Categories
Book Review

#BookReview: Rumah Kertas by Carlos Maria Dominguez

Pernah kebayang untuk tinggal di rumah yang dibangun dari tumpukan kertas-kertas atau buku? Entahlah, saya pun tak pernah membayangkan hal itu, tapi Carlos Maria Dominguez mempunyai sudut pandang yang berbeda pada pecinta buku, kutu buku atau kolektor buku sekalipun dan bahkan dia bisa mengeksplore mereka semua sehingga menjadi satu cerita yang asik dan mungkin di beberapa part kamu akan merasa ‘gue banget’.

Kisah dalam Rumah Kertas adalah tentang perjalanan menyusuri asal usul buku aneh yang diterima rekannya dari profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris yang tewas ditabrak mobil ketika sedang membaca buku. Buku aneh yang diterimanya membacanya dan mungkin juga kamu sebagai pembaca memasuki dunia pecinta buku, dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya.


Dari kisah ini kamu akan diajak menikmati kegilaan penulis membuat cerita tenta buku dan penikmatnya. Mulai dari seorang penikmat buku yang membeli buku hanya untuk koleksi di rumahnya, mungkin mereka menjadikan buku adalah barang antik yang perlu dilestarikan, bahkan si Penulis juga bercerita tentang seseorang yang membuat bentuk manusia dari buku yang sedang tertidur di atas kasurnya. Mengerikan bukan? Tapi mungkin saja itu memang pernah terjadi di dunia ini, seseorang yang terlalu percaya dengan buku bahkan dia menjadikan buku sebagai teman kencan atau tidur sekalipun. Ada juga yang harus menjual mobilnya demi menumpuk buku di garasi rumahnya. Ohya, ada lagi yang meninggal karena tertimpa buku di perustakaannya, bayangkan berapa ton buku yang jatuh menimpanya? Gokil ya?!


Unik dan gila. Memang dua hal yang hampir mirip. Ketika membaca perjalanan untuk menemukan asal usul buku aneh tersebut, banyak cerita yang membuat kamu mengernyitkan dahi karena kegilaan dan keunikan ceritanya. Dalam buku ini, Carlos juga bercerita tentang tipe pembaca, ada yang membaca buku dan memberi  lipatan pada ujung halaman atau ada yang mencorat-coret buku dengan rangkuman/penjelasan/opini menurut dia atau juga tipe pembaca yang harus bersih dan tak boleh kusut sedikitpun sampul/kertasnya. Dominguez menceritakan hal-hal yang terjadi pada penikmat buku dan sangat dekat.


Akhir dari ide cerita itulah yang membuat klimaks dalam buku ini, hal yang tak terduga dan tak mungkin menurut saya, namun Dominguez menceritakannya dalam porsi yang pas. Rumah yang dibangun dari tumpukan buku itu ada atau hanya fiksional penulis. Namun, sampai sekarang saya menulis review ini, saya berpikir mungkin saja itu benar ada, tak ada yang tak mungkin bagi para penikmat atau penggemar buku di dunia ini.

Categories
Book Review

Lelucon Para Koruptor (Book Review): Kritik Satir Nan Menggelitik Terhadap Politik

Hal yang paling menyenangkan di dunia ini memang mengkritik politik, baik pelakunya hingga pengamatnya. Menjelang Pilkada atau Pilpres peminat kritik politik makin merajalela, bahkan sampai ada sebutan kritikus politik dadakan, apalagi di zaman teknologi serba canggih seperti saat ini. Kritik yang dilakukan berbagai macam cara lewat sosial media. Tak dikit yang mengkritik hanya untuk menjatuhkan lawan politik. Politik apapun bahasannya ujung-ujungnya bisa jadi bertengkar.


Berbeda dengan Agus Noor yang mengkritik politik lewat humor. Kritik satir nan menggelitik terhadap politik ini dilakukan Agus Noor dengan cara yang sangat berkelas, kumpulan cerpen yang berjudul Lelucon Para Koruptor. Kurang lebih ada 11 kumpulan cerita yang bertema politik, Lelucon Para Koruptor sungguh menggiurkan untuk dibaca.


Sungguh tak terduka, bahkan saya tak pernah berpikir bahwa politik dan politikus yang rakus itu bisa dijadikan bahan lelucon. Memang drama anggota dewan yang tertabrak tiang listrik sehingga menimbulkan benjolan sebesar bakpao itu cukup menggelitik bagi beberapa orang, tapi bagi saya yang suka menonton drama dan membaca novel dengan alur dan plot yang bagus, drama anggota dewan itu jadi sangat norak dan menjijikan. Jika Ayat-ayat Cinta 2 cukup konyol dan menggelitik, namun masih cukup bisa ditonton karena ada Dewi Sandra & Fedi Nuril, drama aggota dewan ini, sudah di tahap konyol tingkat dewa bahkan melupakan logika. Bahkan plot FTV lebih bagus dibanding drama anggota dewan tiang listrik itu.


Agus Noor yang dikenal sebagai cerpenis, penyair, esais & penulis skenario televisi dan naskah lakon dengan gaya parodi dan satir menjadikan Lelucon Para Koruptor tak biasa, bahkan sekalipun kamu bukan penikmat politik sungguh dan pasti sangat bisa dibaca dan dinikmati sambil minum kopi di saat senja. Gaya bercerita yang santai, namun memiliki plot twist yang membuat terbahak atau kamu akan terngakak ketika membacanya. Yang jelas, Agus Noor tak akan membiarkan atau menodai cerpennya dengan drama plot ala anggota dewan yang hampir mirip dengan kampret.


