Categories
Movie Review

5 Film Terbaik Karya Sineas Asia

Kemenangan Bong Joon Ho di Academy, Oscar 2020 adalah kemenangan bagi Asia. Gimana engga? Akhirnya, Hollywood ga rasis lagi dan sadar bahwa Sineas Asia juga bisa bikin film yang ‘Rise above the crowd’. Selain film Parasite, berikut saya sudah rangkum 5 film terbaik karya Sineas Asia yang sayang banget kalau ga ditonton.

Bad Genius – Thailand

Sejujurnya, saya agak kurang suka dengan film-film Thailand. Awal perkenalan saya dengan film Thailand agak sedikit ga enak, yaitu dengan film Pee Mak, film yang Naudzubillah seremnya tapi tetap asyik ditonton karena ketampanan sang actor utama, Mario Maurer. Namun, jujur saja saya tidak menonton film tersebut sampai habis, bukan karena saya takut tapi memang filmnya agak-agak bikin senyum kecut.

Karena awal perkenalan yang agak-agak kurang mengenakan dengan film Thailand, semenjak itu saya sudah ga pernah lagi nonton film Thailand. Kembali di tahun 2018, iseng-iseng buka aplikasi streaming Viu dan nonton film Bad Genius dengan harapan bisa terlelap tapi ternyata, malah ga bisa tidur. The movie is really f***ing genius. Sepanjang film umpatan dan sambatan ga berhentinya terucap. Mulai dari cast, plot sampai eksekusi parah genius-nya.

Bad Genius film Thailand yang ber-genre drama criminal dengan latar belakang kisah anak SMA yang mencontek ketika ujian, bukan hanya ujian nasional tapi juga ujian masuk ke perguruan tinggi luar negeri. Premis yang simple namun dibalut dengan eksekusi yang luar biasa akan membuat kamu mungkin tercengang. Si miskin yang pintar butuh uang untuk menghidupi keluarganya dan si kaya yang bodoh dan orang tua si kaya yang terobsesi anaknya kudu wajib masuk perguruan tinggi ternama di luar negeri. Dari sinilah cerita semakin seru, bagaimana si miskin memberikan contekan kepada si kaya dengan memainkan jarinya layaknya sedang memencet tuts piano. Cara si miskin memberikan contekan sangat rapi, detil dan jenius ini yang membuat saya terima kasih sekali kepada Nattawut Poonpiriya selaku orang yang duduk di bangku Sutradara pada film tersebut, karena arahan dan matanya yang tajam film ini banyak mendapat penghargaan dan pastinya membuat saya mau menonton film-film Thailand yang lain seperti: ATM, I Fine Thank you, Brother of The Year, Friendzone dll.

3 Idiot – India

Whoah, anyone of you haven’t watch this movie yet? Seriously? Oh noway, kamu kemana aja kalau belom nonton film ini. Ini film yaampun paling bisa ngunyel-ngunyel emosi deh. Ceritanya inspiratif? Iya. Ceritanya sedih? Iya. Ada karakter yang nyebelin? Ada dong. Ceritanya lucu? Banget! Hahaha. Dan yang paling mengagumkan adalah bagaimana si sutradara, Rajkumar Hirani menceritakan flashback yang sangat-sangat relatable dengan orang-orang yang pernah ke India.

Gimana maksudnya? Cerita flashback film 3 Idiot relate dengan India? Yaiyalah, itu kan film India.

Iya, iya gini-gini maksudnya, ketika kecil mungkin kamu menonton Kuch Kuch Hota Hai atau film India lainnya yang menggambarkan India is so awesome, baby. Hahahah. Sesungguhnya kehidupan di India itu seperti flashback dalam film 3 idiot.

Jadi inget perkataan bos saya yang beberapa tahun lalu ke India dia bilang “lo tau ga sih, India itu hiih. Ampun deh. Kalau lo nonton film 3 Idiot, cerita flashback nya seperti kehidupan di India sesungguhnya dan pemeran utamanya seperti orang-orang India kebanyakan juga.”

Paham ga maksudnya? Kalau belum paham you guys better watch that awesome movie. Hahaha.

Perempuan Tanah Jahanam – Indonesia

Perempuan Tanah Jahanam karya sineas Indonesia favorit saya, Joko Anwar. Sudah menonton seluruh filmnya Joko Anwar dan menurut saya Perempuan Tanah Jahanam ini yang eksekusinya paling Jahanam. Bahkan setelah menonton saya menduga Joko Anwar ini titisan penghuni neraka Jahanam. Bisa-bisanya semua hal dalam film ini….. Oh God, can I skip this part? When I write this, saya langsung keinget setan kecil yang super menjijikan dalam filmnya. And I still wonder about How can they made that little satan, so memorable in my brain.

Disclaimer: Don’t watch this movie before sleep and alone, if u don’t want get vomit after watch this movie, as I did. Hahaha.

Snowpiercer – Korea

Sudah menonton semua film-film karya Bong Joon Ho. Bukannya saya tidak mendukung film-film Asia tapi sejujurnya saya lebih suka Joker memenangkan Oscar di kategori best picture. Ohya, tapi dari tahun ke tahun prediksi saya tentang pemenang-pemanang Oscar selalu melesat. Maklumlah ya, saya memang bukan cenayang.

Tapi bagi kamu yang sudah menonton film Parasite mungkin berpendapat bahwa film Bong Joon Ho ini memiliki premis yang mainstream dengan eksekusi yang bagus. Betul memang, tapi saya rasa ini bukan film terbaiknya Bong Joon Ho. Snowpierces film karya sineas Korea, Bong Joon Ho memang sungguh sangat mencengangkan. Film fiksi ilmiah yang diangkat berdasarkan novel grafis Perancis, Le Transperceneige. Film ini memang ciri khas Bong Joon Ho, yang kerap sekali membuat film dengan peran si kaya dan miskin. Dalam film ini, kamu akan menemukan bintang-bintang Hollywood yang sudah tak asing seperti; my baby, Chris Evans (hahaha), Octavia Spencer, Jamie Bell dll. Dan tentu 80% dalam film ini, menggunakan Bahasa Inggris dan sisanya Bahasa kalbu Korea.

