“Aduh yang mau nikah bulan depan, auranya makin terpancar aja nih. Semoga lancar ya sampai hari H. Aamiin.

Ayuk  juga semoga disegerakan ya, sama yang botak kemarin gue setuju banget tuh.

Haha doain deh yaa

Hallo, kakak dokter yampun lelah banget nih kayanya jaga malam terus yaa. Eh denger-denger abis beli rumah baru nih, asyik deh gaji dokter gede banget ya emang. Yampun tau gitu gue jadi dokter deh, tapi kayanya otak gue ga mampu deh. Haha.

Gelak tawa melihat layar TV yang menyetel rekaman-rekaman video saat pertemuan keluarga, menjadi refleksi tersendiri untukku. Entah malam ini terasa begitu sendu, mungkin karena hujan turun dari tadi malam dan esok weekend membuat matu tak mau juga terlelap padahal ini sudah pukul satu dini hari. Aku pun memencet tombol remote dan mencari acara-acara yang bisa menemaniku menghabisi waktu hingga terlelap. Aku pun menyerah tak ada satu acara pun di TV yang bisa menamaniku bahkan channel MTV pun lagu-lagunya terlalu hits yang tak begitu ku kenal. Mungkin karena beberapa bulan terakhir aku terlalu sibuk dengan kerjaanku.

Ku periksa laci lemari TV dan melihat-lihat apakah ada DVD yang bisa ku nikmati. DVD film-film favoritku sejak dari SMP menumpuk di lemari ini, tapi sepertinya aku sedang tidak mood untuk menonton film-film tersebut. Aku melihat DVD yang terbungkus berbeda dari yang lainnya, DVD yang berupa rekaman-rekaman saat pertemuan keluarga ayahku. Aku suka sekali mengabadikan momen dengan merekam seluruh anggota keluarga sambil menanyakan satu pertanyaan yang harus mereka jawab. Walau aku bukan tipe yang suka sekali ikut acara keluarga, karena menurutku acara keluarga adalah ajang untuk menanyakan hal-hal yang kadang berujung menyudutkan, seperti pertanyaan kapan nikah? Kapa lulus? Kenapa pacar yang kemarin ga diajak lagi? Kamu udah bisa beli apa saja diumurmu yang sekarang? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya cukup diberikan senyuman saja.

Berbeda dengan keluarga ibuku, anggota keluarga ayahku tidak begitu banyak. Ayahku anak ketiga dari 5 bersaudara, hal itu baru kutahu ketika aku duduk di bangku kuliah jika ternyata ayahku lima bersaudara dan ayahku memiliki kembaran. Aku terpingkal-pingkal dan jelas tak percaya kalau ayahku memiliki kembaran, konon katanya kalau orang tua kita kembar kemungkinan besar generasi ketiga kita melahirkan anak kembar juga. Awalnya aku senang mendengar hal itu, karena lucu saja membayangkan diri melahirkan anak kembar, namun setelah aku cari-cari tahu ternyata cukup menakutkan melahirkan anak kembar. Aku juga terheran-heran dan bertanya kemana kembaran ayahku dan meminta penjelasan tentangnya, sayangnya kembaran ayahku meninggal sejak ayahku dan kembarannya ketika SMP. Aku tak mengerti mengapa aku baru tahu, mungkin itu adalah hal yang menyakitkan bagi ayahku mengingat kematian kembarannya karena kecelakaan dan yang membuat ku heran juga adalah kenapa ketika pulang kampung kami tak pernah mengunjungi makam kembaran ayahku, entah kenapa meraka tak memberitahuku dan aku pun tak pernah menanyakan akan hal itu.

Sebagai anak bungsu, aku merasa tak leluasa untuk bergerak bahkan ketika ada informasi mengenai keputusan-keputusan keluarga aku selalu saja tahu belakangan dan tak pernah dilibatkan dalam mengambil keputusan, mungkin mereka masih menganggap aku si bungsu yang masih anak-anak, padahal umur ku sudah waktunya untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Aku juga bosan sekali ketika di rumah orang tua ku hampir setiap waktu jika waktunya makan aku belum menyambangi mereka di meja makan maka mereka akan meneleponku, iya di usia mereka yang sudah lanjut, untuk menyambangiku ke atas saja mereka perlu effort yang lebih, seperti olahraga katanya.

Aku memandang layar di depanku dengan senyuman, walau jarang kumpul dengan keluarga tapi aku selalu suka mengobrol dengan keluarga dari ayahku. Aku suka mereka selalu membawa cerita yang bisa dijadikan pembelajaran untukku. Ayahku memang terlahir dari sebuah dusun di Palembang, jika kamu tahu dusun itu adalah tempat yang paling terpencil dibanding desa itu yang aku tahu dari keluargaku. Ketika pulang kampung dan menyambangi tempat dimana ayahku dan saudara-saudaranya di besarkan aku tak bisa membayangkan betapa susahnya hidup mereka ketika itu, berjalan kaki ke sekolah yang jaraknya cukup jauh, bahkan mereka harus smapai rumah sebelum sore datang karena jika sore datang jalanan sudah sepi dan tak ada lampu karena memang dusun mereka terletak diantara hutan dan bukit.

Sebagai keluarga rantauan di Jakarta sepertinya nenekku mengajarkan kepada ayahku dan saudara-saudaranya untuk tetap menjunjung tinggi pendidikan, karena jika pendidikan sudah diraih kemungkinan kecil untuk membiarkan diri terlena dengan indahnya dunia dan bermalas-malasan. Didikan itu pula yang diajarkan ayahku, karenanya tak heran aku begitu suka sekali kerja sampai-sampai aku pernah dimarahi lelaki yang capek melakukan PDKT kepadaku, karena setiap dia chat aku bisa membalasnya seminggu kemudian, habis aku lebih suka kerja yang jelas dapat uang dari pada meladeni chat mereka yang belum tentu aku ternyata cocok sama mereka.

Nenekku, ibu dari ayahku anak tunggal di keluarganya sehingga beberapa warisan orangtuanya semua diwariskan ke nenekku. Hal ini pun aku baru tahu ketika tahun 2017 nenek meninggal dan tanteku cerita mengenang nenekku dan aku baru tahu ternyata nenekku begitu kaya raya di kampungnya, iya beberapa lama tinggal di dusun seingatku ketika ayahku SMP mereka pindah ke kota, Muaro Duo. Sebenarnya belum bisa disebut kota karena tak begitu ramai seperti di pusat kota Palembang, sungai musi dan sekitarnya. Tapi di Muaro Duo itulah nenekku membangun sebuah usaha apotek di rumahnya yang dekat dengan pasar yang smapai saat ini masih diteruskan usahanya oleh kakak sepupuku. Darisitulah, aku tahu bahwa keluarga ayahku memang dididik untuk menjadi pengusaha hanya saja ayahku yang melenceng jadi pengusaha.

Aku terkadang merasa terasing di keluargaku sendiri, banyak asal usul keluarga yang tak aku tahu. Itu baru kisah secuil kisah dari keluarga ayahku, belum lagi ibuku yang tahun 2020 ini aku baru tahu kalau ibuku masih punya garis keturunan seorang raja di Lampung. Entah mereka yang tak mau cerita atau aku yang malas bertanya juga, ya untuk apa juga tahu mengenai asal usul keluarga yang ternyata punya garis keturunan kaya raya dan seorang raja tapi keturunan ku kelak tak bisa menikmatinya, jangankan mereka aku dan kakak-kakak ku saja tetap harus kerja lembur bagai kuda sebagai budak corporate untuk bisa beli rumah, mobil dan menabung.