Cerpen pertama dalam buku ini saja sudah membuat siapa pun yang membacanya terbahak, saksi mata korban pembunuhan jendral ternyata adalah seekor anjing buta dan beberapa cerpen lainnya juga melibatkan seekor anjing. Ada-ada saja Agus Noor ini, kasian juga anjing yang sering disebut-sebut dalam buku ini, padahal masih banyak binatang yang bahkan kelakuannya tidak pantas jadi binatang, nah lho?!


Buku ini mengajarkan kita untuk tetap tersenyum bahkan tertawa dalam menghadapi suasana atau manusia kampret yang rakus akan harta dan tahta. Saat membaca buku ini, kamu akan dibawa ke alam yang penuh gelak tawa, bisa jadi kamu akan lupa sesaat busuknya para koruptor, tapi setelah membacanya mungkin saja kamu akan melihat orang-orang rakus itu seperti badut kampung. Apalagi buku ini disertai dengan gambar-gambar komik yang kocak dan menyentil.


Ohya, jika kamu membaca buku ini jangan lupa untuk membaca bagian prolog yang ditulis oleh kawan Agus Noor, Edi AH Iyubenu. Hal ini penting agar kamu mengetahui lebih dalam tentang Agus Noor dan karya-karyanya.

Categories
Book Review

Review Buku Dekut Burung Kukuk karya J.K Rowling

“Orang awam, akan terpaku pada motif. Sementara kaum profesional akan menempatkan kesempatan pada urutan pertama”



Dekut Burung Kukuk, buku yang ditulis oleh J.K Rowling dengan nama samaran Robert Galbraith. Awal kemunculan buku Dekut Burung Kukuk atau The Cuckoo’s Calling muncul dengan penulis bernama Robert Galbraith dan bukunya terjual cukup laris di pasaran, lalu beberapa waktu kemudian ada berita bahwa Robert Galbraith adalah nama samaran yang digunakan J.K Rowling. Hasilnya, buku ini semakin laku keras di pasaran. 

Dekut Burung Kukuk, buku yang bercerita tentang supermodel, Lula Landry yang ditemukan terkapar di tengah jalan dan mengenakan pakaian rancangan designer ternama di negaranya. Menarik, itu hal yang pertama terlontar dari mulut saya. Bagaimana tidak, ketika membaca buku ini kita akan diajak untuk menduga, apakah supermodel bunuh diri atau dibunuh? ditambah kita akan semakin bingung, karena sang kakak dari supermodel menyewa Detektif Partikelir untuk mencari siapa pembunuh adiknya, ditengah putusan hakim bahwa sang adik meninggal karena bunuh diri. 

Hal yang paling asik di dunia ini adalah menebak sesuatu. Lembar per lembar yang dibaca serta diikuti rasa penasaran yang menggebu. Sampai pada akhirnya, sang pembaca akan menemukan jawabannya di act 3 dari buku ini. Yaiyalah! hahaha. Kalau di act 1 namanya opening ya. 

Cormoran Strike, sang Detektif Partikelir yang ditugaskan oleh kakak Lula mencoba mencari bukti bahwa Lula Landry memang dibunuh dan mencari si pembunuh. Setelah beberapa waktu, akhirnya Strike mendapat kasus yang cukup berat dan kali ini ia dibantu oleh Karyawan magang, Robin. Menyelediki siapa pembunuh Lula Landry, supermodel yang sangat berkelimpahan harta serta ketenaran, benar-benar menyulitkan Strike memutuskan pembunuh sebenarnya. 

J. K Rowling memang penulis ulung, dia tahu bagaimana membuat pembaca penasaran, bingung, sedih DLL. Rasanya saya ingin sekali mengacak-acak rambut si penulis. Bagaimana bisa dia menulis cerita sedetil ini. Novel dengan jumlah halaman 517 ini akan membawamu kepada cerita chaos-nya kehidupan Lula Landry, keluarganya, teman-temannya & orang sekitarnya. Bukan hanya itu, kamu juga akan dibawa ke kehidupan yang tak kalah amburadulnya, kehidupan Cormoran Strike, baik keluarganya, pasangannya bahkan financial sang detektif. Serta kamu juga akan diajak masuk dalam cerita Robin dan pasangannya. 

Bagaimana kamu tertarik membaca buku Dekuk Burung Kukuk? Menurut kamu, Apakah Lula Landry dibunuh atau bunuh diri? Jika bunuh diri siapa pelakunya? 

Mudah saja untuk mengetahui pelakunya jika kamu merujuk kepada kutipan awal yang saya tulis di tulisan ini, yang kebetulan memang dikatakan oleh Strike. Jadi, sudah tahukan siapa pembunuhnya? atau masih bingung? Kalau gitu silakan baca bukunya segera, sebelum mati penasaran. 
Categories
Book Review

Review Buku: Pemburu Aksara karya Ana Maria Shua

Sejak dua tahun yang lalu, Marjin Kiri menjadi salah satu penerbit favorit saya. Penerbit ini menarik hati saya karena banyak sekali buku-buku yang diterbitkan adalah buku karya Penulis-penulis luar negeri. Maklum, karena ingin sekali membaca karya-karya penulis luar terutama penulis Amerika Latin, namun tak pandai berbahasa Inggris jadilah, Marjin Kiri bagai air di tengah Gurun Sahara, pelepas dahaga dan membuat semangat hidup. Setelah baca buku ini (mungkin) saya akan menjuluki diri saya bagian dari PeMarkir, sapaan bagi pecinta karya-karya Marjin Kiri.