Kalau saya petakan beginilah urutan film-film Bong Joon Ho dengan eksekusi mulai dari yang terbaik hingga biasa sekali;

  • Snowpiercer (2013)
  • Okja (2017)
  • The Host (2006)
  • Parasite (2019)
  • Memories of Murder (2003)

One Cut of the Dead – Jepang

Akhirnya, sampai juga pada bagian film terbaik karya sineas Asia versi Diah Sally tentunya. Film yang bercerita tentang zombie ini ga ada serem-seremnya bahkan 30 menit di awal saya ingin sekali keluar bioskop tapi masih sabar nunggu dimana plot twistnya. Tapi selama menunggu plot twist mulut ini ga berenti sambat dalam hati.

“Yaampun balikin duit dan waktu saya”

‘Amburadul sekali acting mereka, ini casting nya gimana deh?”

“Bisa ga sih, bikin film yang masuk akal dikit”

“Awas ya kalau ga ada bagus-bagusnya, ga akan saya mau nonton film-film Jepang”

“Maaf, ini ceritanya kok kaya hubungan seseorang ya. Ga tau mau dibawa kemana”

Seinget saya, ini pertama kalinya saya  nonton film Jepang non anime. Dan 60 menit ke belakang saya ga berenti-berenti ketawa. Astaga, benar-benar kacau lucunya.

Kalau ditanya film terbaik yang pernah saya tonton, ya tentu One Cut of The Dead. Satu kata yaitu “Pom” yang keluar di awal 30 menit awal mengundang senyum kecut saya, 60 menit ke belakang kata “Pom” di call-back berkali-kali dan menggelegarkan tawa seluruh insan di muka bumi ini, woelah enggak deh seluruh insan di dalam bioskop. Baru kali itu saya benar-benar mendengar tawa yang berkepanjangan dari penonton di bioskop.

Film ini cocok sekali buat penghibur di kala duka, lelah atau keadaan dimana si dia ga bisa kasih kejelasan. Kalau si dia ga jelas, kamu harus nonton film ini yang ga jelasnya kebangetan. Bedanya kalau yang ini ga jelas tapi lucu sekali.

Dan kamu harus tahu, film ini dibuat dengan budget 3 Million Yen yang setara dengan 25.000 Dolar Amerika dengan keuntungan di Jepang 3.12 billion yen & 30.5 million Dolar Amerika. Jadi cuannya berapa tuh? Banyak deh pokoknya. Hahahaha.

Ohya, saya sungguh berterima kasih kepada Shin Ichiro Ueda yang duduk di bangku Sutradara. Film Anda sungguh kelewatan jenakanya.

Itu dia film-film kebanggaan saya karya sineas Asia, ini murni dari sudut pandang saya, mungkin kamu ada yang ga setuju ya ga apa. Atau mengeluh karena tulisan ini terlalu panjang? Ya ga apa juga, saya kalau ngomongin film-film bagus emang ga bisa berenti, apalagi kalau ngomongin film-film yang ra mutu. Wess lebih lama dan panjang lagi. Haha.

Everything I Learned, I Learned from the Movie – Audrey Hepburn

Dari 5 film terbaik karya sineas Asia di atas, mana yang sudah kamu tonton? Atau kalau kamu punya rekomendasi film-film karya Sineas Asia lainnya dan menurutmu bagus, please drop your comment below. Hehe.

Categories
Movie Review

3 Fakta Tentang Drama Korea Love Alarm

Ada yang menarik akhir-akhir ini muncul di daftar suggestion Netflix saya. Love Alarm selalu muncul di kategori film rekomendasi akun Netflix saya. Akhirnya saya pun tak masalah mengunduh drama tersebut karena hanya delapan episode yang mana per episodenya tak sampai satu jam. Kamu belum menonton Drama Korea Love Alarm? Ini 3 fakta tentang Drama Korea Love Alarm yang perlu kamu ketahui sebelum menontonnya;

  1. Adaptasi dari Webtoon

Well, saya ga heran kenapa drama ini banyak sekali dibicarakan, salah satunya karena di adaptasi dari Webtoon yang mana penulisnya memang terkenal juara untuk menulis kisah romantis. Chon Kye-Young yang memang sudah mempunyai pasar dan cukup banyak fans tak mustahil memang membuat webtoon-nya diangkat menjadi drama series. Saya rasa dari segi bisnis, PH manapun mau mengadaptasi cerita tersebut dan bisa jadi ada perebutan sengit kala itu antar PH. Hmm kalau ada perebutan antar PH, jadi penasaran apakah MD & Falcon juga saling berebut ingin mengadaptasi kisah Love Alarm?

2. Diperankan oleh Artis Ternama

Ketiga pemeran utama Love Alarm memang memiliki acting yang memukau, yang menjadi perhatian saya adalah karakter Lee Hye-Young, di antara ketiga pemeran utama dialah yang paling memberikan kesan natural dalam segala hal, mulai dari senyum bahkan jatuh dari sepeda. Ternyata acting natural itu hadir karena dia sudah memerankan beberapa film dan drama bahkan sampai mendapat penghargaan Best Actor untuk film 4th Place (2016).

3. Drama Korea Orisinil buatan Netflix

“Kenapa harus cerita Love Alarm?”

Itu pertama kali yang ada dibenak saya, masih banyak cerita-cerita lain yang lebih menarik ketimbang cerita Love Alarm. Menonton episode pertama love Alarm membuat saya mengerutkan dahi, terlalu banyak plot hole sejak episode satu, saya pun menonton sampai habis karena ingin tahu apakah plot hole yang saya maksud sengaja mereka isi agar menjadi twisted di akhir-akhir episode? Ternyata makin berlubang ceritanya. Menonton Love Alarm layaknya menonton FTV di salah satu stasiun TV, si laki-laki chaebol (kaya) jatuh cinta dengan si perempuan miskin. Padahal si laki baru ketemu si cewek dan si laki juga tahu bahwa temannya suka duluan dengan itu cewek. Gimana bisa kamu bayangkan? Oh, tak usah dibayangkan kamu bisa ketawa sepanjang hari, apalagi waktu tau si laki itu main ngajak cewek ke suatu tempat terus dicium. Hahaha. Atuhlah, itu si laki macam soang yaa. Masih banyak lagi hal-hal yang mengerutkan dahi dan membuat batin saya ngomong “Ini laki ganteng, kaya tapi kok bucin banget ya”

