Categories
Movie Review

Lupakan Star Wars, Lady Bird Hadir Dengan Konflik Yang Sangat Nyata!

Sering kali, film box office Hollywood kebanyakan diisi dengan film-film penuh fantasi karena memang mereka paling bisa membuat film yang di luar imaji penduduk Indonesia. Entah, mungkin karena memang otak saya yang kurang sampai pada film-film seperti itu, mangkanya saya lebih suka film yang memang konfliknya sangat dekat sekali dengan kenyataan. Dan Lady Bird berhasil menguaknya dalam balutan Saoirse Ronan, yang berperan sebagai Christine yang lebih suka dipanggil Lady Bird.
Mengusung konflik yang cukup complicated, yang terpusat pada Lady Bird. Film ini mampu membuat saya gemes banget dengan kelakuan Lady Bird ke ibunya serta sebaliknya. Porsi terbesar ada pada mereka, namun ada beberapa konflik dengan pemeran pendukung yang tidak bisa dilupakan begitu saja, seperti konflik Lady Bird & her boy friends dan dengan sang guru. Serta kesederhanaan Lady Bird, sangat-sangat menggambarkan anak SMA pada umumnya, yang ingin sekali mengeksplore dirinya tanpa gangguan dari orang tua, ingin merasakan jatuh cinta dan bersahabat dengan teman-teman populer di sekolah.
Konflik yang sangat dekat ini membuat saya menyunggingkan bibir kanan serta mematuk-matuk kepala pada beberapa scene yang ditampilkan, hal itu terjadi karena setuju dengan scene yang ditayangkan. So relatable!
Dan Scene terakhir, percakapan di suatu bar antara Lady Bird dan orang yang baru ditemuinya membuat saya menghela nafas.
Lady Bird: Do you believe in God?
The man: No
Lady Bird: People call each others by names the parent give to them, but they don’t believe in God.
Funny right? Hahaha. Menurut saya bagian ini cukup lucu, dan berhasil menyindir siapapun yang melakukan hal itu. Lady Bird berhasil hadir dengan STD (Sempit Tapi Dalam). 

Film ini juga berhasil menyabet Best Motion Picture & Best Performance by an Actress in a Motion – Musical or Comedy (Saoirse Ronan) di ajang Penghargaan Golden Globe 2018, olehkarena itu jelas saya sangat merekomendasikan film ini untuk kamu tonton. 

Rating: 8.5/10 
Categories
Movie Review

Jumanji: Keseruan Terjebak dalam Permainan

Beberapa waktu lalu, diramaikan dengan postingan The Rock yang mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga Indonesia yang telah menonton film Jumanji. Kabarnya, penonton film Jumanji terbanyak dari Indonesia. Wajar saja, setiap mau memesan film ini bahkan ketika sudah tayang beberapa minggu, sebelum 30 menit tayang semua bangku sudah terisi penuh. Akhirnya, saya baru berkesmpatan menonton film ini ketika tahun baru.


Cerita diawali dengan 4 orang yang di hukum membersihkan sebuah ruangan, atau lebih tepatnya gudang oleh Kepala Sekolah. Dan mereka pun, menemukan permainan kurang lebih seperti ninetendo yang sudah usang. Dan masuk ke dalam permainan itu. Cukup mengasyikan dan seru. Bahkan ketika itu, saya jadi berpikir gimana kalau saya masuk dalam permainan AOV, karena saya suka main AOV dan memilih Joker sebagai hero.  


Dua anak laki-laki dan dua anak perempuan, masuk ke dalam permainan tersebut dan mereka pun berubah menjadi jagoan yang mereka pilih. Sayangnya, satu anak perempuan dari 4 orang itu, terjebak dalam tubuh hero laki-laki. Bisa kebayangkan, lawakan yang akan hadir.


Secara keseluruhan saya suka dengan jalan ceritanya, serta lelucon yang dihadirkan juga cukup mengguncangkan bahu saya untuk beberapa kali, dan siapapun yang menonton film ini, pasti membayangkan dirinya terjebak dalam permainan, Nintendo.  


Persis seperti games Nintendo, ketika 4 orang ini menjadi jagoan yang mereka pilih. Dalam film ini, juga disebutkan masing-masing kelebihan jagoan serta kelemahannya. Yang agak disayangkan adalah ketika The Rock memiliki kelebihan mempunyai mata membara atau berapi, penonton tidak diperlihatkan bagaimana The Rock mempunyai mata yang membara. 


Dan juga, adegan ketika Martha memilih jagoan dengan kelebihan jago dansa, setiap ada music maka Martha akan berjoget dan energinya akan bertambah sehingga berhasil mengalahkan musuh. Yang membuat saya ganjil adalah pada adegan terakhir ketika di hutan, ketika penjahat datang dan tetiba ada music. Dari manakah music datang? It’s weird!
Tapi, bagaimanapun juga film ini sangat menarik dan menghibur kamu saat penat dan pusing kerja.
Rating: 3/5

Categories
Movie Review

Pitch Perfect 3: Last Call Pitches

Setelah berhasil dengan season 1 dan cukup membuat kecewa untuk season 2, kini Pitch Perfect 3 berhasil membuat butterfly muncul di perut saya. Paling tidak kekecewaan saya berkurang sedikit dengan lelucon yang dihadirkan pada season 3 ini. Dan acungan jempol untuk sang sutradara dan penulis scenario yang sudah berusaha membuat Pitch Perfect tidak begitu membosankan season 2. For God’s sake, Fat Amy, you’re rocking the Pitches! Hahhaha.


