Hari ini aku terbangun dari tidur, lagi dan lagi aku terlewat bangun di seperempat malam-Nya. Jangankan di seperempat malam-Nya, solat subuh saja aku sering kali merapelnya dengan dhuha. Biasanya, jika aku terpaksa harus merapelnya aku akan memohon ampun pada Tuhan sambil berdoa “Tuhan, kalau telat solat subuh rejeki dipatok ayam. Tolong jangan Engkau patok jodohku karena aku merapel subuhku”. Terkadang aku berpikir sampai saat ini Tuhan belum memberiku kekasih yang tepat dan tanpa drama, mungkin karena Tuhan merasa aku belum pantas jadi imam untuk siapapun. Eh, tapi kenapa marbot di masjid rumah yang terpaksa terkadang harus jadi imam karena yang datang ke masjid bocah-bocah dan hanya dirinya orang dewasa, sampai sekarang pun dia belum menikah, bahkan terakhir aku dengar lamarannya ditolak karena dia seorang marbot. Padahal, pekerjaannya sungguh mulia, kalau subuh dia pun adzan dengan volume yang lebih keras. Walaupun, dalam setahun aku hanya mendengar suaranya ketika subuh di bulan Ramadhan.

Merapel shubuh dan dhuha hari ini diakibatkan karena aku terjaga hingga pukul dua pagi, malam sebelumnya pukul tujuh malam, sebuah pesan masuk ke HP ku dari ayah ternyata. Walaupun, aku laki-laki dewasa orangtuaku tetap saja selalu menanyakan “Sudah dimana? Sudah makan belum? Jangan pulang malam-malam” tepat pukul sembilan malam jika aku belum tiba di rumah. Aku terkadang dibuat heran sendiri oleh orang tua ku, dulu pernah ibu menanyakanku pertanyaan yang sama lewat telapon, lalu 10 menit kemudian ayahku menelpon dan menanyakan hal yang sama, ketika itu aku menutup telepon ku dengan berkata “Yah, besok-besok kompak sedikit ya sama ibu. Masa harus dua-dua gini nelepon nanyain”. Dan telepon pun berakhir dengan penuh gelak tawa saat itu.

Tapi kali ini berbeda, ayah megirimkan pesan dan menungguku segera tiba di rumah. Ayah dan ibu ingin segera diantar ke rumah Om ku yang menghembuskan nafas terakhirnya. Aku pun segera bergegas dan terpaksa menyelesaikan beberapa pekerjaan esok hari. Malam itu, sebenarnya aku ingin menyelesaikan tulisanku sebentar di kantor. Akhir-akhir ini, aku sengaja meluangkan waktu untuk konsisten menulis di blog-ku, tapi apa daya begitu banyak sekali cobaannya. Diantara tulisan yang sudah ku-publish, aku mendapati satu komentar dari Madison. Iya, Madison yang pernah singgah di hati dan pergi sesuka hatinya dengan cepat, namun bayangnya selalu ada di hati dan pikiran bahkan sampai tujuh tahun setelahnya. Madison meninggalkan jejak di kolom komentar pada tulisan “I Love You, March!” yang aku tulis untuk 30 Hari Menulis Cerita. Bila dilihat dari komentarnya, sepertinya dia merasa bahwa tulisan itu tertuju padanya, jejak yang ditinggalkan penuh dengan kegetiran dan kenyinyiran. Yah, begitulah Madison sesuai dengan namanya “Mad” selalu membuat orang jengkel tapi entah kenapa di saat yang bersamaan aku merasa happy jika di dekatnya.

Aku kembali memencet nomor ayah di HP. Aku lupa sekali, mobilku harus menginap di bengkel hari ini karena bumper yang penyok akibat mencium tiang listrik. Aku menjelaskan pada ayah agar mereka pergi terlebih dahulu dengan taksi online. Aku pun memesan taksi online untuk orang tua ku dan ojek online untukku. Hidup di Jakarta lebih mudah menggunakan ojek memang apalagi di jam orang-orang pulang kantor seperti ini, lebih cepat tiba di tujuan. Setiba di rumah, aku bergegas membersihkan diri sebentar dan berganti pakaian. Agak kurang etis hadir ke rumah duka dengan pakaian Tangerine yang cukup menyilaukan mata.