Namun, yang menarik perhatian saya adalah bagaimana mereka tahu kalau saling jatuh cinta dengan cara mengunduh serta mengaktifkan aplikasi Love Alarm, jadi kalau kamu suka seseorang? Cukup berada di radius 10 meter dari orang yang kamu suka, maka aplikasi Love Alarmnya akan berbunyi dan tanda 1 orang suka dengannya. So, kalau ada 10 orang yang sekitar dia dan bisa jadi ada pemberitahuan 5 orang yang suka dengan dia atau bahkan lebih. Kalau begini saya rasa tak ada seorang pun yang mau jadi public figure, habis kemana pun dia berada pasti notifikasi dari Love Alarm bunyi terus. Eh, kalau aplikasi ini memang ada di dunia nyata kira-kira bagaimana ya notifikasi Love Alarm milik Nikita Mirzani?

Film ini memang bergenre fantasi, jujur saya memang mengharapkan aplikasi ini memang ada di dunia nyata. Asyik pastinya, kalau kita suka seseorang tanpa harus mengucapkannya si dia bisa tau kita suka dengannya tinggal bagaimana dianya? Apakah dia mau juga membunyikan Love Alarm-nya untuk kita. Jadi, kalau dia ga suka kita berarti waktunya kita hunting seseorang yang pas. Bahkan saya berpikir, kalau memang ini ada dan terjadi sesuai yang di film, saya rela terbang ke Jogja agar bisa berada 10meter dekat dengannya, so I’ll ringing my Love Alarm and waiting you ring it back. I wish! Jadikan ga capek yaa berasumsi dia orang suka apa enggak, ya ga sih? Ya tapikan impossible, masa iya aplikasi bisa terhubung dengan hati.

Aplikasi Love Alarm memang sudah hadir khusus buat kamu pengguna Android di Korea Selatan, bisa jadi sebentar lagi akan hadir juga di Indonesia tapi jangan berharap seperti di dramanya yaa. Kemungkinan aplikasi yang hadir seperti Tinder, entah apa kelebihannya. Bisa jadi salah satu kelebihan Love Alarm ketimbang Tinder adalah marketingnya, Love Alarm punya banyak dana promosi. Mungkin. Itulah kecurigaan saya kenapa Netflix mau mengadaptasi webtoon ini. Melihat promosi drama yang sampai dibuat tempat wisata ala Love Alarm di Korsel. Lately, saya selalu melihat Netflix penuh kecurigaan, terlebih setelah munculnya film documenter “The Great Hack” kisah tentang data facebook yang bocor. Hahaha. Jadi lucu, melihat para pemimpin yang katanya berpengaruh versi majalah Forbes dan juga perusahaan pegang data terbesar no. 5 saling sikut demi menguasai pasar.

Sayang sekali, promosi Love Alarm yang gencar tak sesuai sajian filmnya. Tapi setiap film memang punya pasar masing-masing dan bisa jadi saya bukan pasar dari Drama Korea Orisinil pertama buatan Netflix ini. Tapi sekali lagi saya katakana, saya mendukung aplikasi ini muncul sesuai yang di filmnya. Supaya seluruh wanita di dunia ini ga perlu lagi capek-capek menghilangkan gengsi demi bilang, I love you, boy with luv!

Categories
Movie Review

6 Film Festival Eropa Paling Seru yang ditayangkan di  Europe On Screen 2019

Pada tanggal 19-30 April 2019 saya dan beberapa  kawan meramaikan Europe On Screen (EOS) di berbagai tempat di Jakarta. EOS sendiri adalah acara tahunan yang mana sudah dilaksanakan dari tahun 1990, hanya saja dulu namanya Festival Film Eropa tetapi sejak tahun 2003 diubah menjadi Europe On Screen. EOS adalah acara dimana pemutaran film-film Eropa terbaik, dilaksanakan kurang lebih 10 hari serta memutarkan ratusan film dan acara ini membawa kebahgiaan sendiri bagi saya, penikmat film.

Tahun ini EOS dilaksanakan di Jakarta, bekasi, Tangerang, Surabaya, Bandung, Medan, Yogyakarta & Denpasar. Bukan hanya memutarkan film-film dari benua Eropa, tetapi juga ada diskusi, pameran, kompetisi dll.

Nah, kali ini saya akan berbagi tentang 6 film festival Eropa paling seru di EOS 2019;

  1. Cold war

Diah-Sally-6 Film Festival Eropa Paling Seru yang ditayangkan di Europe On Screen 2019

Film yang mengusung banyak piala di berbagai penghargaan salah duanya Oscar & Golden Globes Award kategori Best Foreign Movie,  serta banjir pujian dari berbagai kritikus, membuat film ini wajib ditonton bukan hanya itu sepanjang film kamu akan dimanjakan dengan sinematography hitam dan putih yang memukau.

Berlatar nuansa setelah perang dunia di tahun 1940-an, seorang komposer serta pianis berbakat mengadakan tur keliling untuk mencari orang-orang berbakat, sampai pada akhirnya bertemu dengan seorang penyanyi wanita yang berbakat. Dan selang beberapa waktu sang pianist dan penyanyi saling jatuh hati dan mulai menjalin hubungan yang serius. Penampilan dari satu tempat ke tempat yang lain membuat mereka selalu bersua serta menjadi sangat akrab satu sama lain.

Saling mencintai namun tak begitu sejalan dalam pemikiran, begitulah cerita pasangan yang mana orang tua dari sang sutradara. Walau sempat dibuat bingung dengan emosi yang dihadirkan dalam film ini namun saya akui film ini sungguh karya yang harus diapresiasi karena sepanjang film saya bukan hanya dimanjakan dengan plotnya, musik, tarian, pengambilan gambar yang buat saya bergeming “ih kok bisa sih dia, keren gitu” serta editing yang rapi dan smooth, ohya saya tak bisa juga melupakan set dan costume yang dikenakan para pemain.