Kali ini Marjin Kiri hadir dengan karya Ana Maria Shua, Penulis kelahiran Buenos Aires. Terbitnya buku ini agak membuat saya sedikit kecewa karena buku ini sangat bagus dan kenapa baru tahun 2018 buku ini hadir dalam bentuk terjemahan, padahal aslinya buku ini terbit tahun 2009. Pemburu Aksara, sepilihan fiksi mini membuat hati saya sedih di beberapa cerita dan tertawa terbahak di cerita-cerita dengan ending yang unpredictable.


Awal melihat promosi yang dilakukan Marjin Kiri lewat instagramnya, serasa pas sekali. Pasalnya, saya sedang gemar membuat fiksi mini, karena di komunitas yang saya ikuti, Klub Blogger & Buku (KUBBU), ada satu malam fiksi mini dimana anggota grup bebas membuat fiksi mini dengan tema yang ditentukan. Fiksi mini sendiri adalah cerita atau narasi yang terbuat dari 2 atau 3 kalimat saja. Namun, ketika saya buka buku Pemburu Aksara ternyata fiksi mininya tak sesingkat yang pernah saya buat ketika malam fiksi mini di KUBBU. Saya pun menyimpulkan bahwa, fiksi mini memang cerita fiksi yang singkat, dalam buku ini semua cerita maksimal tak lebih dari satu setengah halaman.


Saya masih tak bisa berpikir bagaimana Ana Maria Shua membuat cerita dengan sangat ringkas, namun ceritanya punya punchline di akhir yang sangat kena dan menyentil. Saya pun sempat dibuat menyunggingkan satu bibir dan mengernyitkan dahi pada beberapa cerita, mungkin saya harus baca berkali-kali pada bagian itu atau mungkin mendiskusikannya langsung dengan teman saya. Membaca buku ini seperti memecahkan pertanyaan pada Teka Teki Silang (TTS), ada beberapa bagian yang mudah dicerna dan ada beberapa bagian kecil yang membingungkan. Apapun itu, saya sangat suka pada fiksi mini Ana Maria. Cerdas!


Terbagi menjadi 6 bagian yaitu; Pemimpi, Pondok Geisha, Botani Kekacauan, Musim Hantu, Fenomena Sirkus dan Karya Terserak. Favorit saya dalam buku ini adalah bagian Pemimpi. Benar-benar mengesalkan Ana Maria ini, saya jadi ingin sekali membelah isi otaknya, sampai bisa buat fiksi mini yang berkesan dan sulit dilupakan. Dalam buku ini juga banyak kosa kata baru yang bisa kamu dapat.


Nama Ana Maria Shua sudah mulai berkibar sejak umurnya 16 tahun lewat kumpulan puisi. Serta puluhan buku yang ia terbitkan dengan genre; puisi, novel, cerita pendek, fiksi mini dan humor. Bukan hanya itu, ia juga menerima beberapa penghargaan karenanya sayang sekali jika kita tak menyerap ilmu beliau lewat karya-karyanya. Bersyukur sekali, saya bisa menikmati dan memahami karyanya, hal ini tak terlepas dari Ronny Agustinus sebagai penerjemah. Ke depannya saya berharap bisa menikmati karya-karya penulis luar dengan cepat, bahkan tak perlu menunggu bertahun-tahun. Terima kasih, Marjin kiri yang terus menerbitkan buku karena kualitas. Semoga terus mengudara ya!

Categories
Book Review

Nostalgia Lewat Buku Anak Aku, Meps & Beps (Book Review)

Masa kecil adalah masa-masa yang sangat-sangat menakjubkan. Jelas menakjubkan, dimana kamu ga perlu lagi berpikir besok makan apa, kapan nikah, ribut mau resign dari kantor, atau mikir kenapa si temen suka bermuka dua. Karena yang ada dalam benak anak kecil hanya main, main dan main. It’s fun. Always be  fun. Setiap dari kita pasti ingin sekali kembali ke masa kecil, masa dimana setiap libur nonton film kartun dari pagi sampai sore atau cukup nebeng tv teman untuk menonton Disney Channel.

Menemukan buku Aku, Meps dan Beps karya anak dan ibu, Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo, sangat-sangat menyenangkan sekali. Buku yang diambil dari sudut pandang si anak yang mana akan membawa kita pada masa kana-kanak. Simple story yang disampaikan oleh ibu dan anak ini membuat saya berpikir bahwa menulis itu mudah sekali ternyata, hanya perlu menggali dan berpikir lebih keras untuk menghasilkan karya yang berbeda.

Out of the box, itu yang dihadirkan dalam buku ini. Bahkan saya baru pertama kali membaca buku anak seperti ini. Buku yang ditulis dari sudut pandang sang anak, so bisa dipastikan ketika kamu membaca buku ini, kamu akan membaca dalam hati dengan logat anak-anak. Selalu asik menyaksikan perjalanan seseorang dan kali ini kita akan disuguhkan perjalanan Soca ketika kecil dan bagaimana orang tuanya merawatnya. Simpel memang, tapi banyak yang akan kamu dapat dalam buku ini.

Reda sang ibu mencoba mematahkan skeptis di masyarakat tentang bapak yang harus mencari nafkah buat keluarga dan ibu yang harus memasak dan menjaga buah hati di rumah. Lewat penuturan sang anak, kita akan dibawa bagaimana Meps, panggilan sang anak untuk ibunya dan Beps, untuk sang ayah, merawat anak dengan peran keluarga yang justru sebaliknya. Beps bekerja di rumah dan mengantar jemput sang anak dan istri, serta Meps yang bekerja kantoran bahkan cukup sering lembur di kantor.