Tampan juga aku ini rupanya, melihat wajah yang sudah semakin lebat bulu-bulu di dagu. Dulu ketika pacaran dengan mantan-mantanku, aku bertanya apa yang mereka suka dari aku, kebanyakan dari mereka suka karena bulu-bulu yang tumbuh sekitar dagu dan pipi. Aku selalu menjaga brewok ku tidak begitu tebal, karena khawatir dikira Pak Ustad, kalau aku jadi Pak Ustad, aku bisa jadi Pak Ustad yang selau absen di saat subuh.

Aku pun tersenyum di depan kaca, terlihat jelas ternyata dari tadi ada yang memperhatikanku. Ku sambangi dia sambil mengelus bulu halusnya. Pearson kucing anggora kesayanganku itu pemberian Madison ketika kita masih bersama. Madison sendiri yang memberi nama Pearson, dia tergila-gila sekali dengan keluarga Pearson dalam film series This is Us, karena drama series itu pula dia membuka pintu hatinya untukku, setalah sekian lama hatinya kosong.

Setelah melepas rindu, tak lupa aku memberi makan kucingku. Kemudian aku bergegas naik KRL, perjalanan menuju rumah om lebih cepat dan asyik menggunakan KRL, kalau pakai ojek online bisa-bisa tepos pantatku, kalau naik taksi online sendirian paling banter Cuma bisa mengajak ngobrol Pak Supir. Kalau naik KRL seru sekali bertemu banyak orang sambil mengamati perilaku penggunannya. Lihat para pengguna kereta ini, mayoritas dari mereka menunduk ke layar HP.

Aku yakin sekali hanya hitungan jari di gerbong ini yang menunduk membaca buku digital. Mataku tertuju pada layar HP remaja dengan rambut tergerai di sampingku. Dia terbahak-bahak menyaksikan vlogger yang sedang mengaduk nasi dalam piring yang dipenuhi indomie. Saya selalu heran dengan orang-orang yang makan mie dicampur dengan nasi. Mie dan nasi adalah dua makanan yang memiliki karbo tinggi, terlalu bahaya jika mereka menyatu. Ibarat sepasang kekasih yang memang sih se-iman tapi kalau si cewek dan keluarganya alpha lalu si cowok dan keluarga juga alpha, terlalu bahaya untuk lanjut ke jenjang pernikahan.

Mengok kanan dan kirim mencari tahu posisi kereta saat ini, ternyata sebentar lagi aku akan tiba di stasiun tujuanku. Aku pun berjalan menuju pintu gerbong, aku melihat bayangan di kaca pintu pria berkaus hitam tersenyum tipis memandand layar teleponnya. Aku rasa dia tersenyum karena mantannya yang mungkin seperti Madison mengajaknya kembali memandu asmara. Aku pun berusaha mencuri-curi pandang ke layar HP-nya, ternyata nun jauh di sana, Menara Eiffel berdiri tegak. Bisa jadi dia sedang membayangkan, untuk berlibur bersama sang pujaan hati. Perancis memang dikenal kota romantis, agak disayangkan jika mengingat Menara Eiffel tapi tidak membayangkan memeluk sang kekasih.

Pintu gerbong terbuka dan aku pun melangkah menuju rumah almarhum omku. Sesampainya disana, ruangan yang begitu sesak diisi dengan manusia dan isak tangis. Memeluk erat tanteku, tak kuasa aku menahan tangis. Sejak kecil rumahku juga diisi oleh tante-tante ku. Di kala orang tua ku pergi bekerja, tanteku lah yang merawat dan menjagaku. Banyak sekali kenangan kecil bersama tanteku, bahkan ketika tanteku berpacaran dengan suaminya yang kupanggil sebagai om tak sering aku menemani mereka berpacaran, atau mungkin lebih tepatnya dulu aku mengganggu mereka berpacaran.

