Serial Netflix “Emily in Paris” yang cukup booming menjadi perhatian saya, pasalnya semenjak trailer film ini keluar saya memang sudah menandakan kalendar untuk menonton film tersebut. Awalnya, saya mengira film ini akan dipenuhi dengan kisah percintaan. Entah kenapa saya berpikir seperti itu, mungkin karena film ini diperankan oleh Lily Collin. Serial yang diisi dengan sepuluh episode ternyata jauh dari dugaan saya, bahkan saya menyelsaikan series ini semalaman. Dan tak sabar untuk menunggu season 2-nya yang konon akan tayang summer 2021. Wah ga sabar melihat fashion Emily Cooper pas summer di Paris.

Film yang menceritakan Emily Cooper (Lily Collin) yang dikirim oleh perusahaannya untuk menggantikan atasannya yang tetiba hamil. Emily Cooper yang dikirim agar perusahaan franchise di Perancis memahami konsep marketing dari sudut pandang customer Amerika, kenapa Amerika? Karena seperti kita tahu, Perancis itu selalu melahirkan produk-produk yang mewah dan siapa yang paling banyak beli produk mereka? Ya, orang Amerika. Sesatu yang dibeli orang Amerika akan diikuti oleh negara-negara lainnya. Amerika kiblat bagi setiap negara. Bukan begitu, kak?

Hasil menonton marathon semalaman, saya pun merangkum 5 cara bertahan di kantor dari Serial Emily in Paris.

Good Idea Come From…

Saya suka sekali menonton serial ini, dalam film ini banyak sekali yang beberapa kejadiannya dekat dengan saya. Bekerja di perusahaan inovasi dan bisnis membuat dan memaksa saya untuk terus berpikir kreatif, menghasilkan ide kreatif yang mana berujung pada sebuah inovasi. Emily Cooper dalam film ini berkali-kali dia berkata bahwa untuk menghasilkan sebuah ide yang hebat lihat dan tanyakan apa yang customer inginkan. Adegan dimana pengusaha parfum ingin membuat iklan yang menurutnya sudah bagus, tetapi ketika Emily menyaksikan iklan yang dibuat bukan dari sudut pandang customer atau pengguna produk tapi dari si owner yang mempunyai produk itu.

Hal ini mengingatkan saya pada Tim Brown dari Ideo yang berkata bahwa inovasi dengan pendekatan Design Thinking tepat digunakan karena inovasi ini hadir karena adanya interaksi bahkan kita diharusnya menggali permasalahan apa yang membuat customer kesulitan atau inginkan ketika memakai produk dari perusahaan kita. Pada Design Thinking sendiri ada 5 tahapan yang tidak wajib dilakukan secara berurutan; Emphatize, Define, Ideate, Prototype & Test. Secara tak langsung pada film ini Emily selalu berkata Emphatize. Emphatize. Emphatize. Karena produk yang kita buat untuk customer, jadi lebih baik kita membuat produk dari apa yang diinginkan customer.

Knowing how to tell your idea

Dalam film ini, Emily yang bekerja di Perancis dan tidak bisa menggunakan bahasa Perancis adalah bencana besar. Ingat sekali, ketika itu saya membuat podcast dengan kawan SMA saya yang pernah kuliah di Perancis dan sampai sekarang masih pulang-pergi ke Perancis. Dalam podcast tersebut dia bercerita betapa individualisnya orang-orang Perancis dan bahkan dia memang harus extra kursus bahasa mereka. Jadilah, dalam film ini Emily tidak disukai rekan kerjanya dan sang bos karena hanya sedikit mengetahui kosakata bahasa Perancis. Karena hal itu, setiap ide yang dilontarkan Emily pun langsung di-rejected oleh bos dan rekan kerjanya. Padahal, kalau secara logika idenya out of the box and different. Ya, lagi-lagi kepentok oleh bahasa dan budaya Perancis yang membuat mereka enggan mendengarkan ide Emily.

Emily mengajarkan pada kita, untuk mengerti dan mengetahui bagaimana caranya menyampaikan ide. Hal ini mengingatkan saya dulu ketika belajar menulis. Dulu, mentor menulis saya Mas Oddie pernah bilang bahwa ketika seseorang bertanya “Kamu nulis tentang apa?” maka, kita selaku penulis harus menjelaskannya secara singkat, menarik & jelas. Karena itulah, Mas Oddie mengajarkan kepada kami untuk membuat premis dari tulisan yang kami buat. Kenapa? karena bisa jadi hal itu ditanyakan oleh editor yang mana waktunya pasti sibuk sekali dan kita harus menjelaskannya secara singkat dan yang paling utama menarik karena ketika editor merasa tertarik bisa jadi dia akan berkata “okay, kirimi saya naskah kamu ya. Saya tunggu segera”. Yeah mission complete! Haha. Bahkan dulu saya dan teman-teman pernah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membuat premis. Haha.

Cara Emily menyampaikan ide secara singkat, mengingatkan saya pula pada video CIAS QuickFix with Miss Via, dalam videonya dia mengatakan “Hindari BTS ketika menyampaikan ide”. Eits, mohon maaf Army jangan emosi dulu, BTS disini artinya B (bertele-tele), T (Tidak Passionate) S (strategi). Saya rasa jika kamu menghindari BTS, dijamin bos bakal mendengarkan ide mu. Kadang saja, saya suka kesal sendiri kalau ada orang yang ngomongnya bertele-tele, termasuk pada diri sendiri. Hehe.