  1. Zagros

Diah-Sally-6 Film Festival Eropa Paling Seru yang ditayangkan di Europe On Screen 2019-2

Film tentang pengembala yang mengalami kegoyahan rumah tangga. Si Pengembala yang mulai luntur kepercayaannya terhadap sang istri dan lebih mendengarkan omongan orang lain, keluarganya dan tetangganya membuat awal keretakan rumah tangga mereka. Apakah sang pengembala berhasil mempercayai sang istri sepenuhnya kembali? Atau mungkin rumah tangga mereka retak berkeping-keping akibat sudah tidak ada lagi kepercayaan satu sama lain? Patut ditonton sampai habis, karena kunci pada film ini pada akhir film dan kepingan cerita akan sempurna jika kamu menonton film ini dari awal.

  1. Becoming Astrid

Film tentang perjalan remaja penulis Astrid, Astrid Lindgren, seorang sastrawan yang mana salah satu karyanya yang sangat populer adalah “The Adventure of Pipi Longstocking”. Konflik antar ibu dan anak yang terjadi dalam film ini cukup mengoyak-koyak perasaan. Mampukah Astrid dan ibunya serta Astrid dan anaknya (Lasse) mengatasi konflik secara tuntas? Simak ulasan lengkapnya disini.

  1. Champions

Champion dibangun dengan dialog dan acting yang menggelitik, membuat film ini pantas dijuluki film komedi Eropa ter-brutal yang pernah saya tonton. Beberapa jokes yang berkali-kali di-call back tetap menghadirkan tawa yang menggelegarkan teater, mungkin karena di awal cerita sang penulis dan sutradara mampu bekerja sama untuk membangun pondasi yang jenaka, sehingga hampir dari semua adegan terlihat jenaka dan dialog yang kita dengar menggelitik.

  1. There’s No Place like Home

Drama Comedy Family kali ini, cukup menghibur dengan dialog-dialog yang agak sembarang. Tapi justru karena sembarang itulah yang membuat penonton menertawainya. Walau tak begitu se-jenaka Champions film ini berhasil menggelitik perut karena ceritanya cukup relate di beberapa kehidupan yang saya kenal. Jika kamu menonton film ini, kamu harus punya usaha ekstra untuk menghapal masing-masing karakter, karena karakter yang hadir banyak sekali.

  1. Blue My Mind

Drama Fantasi yang benar-benar membuat saya memikirkan tujuan dari si penulis membuat cerita ini, tentunya selain untuk mendapatkan cuan ya. Hehe. Remaja yang ingin mencoba hidup bebas tapi enggan menerima konsekuensinya serta fantasi yang menurut saya agak kurang masuk di akal sehat, namun tetap layak ditonton. Review lengkap filmnya disini.

Baiklah, itu tadi film Eropa yang menurut saya paling seru yang saya tonton di EOS 2019. Walau, lagi-lagi setiap dari kita mungkin punya selera film yang berbeda-beda. Tapi tak ada salahnya menonton film untuk hiburan kamu di weekend yang singkat atau weekday yang panjang karena kerjaan atau tugas kuliah yang menumpuk.

Dari film di atas cerita mana yang membuat kamu penasaran dan ingin sekali segera kamu tonton? Atau kamu punya rekomendasi film Eropa bagus apa nih buat saya?

Categories
Movie Review

Review Film Eropa Cold War

Film asal Polandia yang menuai banyak pujian dari para kritikus di dunia serta penghargaan di berbagai ajang termasuk Oscar & Golden Globe Award. Tak heran hal itu terjadi pada film Cold War, sinematography yang apik serta plot yang tak mudah ditebak, karakter yang kuat dan musik yang entah kenapa saya suka sekali, harmoninya sampai ke lubuk hati mantan. Eh, hati saya maksudnya.

Berlatar nuansa setelah perang dunia di tahun 1940-an, seorang komposer serta pianis berbakat mengadakan tur keliling untuk mencari orang-orang berbakat, sampai pada akhirnya bertemu dengan seorang penyanyi wanita yang berbakat. Dan selang beberapa waktu sang pianist dan penyanyi saling jatuh hati dan mulai menjalin hubungan yang serius. Penampilan dari satu tempat ke tempat yang lain membuat mereka selalu bersua serta menjadi sangat akrab satu sama lain.

Saling mencintai namun tak begitu sejalan dalam pemikiran, begitulah cerita pasangan yang mana orang tua dari sang sutradara. Walau sempat dibuat bingung dengan emosi yang dihadirkan dalam film ini namun saya akui film ini sungguh karya yang harus diapresiasi karena sepanjang film saya bukan hanya dimanjakan dengan plotnya, musik, tarian, pengambilan gambar yang buat saya bergeming “ih kok bisa sih dia, keren gitu” serta editing yang rapi dan smooth, ohya saya tak bisa juga melupakan set dan costume yang dikenakan para pemain.

Wah, saking kerennya film ini saya kehabisan kata-kata untuk mereview-nya. Apa lagi yang perlu dikomentari jika hampir semua aspek dalam film ini sempurna? Gak percaya? Silakan saja tonton film ini. Tapi kamu harus sabar menanti film ini ditayangkan di bisokop alternatif seperti; Kineforum, Paviliun 28, Ke;Kinian, IFI dll karena film ini baru akan tayang di bioskop Desember 2019, itupun kalau tayang di Indonesia ya, kalau kemarin saya menonton di Europe On Screen 2019, semacam festival film Eropa.

Categories
Movie Review

Review Film Eropa Becoming Astrid

Film tentang biografi Astrid Lindgren, seorang sastrawan yang mana salah satu karyanya yang sangat populer adalah “The Adventure of Pipi Longstocking”. Bercerita tentang kehidupan Astrid dimasa muda yang bekerja sebagai juru ketik di salah satu media. Astrid yang masih muda dan tinggal di pedesaan terpencil jatuh hati kepada bosnya di tempat kerja yang mana sekaligus ayah dari kerabat dekatnya, sampai pada akhirnya Astrid hamil. Respon yang sangat wajar yang terjadi pada orang tua ketika sang anak hamil di luar nikah, terlebih orang tuanya adalah salah satu orang berpengaruh di kalangan gereja tempat mereka ibadah.