Menggenggam erat tanganku, sambil berkata “Kau ingat dulu Cave, waktu kau sakit om yang menggendongmu membawanya ke rumah sakit. Kau tahu kan betapa rewelnya kau dulu kalau sakit”. Jelas aku mengingat kejadian itu, karena setiap aku sakit tante kulah yang mengurus karena orang tua ku harus pergi pagi dan pulang malam untuk bekerja. Bahkan dulu aku ingat sekali, ketika aku dan ibu berperang cukup hebat, aku melarikan diri ke rumah om dan tanteku. Om tak pernah keberatan kalau aku sering datang ke rumahnya walau untuk sekedar makan siang bersama mereka di rumahnya.

Pandanganku gelap dan aku tidak bisa melihat apapun yang ada di depanku, hal ini mengingatkan ku pada malam selepas aku pulang dari annual event kantor. Beruntungnya aku punya Madison, ketika aku lelah dia meneleponku, aku menduga dia menelepon utnuk mengucapkan selamat malam. Betul saja ketika itu dia mengucapkan selamat malam tapi sebelumnya dia mengucapkan selamat tinggal. Pandanganku yang ketika itu gelap dan jelas aku tidak bisa melihat apapun, termasuk masa depanku membangun keluarga bahagia seperti Pearson Family di film This is Us. Bedanya kali itu pandanganku gelap dan aku terlelap sampai pagi.

Wah, alhamdulillah!

Aku baru menyadari bahwa token listrik sudah habis, pantas saja pandanganku langsung gelap hanya saja kali ini aku masih bisa mendengar suara kerumunan orang. Berbeda dengan pandanganku yang gelap ketika Madison memutuskan mengakhiri hubungannya denganku, ketika itu aku sengaja memejamkan mata, gelap. Begitulah dunia yang kurasa saat itu, hampa tapi di saat bersamaan aku juga lelah. Maka terlelap sampai pakai rasanya bisa menjadi obat walau hanya menyembuhkan kelelahanku tidak keresahan hatiku.

Hebat sekali Madison ini, di tengah duka keluarga om dan tanteku, ingatan tentangnya pun bisa muncul setelah sekian tahun tak pernah bersua. Tapi setiap aku mendengar kata “token listrik” teringat pula aku dengan Madison. Bukan tanpa alasan. Aku terbahak ketika itu sekitar tiga bulan pacaran, Madison baru pindah ke kantor start up-nya yang tidak begitu besar bahkan lebih mirip seperti ruko mungkin dan dia berkata “Cave, kantor ku mati mati listrik. Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu. Aku minta nyalain listriknya, OB ku malah minta uang untuk beli token. Aku ga punya cash, katanya tokennya untuk nyalain listriknya. Dia minta aku beli token secara online. Bagaimana cara beli tokennya ya, Cave? Aku mau tanya OB ku malu, takut dikatain katrok”.

Jelas membaca pesannya aku terbahak, Madison yang menurutku cantik, pintar dan mandiri itu tidak tahu bagaimana cara membeli token listrik yang semudah membeli pulsa secara online. Beberapa tahun terakhir santer berita tentang artis yang tak bisa membuka buah salak bahkan si artis tidak tahu kalau buah itu bernama salak. Netizen ramai sekali membicarakan hal itu, bahkan di twitter sampai trending topik. Aku ga pernah heran dengan orang-orang yang ga mengetahui hal-hal yang umum bagi khalayak. Si artis bisa jadi memang dari dulu tidak pernah mengenal buah salak, terlebih aku paham betul mengupas kulit salak cukup sulit wajar beberapa orang menghindari buah salak dan lebih memilih makan apel. Pada Madison, dia pun mengaku selama ini hanya membayar listrik bulanan dan tidak pernah tahu kalau listrik bisa dibeli sesuka hati seperti pulsa. See, lagi-lagi Madison tetap ada di pikiranku. Sigh!