Worklife Balance

Keseimbangan dalam hidup sangat diperlukan, seperti halnya Emily yangmenyeimbangi kehidupan kerjanya bersama teman-teman di luar kantor. Hal ini, bisa dilakukan jika kamu bisa menempatkan diri dimana pun kmau berada, vepat beradaptasi dengan lingkungan baru adalah kuncinya. Bayangkan kalau kamu merasa jetlag ketika sampai di sebuah negara yang kamu belum pernah jajaki, jangankan jajaki bermimpi saja tidak pernah. Lalu, home sick inget teman, kekasih dan keluarga di tanah air terus meratap selama berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan. Haduh, sayang banget apalagi kalau kamu di Paris dan tidak cepat beradaptasi, yah kamu melewatkan kota paling romantis di dunia ini. Ckck.

Don’t Panic

Mendapat masalah dalam setiap pekerjaan adalah hal yang sangat wajar sekali. Bahkan dalam inovasi, masalah adalah ibu dari inovasi. So, bersyukurlah ketika mendapat masalah di kantor. Seperti, Emily Cooper yang sering sekali mendapat masalah. Saya suka sekali scene ketika Emily mendapat tugas yang cukup berat dari atasannya yang jelas-jelas ingin menyingkirkan dia dari kantor tersebut untuk memesan tempat di restoran yang bahkan harus dipesan berbulan-bulan sebelumnya. Pemesan tempat harus berhasil karena makan malam kali ini bersama klien dari Amerika yang prospeknya cuan banget pasti. Akhirnya dengan kegigihan Emily, dia pun bisa memesan tempat itu. Emily gigih sekali, bahkan dia harus memandang layar laptop dan HP apakah ada seseorang yang membatalkan reservasi di restoran tersebut pada hari itu. Luar biasa ya? Sesampainya disana ternyata, Emily baru sadar bahwa dia salah reservasi dia memesan untuk beberapa bulan kedepan, hal ini terjadi karena tanggal dan bulan pemesanan online restoran tersebut terbalik. Gokil, no plot hole, baby!  

Seandainya, kamu menjadi Emily apa yang dilakukan? Panik atau bahkan nangis meraung-raung di depan penjaga restoran? Bisa jadi, secara hidup dan mati pekerjaan ya. Tapi ketika itu, Emily mengajak kliennya untuk meeting sambil menyantap makanan dari koki terhebat di Paris (yang dia tahu), temannya Gabriele. Mungkin kamu berpikir, ya namanya juga film pasti sudah ada solusi yang dibuat penulis skenario. Betul. Ini hanya film. Tapi ini bisa jadi pelajaran untuk kita, ketika mendapat sebuah masalah, jangan panik karena kepanikan membuat otak kamu ga bisa mikir. Tarik nafas dan keluarkan. Lalu berpikir segera solusi yang bisa diberikan dan jangan lupa tersenyum saat bertatapan dengan klien dan bos kamu. Saya suka sekali, bagaimana Emily memberikan kabar saat tidak bisa makan di tempat itu “ I Had  a good news and great news!” Good news, mereka akan makan malam di restoran tempat Gabriele bekerja sebagai koki dan Great News, karena salah reservasi di restoran mewah itu maka mereka akan kembali pada saat klien Emily membuka bisnisnya di Perancis dan merayakan setelahnya di restoran itu. See? Don’t Be Panic. Think Out Of The Box.

No Baper & Always Be Kind

Kunci sukses dipekerjaan adalah No Baper, jangan ide ditolak dan dibilang jelek eh, esoknya malah baper, ngambek ga mau kerja dan berujung kesel sama bos. Jangan mudah baper, dimanapun kamu berada selalu ada orang-orang yang ga suka ide bahkan personality-mu, jadi santai aja kalau ide ditolak ya ga apa cari ide lain lagi. Tapi jangan sampai ide ditolak, dukun bertindak ya. Wah kalau kamu melakukan itu, tingkat kebaperan kamu sudah akut banget itu.

Dan jangan lupa untuk selalu berbuat baik, dalam hidup kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Jadi, pasti aja ada orang-orang yang ga suka dengan kita. Don’t worry, always happy and be kind. Kalau ada rekanyang ga suka dengan kamu ya ga apa, ga ada ruginya juga kan? Toh, kalau nanti kamu ada masalah di kantor pasti dia ga mungkin nolongin kamu kan, then you’ve to stand by your self. Dan jangan balas orang itu dengan memusuhinya juga, balas aja dengan kebaikan. Lama kelamaan juga dia capek sama kamu. Abis kamu dijengkelin bukannya resign, malah baik banget sama dia sampai ngasih bubur buat sarapan tiap pagi, misalnya.

Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari Serial Emily in Paris. Serial ini termasuk yang paling bagus yang saya tonton untuk tahun ini. Kesuksesan film ini tak lepas dari penulisan skenario oleh Darren Star, yang sebelumnya sukses dengan Serial Sex and The City. Ia juga duduk dibangku Eksekutif Produser dan Lily Collins sendiri selain menajdi pemeran utama dia juga duduk dibangku Produser. Semoga pembelajaran dalam Serial Emily in Paris bisa membuat kamu bertahan di perusahaan dan disukai oleh bos karena ide-idemu yang brilian.