Aku, Meps & Beps ringan dibaca namun susah dilupakan karena cerita-cerita yang dihadirkan memang betul-betul menggemaskan dan membuat kita nostalgia masa kecil. Saya juga suka bagaimana penulis-penulis ini menceritakan hal kecil menurut orang dewasa, namun mungkin itu hal yang sangat penting bagi anak-anak. Saya jatuh cinta bukan pada halaman pertama, bahkan saat membaca blurp buku ini saya langsung mantap ingin membelinya. Lucu dan unik. 
Setiap buku mempunyai kata-kata iconic dalam bukunya, itulah yang membuat saya selalu ingat pada sebuah buku. Dalam buku Resign! Almira menggunakan kata Cungpret – Kacung Kampret – untuk menggambarkan sosok karyawan kantoran. Namun dalam buku ini, entah memang dari lahir atau hanya dalam buku ini si anak memanggil ibunya dengan sebutan Meps dan Beps untuk sang ayah. Apapun itu, dua kata itu berhasil mencuri perhatian saya dan mungkin akan selalu terngiang. Dan saya jadi pengen punya panggilan Meps ketika menjadi ibu kelak. Hahaha.

Kesuksesan buku ini hadir karena penerbit indie yang mulai menarik perhatian saya di tahun 2017, bahkan saya lebih tahu mereka punya toko buku terlebih dahulu dibanding dengan penerbitan mereka. Toko buku alternatif yang hadir di tengah-tengah toko buku besar di jakarta, membuat saya jatuh cinta, pasalnya buku-buku di toko buku ini bagus-bagus dan jarang ada di toko buku besar. Semanjak kehadirannya, saya jadi rajin beli buku karya penulis-penulis Amerika Latin. Yang mana karyanya membuat saya menggelengkan kepala, terbahak atau menyunggingkan bibir kiri.
POST Press penerbit indie baru yang menerbitkan karya dengan satu syarat, naskahmu harus sangat-sangat digandrungi oleh mereka. Dan hasilnya pun cukup menakjubkan karya-karya terbitan POST Press berbeda dari buku yang ada di pasaran. Mereka hadir bukan untuk mengikuti pasar, tapi mereka hadir untuk memberikan bacaan yang bisa dibilang pasar yang akan mengikuti mereka. Seperti buku ini, ternyata sudah masuk cetakan ke-4 di tahun 2018, buku ini terbit pada tahun 2016. Awesome bukan? Walau saya kurang tahu cetakan pertama mereka cetak berapa eks. Dan bisa dibilang hadir dengan cukup berani, buku pertama terbitan POST, Aku Meps & Beps bukan hanya berbeda dari segi cerita tetapi lengkap dengan gambar yang benar-benar sangat mendukung cerita dalam buku.

Buku-buku indie yang hadir terkadang memang sangat total, baik segi cerita alur dan look buku itu sendiri. Begitu juga yang saya rasakan pada buku terbitan POST Press ini nampaknya di-design dengan sangat menarik mungkin, pembatas buku yang dibuat menyatu dengan cover serta tata letak ISBN yang cukup berbeda seperti buku pada umumnya. Hal kecil namun sangat unik. Sungguh. 

Categories
Book Review

Ubur-ubur Lembur: Cerita Perjalanan Karir Raditya Dika (Book Review)

Raditya Dika, salah satu Penulis favorit saya sejak dulu.  Karya-karyanya bisa dibilang yang membuat saya menyukai membaca buku, dan karyanya juga yang membuat saya addict dengan buku-buku lain. Tahu betul karir Radit dimulai, sejak buku Kambing Jantan, tulisan-tulisannya di blog sampai sekarang sudah jadi pemain film serta duduk di bangku Sutradara pada filmnya. Perjalanan panjang, yang kadang kalau saya melihat Radit berkata “Ya ampun you deserved it, Dit!”

Buku-buku Radit yang seputar kehidupannya sehari-sehari selalu cocok untuk saya yang tidak begitu menyukai tulisan-tulisan berat. Ringan tapi penuh makna, itulah yang ingin Radit sampaikan kepada penulis. Tulisannya memang tak begitu berat, tapi jika kamu membacanya ada banyak hal yang akan kamu terima dari Radit, terlebih jika kamu memanandang semua karya-karyanya dari sudut pandang yang berbeda.

Saya dan teman-teman saya sempat berpikir ketika Radit mengeluarkan buku barunya, Ubur-ubur Lembur. Gila ya, masih sempat ini orang nulis buku di tengah kesibukannya yang sudah jadi juri Stand Up Comedy-an, Komika yang materinya sudah terjadwal buat release di Channel Youtube nya, nulis naskah film, buat film, buat vlog bahkan sekarang dia juga harus menyiapkan mental dan fisik untuk pernikahannya. Tapi setelah itu saya ga heran, kenapa Ubur-ubur Lembur ini hadir di awal tahun 2018. Orang produktif, memang selalu menyempatkan berkarya di tengah kesibukan apapun.