Orang tua yang tak mau menanggung malu akibat perbuatan sang anak, berinisiatif untuk menggugurkan janin sang anak namun Astrid bersikeras akan melahirkan dan menjaga sang anak. Ia pun diasingkan keluar negeri oleh sang belahan hati, bosnya. Emosi yang diciptakan pada film ini seperti perempuan yang sedang mengalami menstruasi di hari pertama. Hamil dan harus bekerja agar memiliki uang yang cukup untuk melahirkan sang anak di negeri orang adalah hal yang berat bagi Astrid. Sedangkan, disisi lain sang belahan jiwa harus menyelesaikan proses cerai dengan sang istri dan ia pun diancam akan dipenjarakan karena ketawan menghamili Astrid.

Bingung, Chaos dan buntu adalah penggambaran yang tepat pada kejadian itu, ditambah penonton akan langsung disuguhi adegan dimana Astrid melhairkan bayinya di negeri orang. Tak cukup sampai disitu penonton akan dibawa lagi pada konflik Astrid dan anaknya, Lasse. Lasse terpaksa harus dititipkan di Denmark kepada salah satu pengasuh dan mulai saat itu sang anak pun tak tahu ibu kandungnya.

Seperti yang kita ketahui anak-anak memiliki ingatan yang sangat kuat ketika kecil. Lasse yang hanya tahu bahwa ibundanya adalah sang pengasuh membuat hati Astrid kecewa. Konflik antara anak dan ibu (Astrid dan ibunya, serta Lasse & Astrid) dalam film ini nampaknya menyentuh hati para penontonnya. Apakah mereka dapat membereskan konflik yang terjadi?

Menonton film Becoming Astrid seperti membaca teori psikolog Elizabeth Kubler-Ross tentang tahap seseorang menghadapi masalah. Denial, anger, bargaining, depression sampai pada akhirnya acceptance bahwa yang sudah terjadi memang begitu takdirnya, atau memang begitu jalannya dan tak akan bisa diulang kembali sampai pada akhirnya kita memang harus menerima apa yang telah terjadi.

Categories
Movie Review

Review Film Eropa Blue My Mind

Why whatch this movie?

Simple, karena pengen nonton aja. Hahaha. Saya pribadi biasa saja dengan film-film Eropa. Tapi harus diakui memang Eropa tak bisa dipungkiri jika kita berbicara tentang film. Beberpa film karya mereka banyak sekali yang bagus, tapi kembali lagi jika kita berbicara tentang film maka masing-masing orang punya selera yang berbeda.

What’s the movie about?

Bercerita tentang Mia, yang baru pindah ke salah satu tempat dan secara otomatis dia juga harus beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya. Mia, gadis berusia 15 tahun yang ingin mencoba bergaul dengan teman-teman populer di sekolahnya dan ingin merasakan pergaulan bebas yang dilakukan teman-temannya. Sampai pada akhirnya, keinginan Mia terwujud yaitu bergaul bersama gadis-gadis populer di sekolah dan mencoba melakukan apa yang dilakukan oleh mereka.

Hal-hal aneh yang dilakukan oleh Mia di awal-awal film akan kamu dapati jawabannya di akhir. Namun, menurut saya ada beberapa plot hole yang seharusnya bisa diisi dan diinterpretasikan dengan baik. Lalu bagaimana film ini? Apakah Lisa Bruhlmann selaku sutradara dan penulis skenario membiarkan karakter Mia hancur sebab pergaulan bebas? Atau Bruhlmann ingin menyampaikan hal lain melalui film ini? Mampukah pesan yang ingin disampaikan ditangkap baik oleh penonton?

Conclusion

Lisa Bruhlmann nampaknya ingin bercerita dan memberikan pesan pada kita tentang menerima diri kita sendiri, apapun itu yang terjadi dengan kita terima saja dan syukuri. Silakan mencoba sesuatu yang kau inginkan dalam hidup tapi jangan lupa kau juga harus tahu konsekuensi yang akan kau terima jika memilih pilihan hidup yang kau inginkan. Ada satu adegan yang membuat saya menggelengkan kepala serta menunduk sambil tertawa-spoiler alert- ketika gadis-gadis populer itu memasuki kamar mandi dan membawa testpack kemudian salah satu dari mereka mentest hasil dari urinnya, kalau diinterpretasikan kemungkinan salah satu dari gadis itu, boleh kali ya saya menjulukinya ketua genk, kebablasan ketika berhubungan dan setelah menunggu ga sampai 3 menit hasilnya negatif sontak mereka semua kegirangan dan loncat-loncat ketika melihat satu garis pada testpack. Melihat adegan itu sontak saya dan seluruh orang yang menonton tertawa terbahak dan saya pun bergumam “Dasar bocah, maunya hidup bebas tapi giliran kebablasan malah takut nerima konsekuensinya. Haha.’’

Setelah menonton ini, cukup lama saya berpikir sebenarnya apa yang penulis ingin sampaikan dlaam film ini? Plot twist diakhir yang membuat saya terbahak karena menurut saya lucu dan ga expect bakal ada adegan itu, adegan yang di luar nalar. Mungkin beberapa orang akan memaklumi akhir dari film ini karena memang genre film ini Drama Fantasy, tapi menurut saya walaupun fantasy tetap tak bisa meninggalkan sisi logika yang ada dong ya. Premis yang menarik, akan membuahkan hasil yang cukup baik jika dieksekusi dengan baik pula kan ya?

Tapi film ini tetap akan saya rekomendasikan untuk kamu yang sudah berusia 21+, walau kedewasaan tak bisa diukur dengan usia tapi usia yang terkadang membatasi kamu berhak menonton film ini atau tidak. Ada beberapa konten yang memang kalau masuk bioskop Indonesia sudah pasti dipangkas abis. Ya karena saya menonton film di Europe On Screen 2019 jadi LSM lewat ya.

Saya akui beberapa pesan dalam film ini memang agak kuat, membahas tentang issue puberty dan ABG masa kini, yang ingin hidup bebas tanpa gangguan orang tua tapi masih minta uang jajan dari orang tua. ABG yang ingin hidup bebas tapi takut menanggung konsekuensi terhadap pilihannya. ABG yang bingung bagaimana menghadapi masa depannya. Pemeran utama yang mengalami perubahan pada tubuhnya, serta memiliki kebiasaan yang agak aneh. Iya adegan aneh tersebut akan membuat kamu bergeming “Oh No” atau “Oh s*it.”

