa-masa puber itu adalah masa bandel-bandelnya murid-murid di boarding school, tapi kenyataannya memang begitu. Aku ingat betul bagaimana dulu aku dan teman-teman sering dihukum karena kenalakan remaja kita. Kenalakan remaja anak-anak di boarding school tidak seperti anak-anak remaja di sekolah umum. Paling banter kenakalan di boarding school yang pura-pura sakit, ga mau belajar, terlalu sering tidur dan bikin rusuh satu pondok.

Lucunya waktu itu, di saat kami sudah selesai ujian di malam harinya kami merasa sudah bebas tak ada beban lagi, tapi ketika itu kami tak boleh berisik karena senior kami di lantai gedung atas sedang menjalankan ujian. Para senior menjalankan ujian di malam hari karena ketika para junior ujian di siang harinya, mereka harus menjaga keamanan dan kebersihan di masing-masing kamar boarding school. Tapi ketika itu kami para junior yang tak tahu harus melakukan apalagi dan belajar apalagi kami pun menghibur diri dengan bercerita satu sama lain. Disebrang sana aku mendengar segerombolan temanku bercerita hal-hal ghaib yang cukup menyeramkan, aku pun mengasingkan diri, aku tak tertarik mendengarkan cerita itu.

Aku keluar dari kelas dan meninggalkan gerombolan orang yang bercerita entah itu benar atau tidak, tapi seingatku gerombolan itu makin diminati dengan teman-temanku yang lain. Mungkin ada sekitar 20 orang yang bergerombol cerita dari total jumlah kami satu angkatan ada 210 orang. Aku pun menyambangi temanku yang lainnya dan bertukar cerita tentang kejadian-kajadian saat ujian berlangsung, dimulai dari pengawas yang iseng menarik tali BH belakang karena geram melihat muridnya yang tak memakai pakaian dalam sehingga terlihat jelas BH yang digunakannya berwarna merah mentereng. Belum lagi pengawas ujian yang ditegur oleh pengawas umum karena berbincang dengan pengawas lain. Atau sekedar membahas soal yang kita pelajari bersama tetapi lupa jawabannya.

Aaaahh! Woaahhhh!

Aku menoleh kearah datangnya suara, ternyata segerombolan yang bercerita hal ghaib tadi membuat kegaduhan, sampai seluruh gedung tiga lantai itu bergemuruh dan menganggu jalannya ujian para senior, bahkan dari kelas lainpun mencari dan memandangi arah munculnya jeritan itu. Tak lama kemudian kami satu angkatan dikumpulkan, karena para pengajar tak berhasil menemukan siapa yang membuat jeritan sekeras itu dan membuat gaduh seluruh boarding school. Akhirnya, pengajar kami yang terkenal dengan kesabarannya dan baru kali itu kami melihat beliau semarah itu.

“Sekarang berdiri siapa yang teriak dan membuat kegaduhan. Berdiri. Jika tidak satu angkatan akan saya pulangkan ke rumah”

Aku sebenarnya tahu beliau hanya menggertak karena tak ada satu orang pun yang mengakui kesalahan tersebut. Dan aku pun bisa menebak siapa yang membuat kegaduhan itu, tapi aku ingin tahu siapa diantara mereka yang berani mengakui kesalahannya. Dan aku juga tak mau sok-sokan menjadi pahlawan berdiri dan mengakui kalau yang teriak aku, itu sih sama saja minta dikeluarin.

Akhirnya, ada tiga orang yang mengaku mereka yang mebuat kegaduhan. Tetapi dalam hati aku tersenyum sinis, bagaimana bisa teman-temanku yang dari kelas atas alias yang selalu memiliki nilai bagus yang melakukan itu dengan sengaja mereka tak mengakui kalau mereka juga terlibat membuat kegaduhan. Ternyata memiliki otak yang pintar saja tak cukup untuk mempunyai moral yang baik juga. Pantas banyak juga aku menemukan wakil rakyat yang title-nya mentereng tapi moralnya zonk.