Bukan Raditya Dika namanya, jika mengeluarkan buku dengan judul yang unik. Dari awal hingga saat ini Radit selalu konsisten mengeluarkan karya dengan judul menggunakan nama binatang. Pada Ubur-ubur Lembur saya berusaha memahami lembar-per lembar nya, bahkan sampai saya mendapatkan kenapa Radit memberikan judul binatang ini, sampai pada akhirnya saya menangkap pesan yang ingin Radit sampaikan, simple but so touching. Terkadang syaa berpikir Radit ini sebenarnya kalau nulis suka tersedih, tapi karena peran orang sekelilingnya yang dia ceritakan jadilah kita dibuatnya terbahak. Seperti dalam buku ini, bahkan ada touching momment dimana Radit kangen banget sama tetangganya dulu dan ingin sekali bersua karena sudah lama sekali.

Ubur-ubur Lembur tentang apa?

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, buku ini tentang perjalanan karir Radit sejak awal dia menjadi Cungpret (Kacung Kampret) – meminjam kata dari Almira Bastari pada novel Resign!- hingga menjadi seperti saat ini, bagaimana Radit yang belum punya tujuan ketika sudah mendekati ujian akhir SMA, Radit yang resign demi menjadi full writer. Jadi, kalau saat ini kamu belum tahu mau jadi apa, tenang saja toh Radit juga dulu seperti kamu, tingggal terus saja eksplore diri kamu. And you’ll find what do you want to be.

Pada awal-awal bab saya kurang menangkap pesan Radit pada buku ini, setelahnya saya rasa buku ini lumayan asik untuk mengambil pelajaran dari orang yang sudah sukses, bahkan orang terkenal seperti Radit sering sekali mengalami hal-hal yang tak menyenangkan. Kemana pun dia pergi selalu saja ada yang minta selfie, bahkan ketika dia sedang menulis di sebuah cafe. Hal konyol yang ada pada buku ini adalah bagaimana seorang anak Sd bertanya padanya, “Bagaimana sih caranya jadi Artis?’’ iyak netizen memang punya syndrom pengen banget jadi artis dan terkenal, itu juga alasannya kenapa sekarang banyak anak ABG atau masih bau kencur yang mulai merambah dunia Youtube, ya karena pengen terkenal dan kehidupannya juga banyak pengen orang-orang tahu, jadilah dia membuat video sendiri tentang dirinya. Ya, kalau artis kan ga perlu ngerekam sendiri ya karena selalu saja ada pemburu berita yang siap mewawancarainya. Walaupun sekarang sudah terbukti banyak artis-artis yang punya channel pribadi untuk menggugah pertamanan dia dengan artis lain, atau bahkan bagaimana wujud closet mereka. The hell, ini yang pertama kali saya bilang ketika ada artis yang meng-upload closet-nya dengan durasi 15 menit “trus kalau saya tahu closet nya dia kenapa? Abis ngeliat saya bakal terinspirasi gitu? Hahah” little bit rude ya, tapi ya itu saya bahkan menggunakan youtube untuk mengasah skill dan melihat hal-hal yang penting, seperti channelnya Deddy Corbuzier, Remot Tivi dll.

So, back to the topic. Pada buku ini, yang membuat saya tercengang adalah bagaimana percakapan Radit dan Prili. Menjadi artis papan atas ga melulu bahagia, bahkan sering kali orang disekitarnya mengambil keuntungan. Prili sempat dipaksa buat upload foto dengan temannya, karena si teman  ingin sekali memperbanyak followers. Sinting! Hahaha. Jadi dia temanan sama Prili Cuma karena pengen banget followersnya nambah. Ya Tuhan, musti diapain orang-orang yang kaya gini. Kebayangkan kalau kamu terkenal orang-orang yang dekat sama kamu bisa jadi dekat karena ada maksud. Padahal percuma ya, banyak followers kalau postingannya ga ngasih banyak manfaat bagi orang lain. Duh!

Recommended ga nih buat dibaca?
Lucu. Touching. Usefull. 3 kata yang pantas saya layangkan untuk buku ini. Bisa jadi buku ini adalah project film Radit yang berikutnya. I wish. Mengingat, beberapa tahun terakhir Radit absen dari dunia perfilman, yang mungkin karena harus mempersiapkan pernikahannya.
Buku ini, bagus buat kamu yang ingin belajar memahami hidup lebih dalam lagi. Serta bagus juga buat kamu yang suka numpang ketenanaran orang lain, atau suka memanfaatkan temanmu atau kamu yang bercita-cita menjadi terkenal. Read it, and you’ll know more about live. Hidup bukan hanya tentang seberapa orang kenal kamu, tapi seberapa banyak orang yang mendapat manfaat kamu.

Categories
Book Review

Kisah Resign! yang Berkesan (Book Review)

Kapan Terkahir kali pingin resign?


Bagi kamu yang sudah terjun di dunia kerja, mungkin sering sekali bosan dengan pekerjaan yang kamu geluti yang berujung pingin banget resign. Saya kalau kumpul dengan teman-teman, ujung-ujungnya curhat tentang kerjaan dan banyak juga yang dari mereka mau resign. Kalau kamu belum kerja mungkin akan bingung kenapa orang-orang yang sudah bekerja sering sekali mengeluhkan pekerjaannya sampai mau resign. Ibaratnya orang yang pacaran, dikit-dikit si pasangan minta putus, besoknya baikan ya ga pingin putus lagi, begitu saja seterusnya. Sama orang bekerja juga gitu, dikit-dikit pingin resign, besoknya ga mau resign. Hahaha. Orang dewasa memang suka aneh.