The movie is becoming dark fantasy with a lot of drama, of course.

Categories
Movie Review

Review Film Eropa Zagros

 

In relationship, dont trus any body. Just trust y our self and make good communication with your couple then u can trust him/her.

Why what’s this movie?

Beberapa kali meramaikan acara Europe On Screen 2019, tapi sering kali kedapat film yang agak sedikit zonk dan membosankan. Walau menonton film di EOS 2019 gratis tapi saya juga tak mau membuang  waktu satu jam bahkan lebih dengan film yang biasa-biasa saja. Iya, pasalnya saya punya beberapa ekspektasi tinggi untuk film-film Eropa, melihat tahun ini salah satu film mereka seperti; Cold War masuk kategori Best Foreign di Golden Globes, serta beberapa film produksi mereka bagus dan layak ditonton. Olehkarenanya, karena ga mau dapet film yang zonk saya akhirnya menyapa teman saya yang jadwalnya tak pernah sama ketika ingin menonton film di EOS 2019 dan bertanya film apa saja yang bagus menurtnya? Dan ia pun menyarankan untuk menonton film Zagros, bahkan sejauh ini menurtnya baru film itu yang bagus.

Akhirnya, saya pun menyempatkan diri untuk menonton Zagros dan sungguh berharap film ini layak ditonton, ya walau selera film saya dan kerabat saya itu agak sedikit berbeda.

What’s the movie about?

Film bercerita tentang seorang pengembala domba bernama Zagros. Ia menikah dengan Havin seorang wanita yang modern serta memiliki anak perempuan yang sangat lucu. Nampaknya hubungan mereka kurang baik semenjak orang tua dan keluarga Zagros mengatakan apabila sang istri memiliki hubungan gelap dengan kerabatnya. Semakin sering keluarganya menjelekan sang istri, semakin sering pulang Zagros penasaran dengan cerita yang sebenarnya. Apakah sang istri benar-benar mempunyai hubungan gelap dengan kerabatnya? Seperti bola salju yang bergulir, begitupun dengan keraguan Zagros terhadap istrinya.

Conclusion

Mengikuti perjalanan Zagros melawan keraguannya terhdap sang istri benar-benar menarik dan menegangkan. Saya pun penasaran apa yang sebenarnya terjadi di keluarga mereka? Dan orang tua macam apa yang menjerumuskan anaknya untuk membunuh istrinya sendiri. Sungguh di luar akal sehat. Semua adegan yang terjadi dalam film ini teramat natural, hanya saja ada beberapa bagian yang seharusnya bisa memecahkan konflik ini lebih cepat, namun jika itu terjadi nampaknya tak akan mungkin saya melihat ending yang gila diluar prediksi plot twistnya. Sungguh kejutan yang sempurna, walau beberapa kali sang sutrada sudah memberikan simbol-simbol yang kalau kamu teliti melihatnya akan paham kenapa adegan ini terjadi, ada juga beberapa simbol yang sengaja di-call back dan boom hasilnya sungguh membuat saya menggelengkan kepala.

Kalau boleh mengambil inti sari pada film ini adalah jangan sekali-kali kamu tinggal bersama orang tua dalam satu rumah ketika sudah menikah, iyah biar rumah tangga kamu ga digerecoki mereka. Tapi kalau gitu, jika ada masalah sama pasangan kamu jangan juga gerecoki orang tua kamu ya. Iya lebih baik tinggal pisah dari orang tua ketika sudah menikah, sekalian biar kamu latihan mengurus rumah sendiri. Dan kalau boleh saya ambil satu intisari lainnya adalah tetap menjalin komunikasi yang baik sesama pasanganmu, karena komunikasi yang baik kunci dari sebuah hubungan.

Silakan menyaksikan film Zagros dan nantikan plot twist yang membuat kamu tersentak, tapi tidak disarankan bagi kamu yang gampang kagetan atau punya serangan jantung.

Categories
Movie Review

There is No Place Like Home

Why watch this movie?

Awalnya saya juga tak terlalu ingin menonton film ini, karena ketika itu hanya ingin meramaikan Europe On Screen yang setiap tahun pasti dilaksanakan dengan menayangkan film-film Eropa. Dan karena jarak dari rumah lebih dekat ke Erasmus Huis (Kedutaan Belanda) jadilah meluncur kesana. Melihat review yang biasa saja di IMDB jadilah saya menonton tanpa ekspektasi tinggi, lagi pula saya juga sangat jarang akur dengan plot drama family.

What’s the movie about?

Bercerita tentang keluarga besar, sungguh sangat besar yang berkumpul kembali pada acara ulangtahun pernikahan ke 50 orang tua mereka. Kumpul keluarga yang direncanakan di sebuah Villa, namun konflik mulai terjadi ketika setelah acara mereka tak bisa kembali ke tempat tinggal masing-masing karena ada badai yang tak memungkin mereka untuk kemanapun.

How’s the conflict going on?

Jika kita berbicara tentang keluarga yang terdiri dari; ayah, ibu dan satu anak saja permasalahan yang bisa terjadi cukup banyak dan kompleks, lalu kamu bisa kebayang bukan bagaimana jika sebuah film menawarkan cerita tentang keluarga besar? Konflik yang ditawarkan banyak sekali, namun mudah dingat karena beberapa dari konflik yang hadir sungguh sangat relate dengan kehidupan sehari-hari bahkan mungkin bagi kamu yang sudah menikah pernah mengalami konflik serupa.

Konflik yang terasa dekat membuat film ini sungguh sangat nyata, mungkin di beberapa cerita kamu akan senyum sinis sendiri karena merasa konflik itu kamu banget atau kamu akan menggeleng-gelengkan kepala karena konflik yang kamu lihat pada film ini adalah konflik yang terjadi pada kerabatmu/saudaramu.

