Hal yang paling menyenangkan di dunia ini memang mengkritik politik, baik pelakunya hingga pengamatnya. Menjelang Pilkada atau Pilpres peminat kritik politik makin merajalela, bahkan sampai ada sebutan kritikus politik dadakan, apalagi di zaman teknologi serba canggih seperti saat ini. Kritik yang dilakukan berbagai macam cara lewat sosial media. Tak dikit yang mengkritik hanya untuk menjatuhkan lawan politik. Politik apapun bahasannya ujung-ujungnya bisa jadi bertengkar.


Berbeda dengan Agus Noor yang mengkritik politik lewat humor. Kritik satir nan menggelitik terhadap politik ini dilakukan Agus Noor dengan cara yang sangat berkelas, kumpulan cerpen yang berjudul Lelucon Para Koruptor. Kurang lebih ada 11 kumpulan cerita yang bertema politik, Lelucon Para Koruptor sungguh menggiurkan untuk dibaca.


Sungguh tak terduka, bahkan saya tak pernah berpikir bahwa politik dan politikus yang rakus itu bisa dijadikan bahan lelucon. Memang drama anggota dewan yang tertabrak tiang listrik sehingga menimbulkan benjolan sebesar bakpao itu cukup menggelitik bagi beberapa orang, tapi bagi saya yang suka menonton drama dan membaca novel dengan alur dan plot yang bagus, drama anggota dewan itu jadi sangat norak dan menjijikan. Jika Ayat-ayat Cinta 2 cukup konyol dan menggelitik, namun masih cukup bisa ditonton karena ada Dewi Sandra & Fedi Nuril, drama aggota dewan ini, sudah di tahap konyol tingkat dewa bahkan melupakan logika. Bahkan plot FTV lebih bagus dibanding drama anggota dewan tiang listrik itu.


Agus Noor yang dikenal sebagai cerpenis, penyair, esais & penulis skenario televisi dan naskah lakon dengan gaya parodi dan satir menjadikan Lelucon Para Koruptor tak biasa, bahkan sekalipun kamu bukan penikmat politik sungguh dan pasti sangat bisa dibaca dan dinikmati sambil minum kopi di saat senja. Gaya bercerita yang santai, namun memiliki plot twist yang membuat terbahak atau kamu akan terngakak ketika membacanya. Yang jelas, Agus Noor tak akan membiarkan atau menodai cerpennya dengan drama plot ala anggota dewan yang hampir mirip dengan kampret.


Cerpen pertama dalam buku ini saja sudah membuat siapa pun yang membacanya terbahak, saksi mata korban pembunuhan jendral ternyata adalah seekor anjing buta dan beberapa cerpen lainnya juga melibatkan seekor anjing. Ada-ada saja Agus Noor ini, kasian juga anjing yang sering disebut-sebut dalam buku ini, padahal masih banyak binatang yang bahkan kelakuannya tidak pantas jadi binatang, nah lho?!


Buku ini mengajarkan kita untuk tetap tersenyum bahkan tertawa dalam menghadapi suasana atau manusia kampret yang rakus akan harta dan tahta. Saat membaca buku ini, kamu akan dibawa ke alam yang penuh gelak tawa, bisa jadi kamu akan lupa sesaat busuknya para koruptor, tapi setelah membacanya mungkin saja kamu akan melihat orang-orang rakus itu seperti badut kampung. Apalagi buku ini disertai dengan gambar-gambar komik yang kocak dan menyentil.


Ohya, jika kamu membaca buku ini jangan lupa untuk membaca bagian prolog yang ditulis oleh kawan Agus Noor, Edi AH Iyubenu. Hal ini penting agar kamu mengetahui lebih dalam tentang Agus Noor dan karya-karyanya.