Penyebab resignada banyak mulai dari teman-teman di kantor yang sukanya sikut-sikutan atau bermuka dua di depan bos demi sebuah promosi, bisa juga karena senior yang kalau ngasih kerjaan suka seenaknya udel atau si bos yang bener-bener minta dibacain alfatihah atau yasin sekalian dan ada juga yang mau resign karena gaji ga seimbang sama kerjaan atau dia ngerasa kerjaannya bukan passion. Apapun itu, penyebabnya adalah ketidaknyamanan. Kaya sebuah relationship, kalau sudah ga nyaman ujung-ujungnya minta putus.

Jika berbicara tentang resign, pasti berhubungannya sama hal-hal yang tidak menyenangkan. Namun, berbeda jika kamu membaca buku Resign!karya Almira Bastari.


Bukunya tentang apa?


Seperti judulnya Resign! yang pasti buku ini membahas tentang karyawan pada perusahaan consulting yang selalu ingin resign, setiap karyawan punya alasan masing-masing. Kalau dibuat dalam satu premis kurang lebih sebagai berikut, Seorang karyawan yang ingin resign dari kantornya, namun selalu digagalkan oleh si bos.



Dalam cerita ini ada 4 karyawan yang ingin sekali resign, mereka adalah Alranita pegawai termuda yang ingin resign karena perlakuan si bos yang seenake jidat, Carlo karyawan yang baru menikah dan ingin sekali mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih tinggi, Kareninakaryawan senior yang kerjaan selalu dianggap seperti junior alias salah terus apapun yang dia kerjakan tapi pada kenyataannya memang begitu dan Andre yang pingin resign karena pingin punya kehidupan yang normal maklum baru punya anak dan kamu tahu sendirilah ya, kalau kerja sebagai consultan itu jam lemburnya suka ga liat hari, oh kalau kamu gak ngerti tentang pekerjaan consulting, tak usah khawatir, penulis akan memberikan penjelasan tentang pekerjaan consultan perusahaan.

Ohya, selain bercerita tentang 4 karyawan tersebut, kamu juga akan disuguhkan dengan karakter yang benar-benar bossy abis, Tigran si bos yang buat saya geleng-geleng kepala pas baca novel ini. Dan juga buat saya senyum-senyum sendiri di beberapa karakter Tigran. Parahnya si bos selalu tahu kalau karyawannya minta cuti buat interview di kantor lain hahaha. Si bos indigo kayanya.


Siapa aja yang boleh baca buku ini?


Buku Resign! dilabeli dengan Metropop, walaupun begitu kamu ga usah khawatir buku ini ga ada satu pun adegan ciuman apalagi yang lebih parah dari itu. Aman. Siapapun kamu bisa baca buku ini, apalagi kamu yang pingin ketawa haha-hihi. Kamu yang sudah kerja sih, saran saya wajib beli buku ini karena ini temanya kamu banget, konfliknya deket banget sama dunia kantoran. Bisa jadi setelah baca buku ini kamu yang tadinya mau resign, jadi mantep mau resign *eh hahaha.


Gimana? Masih belum punya keinginan mau baca atau beli buku ini ya.


Hmm, gini sebenarnya yang saya suka dari buku ini bagaimana Almira Bastari menceritakan dunia kantoran dengan gaya bahasa yang sangat luwes dan gak bertele-tele, serta bagaimana dia menyebut para pekerja kantor Cungpret (Kacung Kampret) haha. She’s genius. Kata-kata itu iconic banget, si penulis yang berlatar belakang memiliki pendidikan di Meulbourne dan menciptakan kata itu, agak aneh sebenarnya, tapi itu membuktikan bahwa dunia kerja itu memang kampret banget, mau apapun latar belakang dia apalagi kalau punya bos kaya si Tigran. Hahaha. Saya biasa bercanda dengan kawan-kawan menyebut para pekerja di sebuah perusahaan adalah Budak Perusahaan atau Budak Coorporate, ternyata ada yang lebih saklek ngasih julukan, Cungpret. Kampret emang si Almira ini, jadi ketagihan baca karya dia yang lain, kan. Hahaha.



One more thing, pesan Almira dalam bukunya, semoga kamu bisa menemukan pekerjaan yang baik untukmu dan keluarga. Kalau kamu ga happy, mungkin bisa resign?
Kacung Kampret emang si Almira. Hahaha.


