Namaku Athira Ardillah, nama itu aku dapatkan dari ummi dan abi. Kata mereka namaku itu diambil dari bahasa Arab yang artinya yang mewangi dan ridhai Allah. Kata ummi nama itu adalah doa jadi ummi meminta guru ngajinya untuk memberikan nama bayi perempuan yang bagus. Dari kecil aku sudah disuruh ummi mengaji dekat rumah, kata ummi biar aku bisa baca ayat Al Quran dengan baik karena kalau bacaannya baik maka solatnya juga diterima Allah. Mangkanya tak heran kalau sekarang aku tinggal disebuah boarding school untuk belajar agama dan ayat-ayat Allah.

Aku diasingkan ke boarding school daerah Jawa Timur sejak lulus sekolah dasar, aku sebenarnya kurang suka menggunakan kata mengasingkan, tapi kakak-kakakku selalu menggunakan kata itu kepadaku. Ummi pernah kalau ummi dan abi sayang sekali sama aku mangkanya aku di sekolahkan jauh dari hiruk pikuk ibu kota. Sebenarnya, ummi dan abi juga memaksa kakak-kakak ku untuk menjalani studinya di boarding school a.k.a pesantren tapi ternyata kakak-kakaku menolaknya, sedangkan aku mengiyakan untuk sekolah di pesantren karena aku pikir konsep pesantrennya sama dengan konsep pesantren kilat di SD ku dulu. Tapi aku tak menyesal karena sudah sejauh ini aku mendapatkan banyak sekali pelajaran hidup. Sekarang aku sudah duduk di bangku SMA sudah punya banyak junior, enak memang jadi senior punya kuasa namun tak sering juga diserang oleh senior yang lebih senior dari aku. Iya, aku masih punya banyak senior maklum aku baru kelas satu SMA sekarang.

Tidaks eperti pesantren lainnya yang belajar kitab kuning atau hafalan ayat Al Quran, pesantren ku lebih mengajarkan ajaran agama, bahasa Arab dan moral hidup. Sejak kelas satu SMP kami dipaksa untuk berdialog dalam bahasa Arab, walaupun bahasa Arabnya gado-gado alias campuran bahasa Indonesia dan tak sesuai nahwu wal shorf (kalau dalam bahasa Inggris, Grammar) tapi yang penting ngomong ada bahasa Arabnya, sambil belajar terus mengenai vocabulries yang lainnya. Kalau masih kelas satu SMP masih dimaklumi menggunakan bahasa Arab yang dicampur bahasa Indonesia, namun jika sudah kelas di atasnya jangan harap bisa lolos dari jeritan bagian bahasa (yang mengawasi dan menghukum murid-murid jika menggunakan bahasa Indonesia).

Peraturan di pesantren ku ketat sekali, berbicara bahasa Indonesia saja tak boleh apalagi berbicara menggunakan bahasa daerah. Dulu aku keceplosan ngomong “gue” dan berakhir namaku dipanggil ke bagian bahasa seorang diri. Biasanya setelah solat maghrib berjamaah di masjid itu adalah momen yang sungguh mendebarkan bagi setiap murid, karena seringkali pengumuman-pengumuman itu adalah panggilan untuk orang-orang yang akan dihukum dan yang lebih mengesalkan lagi terkadang orang yang mengumumkannya terlalu mendramatisir misal waktu itu aku pernah dipanggil dengan pengumuman seperti ini;

“Arraja’ bil khudur ila ukhtina algholiah, wal hanunah wal mahbubah wa hiya Athira Ardillah minal fasl tsalist C mim mabna Gaza hujroh raabiah min konsulatil Jakarta ila qismil lughoh ba’da maghrib tamaman”

“diharapkan kedatangannya kakak kita, yang tercinta dan tersayang, Athira Ardillah dari kelas 3C, yang tinggal di kamar 4 dari gedung Gaza dan berasal dari Jakarta ke bagian bahasa setelah solat maghrib”

Biasanya kalau dipanggil seperti ini, keluar dari ruangan bagian bahasa akan menggunakan warna kerudung ungu dan orange. Di boarding school diajarkan kesederhanaan karenanya murid-murid hanya boleh menggunakan kerudung berwarna putih. Jadi, terlihat jelas orang-orang yang sedang mendapat hukuman.

Biasanya orang-orang yang dipanggil ke bagian bahasa tentu akan diceramahi bahkan biasanya diceramahi menggunakan nada tinggi. Yang paling mebuatku heran adalah mereka menceramahi dengan bahasa Arab yang fasih sampai-sampai aku hanya paham dibeberapa kata saja. Waktu itu aku dimarahi sampai 30 menit tapi aku tak ingat semua apa yang dia bicarakan, aku hanya ingat salah satu mereka berbicara yang jika diartikan adalah “Bahasa itu seperti mahkota, jika tak menggunakannya sama saja seperti mahkotamu jatuh dan diinjak-injak. Dan sampai kapankun juga bahasa itu harus melekat bukan hanya di kepala tapi di jiwa, raga dan relung hati terdalam”. Tapi kalau boleh jujur seharusnya para senior itu menceramahi orang dnegan bahasa Arab yang mudah mengerti biar aku dan orang-orang yang diceremahi mengerti maksudnya dan tak akan mengulanginya lagi, jadi bukan salahku kalau selama 30 menit diceremahi, selama 25 menit aku bernyanyi dalam hati dan hanya 5 menit mendengarkan omongan mereka. Eh, nanti aku sambung lagi ya. Sekarang aku sedang liburan di rumah selama satu bulan, liburan menjelang puasa. Aku dipanggil ummi, aku tak bisa mendengar ucapannya dengan jelas tapi sepertinya ummi menyuruhku makan siang karena sudah hamir pukul satu lewat tiga puluh menit. Nanti aku akan cerita lagi bagaimana kehidupanku di pesantren, kamu bisa terbahak atau mengernyitkan dahi secara bersamaan. Mungkin.