Conclusion

Jujur, saya jarang sekali menjamah film-film drama family, karena memang beberapa film drama family yang saya tonton agak kurang menarik perhatian. Mungkin karena memang kebanyakan drama family yang hadir dengan konflik yang mainstream dan karena related dengan kehidupan jadi sudah kebaca kemana cerita akan bermuara. Untungnya dalam fim There is No Place Like Home plot dibalut dengan comedy sehingga siapapun yang menontonnya mungkin akan terbahak dengan ke-chaos-an yang diciptakan oleh Penulis skenario. Act out dan dialog yang bisa menghentakan seluruh ruangan di theater menggelegar dengan tawa penonton. Dan sungguh keluarga yang sangat besar ini sangat sangat kacau; mulai dari kekacauan karena sang suami yang diam-diam selingkuh, istri yang ngambek karena sang suami mengundang mantan istrinya ke acara tersebut, anak yang dipertanyakan keperawanannya, pasangan yang siap menanti sang buah hati namun kesulitan secara financial, Lelaki yang paling sukses secara karir namun ditinggal istrinya karena selingkuh, istri yang harus rela merawat sang suami yang Alzhmeir dll.

Chaos bukan? Hahaha. Dan jujur saya bahkan tak ingat salah satu nama kartakter dari film tersebut. Karena itu tadi terlalu banyak karakter yang hadir, bahkan saya agak sedikit kebingungan menyusun kepingan-kepingan cerita pada film ini. Tapi saya terbahak beberapa kali karakter dalam film ini mulai mengoceh  ocehan yang di luar dugaan. Sayangnya, film ini mudah sekali ditebak alur ceritanya bahkan sampai ke-ending. Namun, saya tetap akan merekomendasikan There is No Place Like Home untuk kamun tonton, agar kamu bisa melihat bahwa semua keluarga punya masalah masing-masing, dan mungkin setelah menonton ini kamu bisa mengantisipasi konflik yang mungkin terjadi di keluargamu atau kamu juga bisa menonton film ini hanya untuk hiburan semata.

Categories
inspirasi Movie Review

Tips Menyontek Kreatif & Genius (?)

Menyontek dan dicontek adalah hal yang sangat lumrah. Bahkan kamu mungkin atau langganan jadi pelakunya. Hahaha. Mau tahu tips menyontek yang kreatif & genius? Oh, sayangnya saya tak akan memberikan tips itu, tapi lain cerita jika kamu sudah menonton film Thailand yang berjudul Bad Genius.


Bad Genius film Thailand ber-genre drama kriminal, kisah dengan latar dunia sekolah (SMA). Awalnya, saya kira film ini paling tentang contek menyontek di dunia sekolah yang dibalut dengan romance ala ABG. Ternyata film ini dieksekusi dengan sangat detil, kreatif & genius, seperti judul film ini.


Lynn, perempuan genius bahkan bisa menjawab soal matematika dengan hanya melihat soalnya, geniusnya sudah keblinger. Kehidupan Lynn berubah ketika bertemu Grace yang ingin sekali mengikuti ekstrakulikuler teater tetapi peraturan sekolah memutuskan untuk siswa/i yang ingin mengikuti ekskul tersebut harus memiliki nilai bagus. Grace yang memiliki kemampuan akademik yang tak cukup bagus, menginkan Lynn untuk menjadi gurunya. Pada ujian matematika tiba, ternyata Grace tetap tak bisa mengerjakan soal-soal tersebut, padahal soal tersebut serupa dengan yang diajarkan oleh Lynn. Dan Lynn pun memberikan jawabannya lewat penghapus yang di taruh di bawah sepatu dan diberikan kepada Grace. Yeah, menyontek pun berbuah hasil, Grace berhasil mendapatkan nilai bagus.


Namun, setelah nilainya tercapai, ternyata sang penulis skenario melupakan misi utama Grace meraih nilai bagus. Tanpa menyinggung Grace yang ingin aktif di teater, nampaknya penulis langsung membelokkan untuk fokus pada sindikat nyontek menyontek.


Grace menceritakan kisah Lynn ke pacarnya, Pat. Lynn sang genius di bidang akademik, miskin & pendiam. Sedangkan Pat anak orang kaya yang orang tuanya mengharapkan anaknya bisa bagus dalam akademik tapi selama ini tak bisa membahagiakan orang tuanya lewat nilai-nilai akademiknya. Karakter dalam film ini sangat nyata dan dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari.


Akhirnya, Pat & teman-temannya juga menyewa Lynn agar bisa memberikan jawaban saat ujian, sehingga mereka lulus dengan nilai yang tak mengkhawatirkan. Tentunya, Lynn menerima karena adanya imbalan yang menggiurkan. Menariknya dalam film ini, cara Lynn memberikan jawaban untuk kliennya dengan sangat kreatif, dengan menggerakan jari layaknya memencet tuts piano, sehingga pengawas mana pun mungkin tak akan sadar, bahwa Lynn sedang memberikan jawaban untuk klien-kliennya.


Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh. Sepandai-pandainya manusia menutupi kesalahan atau kecurangan apapun pasti akan ketahuan juga. Film genius, ditulis orang digenius, kurang afdol jika tak di-direct oleh orang genius. Director dalam film ini, berhasil memainkan emosional saya, pasalnya jika kamu menonton akan diajak untuk berpikir, tegang & sedih. Menarik bukan?


Bahkan, setelah ketahuan memberikan jawaban ke kline-kliennya, Lynn mendapat tawaran untuk memberikan jawaban untuk teman-temannya dalam ujian SAT, STIC. Lynn mengembangkan sayapnya untuk menyontek ujian yang dilaksanakan secara International. Lagi-lagi kecurangan terjadi diatur dengan sangat apik, detil dan rapi. Memang kampret banget karakter Lynn ini, kampret geniusnya, ga pernah kebayang malah kalau menyontek macam itu, kalau dulu saya punya teman sepinter Lynn, lumayan ga perlu susah payah belajar. Iya kan? Eh. Hahaha.


Lynn melakukan itu semua demi uang, karena uang kamu bakal bisa melihat sisi gelap dari seseorang. Padahal jika ditelaah kembali, orang yang punya uang belum tentu bahagia, ya walau tak munafik tentu saja dengan uang bisa masuk universitas luar negeri tanpa beasiswa. Dalam film ini, kamu akan mendapat pesan bahwa uang memang bukan segalanya, ternyata setelah berhasil meraup keuntungan dari para kliennya, Lynn mengaku pada pihak berwenang jika dia melakukan kecurangan pada saat STIC dan memilih menjadi seorang guru.