4/5

Categories
Book Review

Ringan Dan Penuh Dengan Gelak Tawa

Akhir-akhir ini banyak sekali musikalisasi puisi muncul di timeline dan explore instagram saya. Sejak dahulu puisi sukses membuat siapapun membacanya menggetarkan hati, atau mungkin bisa terisak ketika mendengar musikalisasi puisi atau membaca puisi dalam sebuah buku. Bahkan film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) tahun 2002 yang dipemerankan utamanya, Rangga (Nicolas Saputra) dan Cinta (Dian Sastro)  gemar sekali membuat dan membaca puisi.
Namun, tahun 2016 muncul buku puisi yang menurut saya agak beda. Di tengah ramainya orang membuat puisi romance dan bikin baper, kali ini Beni Satryo melahirkan Buku Pwissie Pendidikan Jasmani dan Kesunyian yang mengundang gelak tawa siapapun membacanya. Buku karya beni Satryo, saya dapatkan ketika mencari-cari referensi di situs goodreads.com membaca beberapa contoh pwissie karyanya sangat membuat saya penasaran dan menggelitik, sampai akhirnya saya memutuskan untuk membeli dan membacanya. Beberapa kali berkunjung ke Pos Santa melihat buku ini tapi selalu mengurungkan diri untuk membelinya. Akhirnya, ketika Pos Santa berulangtahun 3.0 (2017) Beni Satryo hadir dan membacakan puisi barunya. Dan barulah saya membeli buku puisi karya pertamanya, dan meminta tanda tangan. Punya kepuasan tersendiri ketika membeli buku juga dapat meminta tanda tangan dari penulisnya langsung.
Membaca buku pwissie karya Beni Satryo membuat saya tertawa terbahak-bahak, dengan bahasa yang mudah dimengerti. Selain, gaya bahasa dan penyampaian penulis, tema yang diangkat juga sangat dekat dengan kita. Membaca Buku Pwissie Pendidikan Jasmani dan Kesunyian membuat saya bergumam dalam hati “Ini orang makannya apa sih? Kok bisa dari metromini, kuah soto, buntil, pantura dll.” Setelah membaca buku pwissie ini, Beni menyadarkan siapapun bahwasanya ide menulis itu bisa darimana saja, sesuatu yang dekat dengan kita, bahkan sesuatu yang menurut orang lain mustahil untuk dijadikan tema tulisan yang berbeda.
Buku yang dibandrol dengan harga 55.000 ini cukup tipis, berisi 58 halaman pwissie yang cukup pendek bahkan tidak ada satu pwissie Beni yang panjang sampai dua lembar. Bukan hanya itu, Beni membuat buku ini sangat khusus untuk pembacanya, dengan menggait penerbit EA Books, buku ini juga dibuat dengan kertas yang lebih tebal dari buku pada umumnya serta ukuran yang lebih kecil. Terlihat sekali Beni tidak mau main-main menerbitkan buku pwissie pertamanya, bukan hanya judul, tema dan isi bukunya yang berbeda bahkan cover dan bentuk bukunya beda dari buku yang sudah terbit.
Bahkan, buku ini dapat dinikmati ketika kamu dalam perjalanan di kereta, TransJakarta atau menunggu jemputan. Buku yang sangat ringan dan penuh dengan gelak tawa ini cocok juga dibaca senin pagi, sebagai mood booster. Biasanya kalau mendengar atau membaca sesuatu yang lucu membuat mood kamu menjadi baik sepanjang hari. Walaupun begitu bukan berarti buku ini tidak ada kekurangan. Menurut saya pribadi, buku ini memang penuh humor yang menggelitik tapi ada beberapa pwissie yang ditulis mengundang saya untuk mengernyitkan dahi. Nampaknya otak saya agak susah mencerna beberapa part yang ada di buku ini, bahkan saya sering membaca lebih dari satu kali pwissie yang kurang saya mengerti. Bagaimana pun juga Beni hadir dikerumunan dengan warna yang berbeda, sehingga mudah saja siapapun mengingat Beni dan karyanya.
Mungkin bukan hanya Beni yang sudah menerbitkan buku dengan gaya humor, konon dulu juga ada sastrawan yang pernah menerbitkan buku puisi dengan humor khas. Apapun menurut saya Beni hadir di #JamanNow menyegarkan di tengah hiruk pikuk para pembuat puisi romance.
Rating Goodreads.com : 3/5

Categories
Book Review

Menertawai Hal Yang Tabu Ala Slavoj Zizek

Marjin Kiri hadir sebagai publishing favorit saya di tahun 2017, bagaimana tidak penerbit buku ini selalu berhasil membuat pecinta buku ketagihan membeli karya-karya yang dilahirkannya. Tak terkecuali dengan saya. Awal membeli buku ini adalah karena saya ingin sekali melihat bagaimana seorang filsuf  terkenal dengan orang yang memiliki kerutan dahi, pemikir terpintar di dunia dan kata-kata unpredictable keluar dari mulutnya membuat joke yang pasti sangat unik dan siapa pun berkata ‘kok bisa dia buat banyolan macam itu?’

Awalnya tidak mengira akan membaca karya Oom Zizek, bahkan sebelum membaca buku ini saya sendiri tidak tahu siapa beliau? Tapi memang cara Tuhan selalu asik membuat hambaNya tertawa dan menertawai hidup. Saya pun, megambil cover buku berwarna kuning dan putih yang dengan gambar seorang pria berambut panjang di bawah telinga dan memakai bulatan merah di hidung seperti badut. Buku ini berhasil membuat saya terkadang mengernyitkan kening, menaikkan satu alis, tertawa terpingkal-pingkal, memicingkan satu mata, mengumpat dan sesekali berdoa agar Oom Zizek masuk syurga dengan selamat tanpa menyambangi neraka terlebih dahulu. Sekiranya itu adalah beberapa reaksi saya ketika membaca buku Mati Ketawa ala Slavoj Zizek.

Banyak dari warga Indonesia mumet dengan pekerjaan yang dilakukan sehingga sangat butuh sekali piknik biar ga panik, tetapi karena piknik membutuhkan modal, biasanya netizen akan mencari hiburan melalui youtube ataupun televisi. Tak heran jika hampir semua acara televisi menyelipkan banyolan, tak jarang juga dari mereka meng-hire comedian atau comic agar acara lebih menarik. Hal di atas membuktikan bahwa memang seseorang sangat butuh sekali hiburan yang lucu dan bisa menghilangkan stres dan hadirnya buku Zizek sangat memberikan angin segar bagi pemburu hiburan lucu. Mengangkat tema yang sangat tabu diperbincangkan di Indonesia membuat siapa pun yang membacanya akan berkata bahwa penulis buku ini selain lucu, pintar dia juga sangat berani.

Tema yang sangat tabu, seperti membahas agama tertentu, Tuhan, sesuatu yang vulgar bahkan beberapa politikus juga menjadi bahan banyolan Zizek dan didukung oleh latar belakangnya yang seorang filsuf, menjadikan buku ini penuh banyolan yang kreatif, lucu dan serius. Tapi saya harap kamu jangan terlalu serius, karena yang sudah-sudah diseriusin malah diputusin, ngeselin ya. Dan karena membahas hal tabu untuk ditertawakan buku ini harus diberi cap oleh penerbit khusus 21+, setidaknya kamu harus sudah mengerti banyak hal, bisa membedakan yang baik dan benar serta dewasa, walaupun kadang kedewasaan seseorang tidak dapat diukur dengan angka, sama saja seperti rasa sayang ke mantanmu dulu.
Rating goodreads.com: 3/5
Categories
Book Review

Membuat Generasi Muda Melek Politik Lewat Buku

Pemilihan Calon Gubernur (CaGub) & Calon Wakil Gubernur (CaWaGub) DKI Jakarta 2017 mewarnai kemiriahan politik di Indonesia, bahkan sering sekali nama-nama para calon muncul sebagai trending topicdi twitter. Bahkan melebihi keriuhan pemilihan presiden tahun 2014. Lagi-lagi yang menjadi perhatian bagi para paslon gubernur dan wakilnya adalah para pemilih pemula, 17-21 tahun yang mana baru pertama kali memilih calon gubernur, dan pemilih pemula kurang lebih seperti yang disampaikan oleh detik.com bahwasanya berjumlah 598.198, angka yang cukup banyak sehingga beberapa calon memutuskan untuk membuat program unggulan yang menarik hati pemilih pemula.


Pemilih pemula dengan usia 17-21 tahun ini, yang juga termasuk di dalamnya adalah beberapa teman saya. Beberapa dari mereka merasa muak dengan politik, karena melihat beberapa orang dari partai politik ternama yang terlibat kasus korupsi, namun di sisi lain mereka juga harus memilih pada CaGub dan CaWaGub 2017. Walau dengan keadaan yang muak dan beberapa dari mereka juga bingung mengenai politik tapi, itu semua tidak membuat mereka tutup mata terhadap politik, dan mau tidak mau mereka memang harus tahu politik di Indonesia, agar bisa membangun dan memajukan negeri ini, salah satunya dengan memilih pasangan yang pro akan rakyat banyak. Dan beberapa dari mereka juga enggan memahami politik dikarenakan terlalu sulit dimengerti, apalagi dijalankan.


Sejalan dengan kejadian yang baru saja berlangsung,  Alanda Kariza,  wanita berusia 26 tahun yang juga  seorang aktivis Indonesia serta Penulis buku, melihat beberapa fenomena di atas hal yang sangat serius. Dimana para generasi muda harus memberikan kontribusi yang baik pada Negara, karena generasi muda-lah yang akan meneruskan perjuangan para wakil rakyat yang sekarang. Wanita yang menjadi perwakilan Indonesia untuk Global Changemakers ini membuat novel dengan background cerita politik, hal ini dilakukan agar para generasi muda melek politik dan bisa menjadi penerus yang lebih baik.


Alih-alih membuat novel dengan latar belakang politik, membuat novel Sophismata berada di posisi yang berbeda dari novel pada umumnya, disamping itu wanita yang menginisiasi Indonesian Youth Conferencesebagai wadah bagi pemuda Indonesia untuk menyampaikan aspirasi ini mencampurkan unsur politik dengan cinta sehingga rasanya sangat pas novel ini diperuntukkan untuk usia 17-30 tahun. Pada novel ini juga kamu akan dipertemukan dengan sosok Sigi, wanita yang tidak menyukai politik namun harus bekerja sebagai anggota DPR, Sigi yang bertahan sampai tahun ketiga karena ingin belajar dari atasannya, mantan aktivitis 1998, yang sejak lama ia idolakan.


Selain itu kamu akan dipertemukan dengan Timur, senior Sigi ketika SMA yang berambisius akan memperbaiki Negara ini lewat sistem pemerintahan, salah satu caranya adalah dengan mendirikan partai politik. Yang menarik perhatian adalah bagaimana Timur dan Sigi berinteraksi satu sama lain. Bahkan jika kamu membaca buku ini, kamu akan dihadapkan dengan beberapa kisah yang cukup mengernyitkan dahi, menyunggingkan bibir dan bisa jadi akan membuat kamu berdecak.


Buku ini teramat sangat sayang untuk dilewatkan, karena penting untuk kamu baca agar melek politik. Saya kira, Alanda dapat membaca bagaimana orang-orang seusianya yang agak kurang suka dengan politik namun mau tidak mau harus tahu, agar tidak menjadi manusia yang melek walang, yang sekedar hidup saja, kalau sekedar hidup saja kera di hutan juga hidup. Buku ini adalah paket lengkap antara cinta, politik, makanan dan kehidupan sosial, terlebih editor dari Sophismata adalah Penulis buku ternama, kamu bisa bayangkan bagaimana Penulis Buku menjadi editor Penulis Buku lain, pastinya sudah tidak usah diragukan lagi dan buku ini semakin lengkap dengan cover buku yang sangat elegant dari Martin Dima yang memang juga sering sekali membuat coverbuku terjemahan atau luar negeri yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama.



Sekali lagi kamu harus baca novel Sophismata karena saya sudah membacanya dan memberikan rating 4/5 di www.goodreads.com