Kejeniusan dalam film ini terdapat pada bagaimana emosi penonton dimainkan, cara Lynn melakukan kecurangan yang sangat rapi agar tak ketahuan, serta pemain-pemain dengan acting yang pas dan tak berlebih.


Awalnya, saya menganggap film ini pasti akan membosankan dan klise. Sungguh di luar ekspetasi sehingga yang tadinya menonton hanya agar cepat tidur, malah jadi tak bisa tidur karena out of the box. Tak heran film ini mendapat banyak penghargaan baik national maupun international, pastinya sang director (Nattawut Poonpiriya) mendapat banyak penghargaan berkat kerja kerasnya. 


Pesan moralnya sepandai-pandainya kamu curang pasti bakal ketahuan dan uang tak akan bisa membeli kebahagianmu. So, jangan nyontek! Karena menyontek adalah awal/akar dari korupsi. Kok bisa? Ya iyalah, dari hal kecil menganggap enteng jadi kebablasan nyolong uang rakyat. Jadi, ngebayangin para koruptor itu dulu nyonteknya gimana yaa? Ah, pasti ga kreatif, buktinya sekarang masuk penjara gara-gara nyolong duit. Atau jangankan ujian, ngerjain PR aja pakai joki mungkin. Entahlah.

Categories
Movie Review

Deadpool 2: Film Ternyinyir di Tahun 2018 (Movie Review)

Beberapa bulan terakhir, bioskop sedang diwarnai dengan film superhero bentukan Marvel. Setelah Avangers yang sampai sekarang masih tayang di bioksop, kali ini Fox 20th Century, bekerjasama dengan Marvel memproduksi Deadpool 2. Super hero yang satu ini memang agak sedikit berbeda dari yang lain. Mungkin DeadPool lebih mirip seperti Spiderman hanya saja Deadpool hadir dengan sangat menyegarkan, lebih lucu dan berandal. 
Menonton Deadpool 2, benar-benar sangat menguras air mata, serta membuat rahang pipi pegal. Dari awal kemunculan di menit awal bahkan sampai scene yang mungkin di film lain akan menguras air mata, maka dalam film ini kamu akan terjungkal terbahak. Ohya, kamu juga bisa menangis menonton film ini, iya menangis karena terlalu banyak tertawa. 
Deadpool 2, saya nobatkan sebagai film tersatir, ternyinyir dan terlucu abad ini. Serta juga tak lupa, angkat topi untuk Penulis skenario Deadpool 2, selamat Anda mendapat julukan ‘Penulis Termalas’. Kok bisa? Iya mangkanya nonton filmnya. Hahaha. Ngeselin ya? 
Deadpool 2, cukup satir. Beberapa bagian, kamu akan diajak menertawai hal-hal yang cukup tabu untuk ditertawakan oleh Netizen Indonesia. Saya pribadi, langsung connect dengan lontaran jokes yang ada, pasalnya saya memang suka memandang segala sesuatu dari sisi humornya. Saya jadi teringat satu buku yang membuat terbahak menertawai hal yang sungguh tabu, buku yang ditulis oleh Filsuf ternama ini bisa jadi referensi kamu untuk berpikir sebelum tertawa. 
Bukan hanya satir, film ini juga nyinyir banget. Beruntungnya saya lebih suka menonton film yang bergenre slince of life, jadi saya bukan Marvel Squad atau DC Squad. Kalau kamu DC Squad garis keras, saran saya tak usah menonton karena memang banyak sekali dialog-dialog yang akan membuat kamu terbahak, jika kamu DC Squad mungkin tak akan tertawa tetapi kesal atau bahkan sakit hati. Ya bagaimana ya, DC sekarang cukup jauh dibanding Marvel. Mungkin DC akan bangkit jika mendahului Marvel dalam membuat karakter superhero muslim. Let’s see. 
Karena kesatiran dan kenyinyiran dialog dalam film Deadpool ini lah yang membuat film ini sangat-sangat lucu, bahkan sekalipun dalam adegan sedih atau adegan (spoiler alert!) sebelum Deadpool mati. Tetapi memang dialog yang lucu tersebut cukup bisa memberi label si penulis skenario ‘Penulis Termalas’. Pasalnya, kamu akan diajak tertawa karena si penulis membuat jokes tentang si rival (DC) menyebut Academy agar melihat adegan atau film Deadpool 2, untuk yang ini benar-benar membuat saya terbahak, film superhero memang jarang meraih penghargaan di Academy Award. Ibarat menembak, si penulis menembak dengan sangat tepat. Hahaha. 
Bukan hanya itu, jokes yang menurut saya cukup menggelitik adalah ketika Deadpool sebelum mati berkata, aku tak ingin mati tanpa penonton. Bedebah! I love that joke. Hahaha. 
Nampaknya, Marvel memang memiliki marketing yang sangat hebat. Setelah film Avangers booming dan sangat sangat laku keras, khususnya di Indonesia. Dan sepertinya penonton Deadpool 2, dipaksa untuk menonton Avangers terlebih dahulu. Ya, karena ada beberapa part yang memang diambil dari Avangers. Ohya, menariknya twistnya cukup unpredictable, saya pun merasa dikasih surprise banget sama si Penulis, dasar emang Penulis Malas. Hahaha. 
Beberapa jokes yang hadir memang tak orisinil, tapi menurut saya selama itu masih bisa dinikmati dan sangat lucu, kenapa kita tak bantu tertawa? Toh, hasilnya memang lucu dan bahkan kurang ajar lucunya. 
Walaupun begitu, alur ceritanya ada beberapa yang saya rasa harusnya bagian ini diceritakan, jangan di-skip. Kecil tapi menurut saya lumayan fatal. Karena jatuhnya bagian ini seperti FTV yang sukanya tiba-tiba. Bagian dimana Domina (salah satu anggota tim X-Force yang dibentuk oleh Deadpool untuk menyelamatkan Russel, anak mutan) dijelaskan sedikit latarbelakangnya, sampai dia bisa menggunakan pistol, terjun payung, nyetir truk dll. Ah, tapi apapun itu akan tertutup dengan semua kejenakaan Ryan Reynold, Deadpool. Kalau saya lebih bahagia nonton Deadpool 2, ketimbang Avangers.  
Jadi, kapan mau melihat film yang sudah di tulis dari Penulis Termalas yang pernah ada? 
8.5/10