Plot kali ini, sangat-sangat berbeda dengan season 1. Kali ini setelah lulus mereka kembali diundang dalam acara reuni Bellas, dan ternyata mereka diundang hanya untuk menonton Emilly Junk & The New Bellas. Reuni ini berhasil, membuat mereka kembali bernyanyi bersama, hanya saja berbeda tempat, yaitu di depan tentara Angkatan Udara dan yang menang akan menjadi pembuka di acara Tur DJ Khaled. Cukup complicated dan terlalu banyak kebetulan yang terjadi.


Riff off yang hadir juga agak sedikit berbeda, karena adu suara bersama grup band. Jelas kalau ditanya siapa yang bagus, jelas anak bank, kan mereka pakai alat music yang menambah harmoni lebih bagus pastinya. Beda konflik, beda alur cerita pastinya. Dan munculnya karakter baru, seperti Fat Amy’s dad yang muncul untuk mencuri uang Fat Amy, Rebel Wilson. Bah, opo meneh iki karakter dan plot’e. Yowes, aku nyimak baek yak.


Final song, yang selalu saya tunggu-tunggu agak kurang klimaks, entah mungkin karena final song nya Becca, Anna Kendrik menyanyi sendiri. Dan lagi-lagi saya dibuat meleleh dengan persahabatan yang terjalin diantara mereka, saya jadi ngebatin “Ada gak ya, sahabat seperti The Bellas?” yang selama ini saya lalui, bahkan teman-teman yang hadir pernah ada yang nusuk dari belakang. Saya jadi, pengen hidup dengan The Bellas.


Bisa jadi, kekerabatan inilah yang diusung oleh sutradara dan penulis scenario. Girls Squad atau sisterhood memang paling asik untuk ditonton.


Memahami lelucon Pitch Perfect dari season 1, membuat saya paham bagaimana jokes yang akan disampaikan, and voila your jokes benar-benar membuat perut saya sakit dan keluar air mata. Benar-benar wedan dan gendweng. Haha.


Cukup sedih, dengan berakhirnya season 3. Mungkin bukanhanya saya, kamu juga mengharapkan film ini dibuat series nya. Bisa ala-ala Glee yaa.


Terima kasih, Bellas you’ve made beautiful stories and masa kuliah saya tumbuh dengan film Pitch Perfect. Setelah 6 tahun cerita Bellas berakhir, walaupun begitu Bellas tetap ada di hati, karena saya pecinta Drama Musical.

Rating: 3/5
Categories
Movie Review

Pitch Perfect 2: Reuni Penyanyi Acapella (?)

Jika penjualan tiket film laku keras, bisa dipastikan akan ada francaise, you know I mean, sekuelnya. Kali ini, konflik hadir ketika perform di depan presiden USA, Barack Obama dan celana Fat Amy, Rebel Wilson robek ketika menyanyi lagu wrecking ball ala-ala Miley Cyrus, and nganunya keliatan, menurut cerita gitu, tapi yang pasti tidak diperlihatkan dalam film ini. Dan Bellas pun mendapat hukuman dengan tidak boleh merekrut tim baru, serta hanya boleh tampil di kejuaran International.


Masih dalam plot yang sama seperti Pitch Perfect 1, nampaknya saya takut sekali mereka akan membuat saya dan penonton lainnya tertidur ketika menonton. Hanya berbeda memperebutkan kejuaraan International dan masih dengan Riff off antar anggota grup Acapella dunia. Kehadiran Snoop Dogg dalam film ini pastinya memberikan cerita baru dan lain. Sayangnya Snoop Dogg belum bisa begitu menghibur saya dan film ini semakin terasa membosankan ketika hadir peran baru Emily Junk, Haille Steinfield yang mana anak keturunan dari anggota Bella tahun 1981. Dan Emily Junk langsung diterima sebagai anggota Bellas ketika menyanyikan lagu buatannya sendiri, FlashLight, Jessie J. Yang pasti sepertinya itu bukan lagu buatan Haille. Ohya, bagaimana mereka bisa menerima Junk sebagai salah satu tim, bukannya Bellas tidak boleh merekrut orang baru (?). So weird!


Saya pribadi adalah orang yang cukup agak (kurang) suka dengan film Franchise, entah kenapa film franchise bisa dipastikan (agak kurang) seru. Karena kebanyakan film franchise ya ujung-ujungnya gitu ceritanya. Walaupun gak semua sih ya.


And finally, Pitch Perfect 2, masih bisa saya bilang worth to share & watch, final songnya benar-benar menggugah, lagu FlashLight berhasil menjadi lagu penutup yang sangat menyentuh. Dan Bellas pun berhasil memenangkan kejuaraan Internasional. Sayangnya, ketika penampilan flashlight muncul alumni Bellas dari yang zaman baheula membuat saya menyunggingkan bibir, surprise yang cukup mengagetkan Gail, komentator Acapella dan tidak mengagetkan saya.


Lagi-lagi lagu yang dihadirkan dalam film Pitch Perfect viral. Flashlight jadi lagu yang paling dihapal oleh anak muda. Itulah kekuatan Pitch Perfect yang cukup bisa mendongkrak penjualan lagu para musisi.

Apapun dan bagaimana pun plotnya, Pitch Perfect 2 berhasil menghibur penggemar dan pencintanya. Well done, Bellas. 

Rating: 3/5
Categories
Movie Review

Pitch Perfect: Kamu Pecinta Acapella? Harus Nonton Film Ini!

Acapella adalah lagu yang dinyanyikan tanpa bantuan alat musik. Music yang dibuat juga menggunakan alat indera. I think, it’s sound so great! Bisa buat suara bass, gitar, piano, dll lewat mulut. Cool guys.


Dan pitch perfect was really cool for me. Tahun 2012 Universal mengeluarkan film Pitch Perfect, film yang diangkat dari sebuah buku karya Mickey Rapkin ini member angin segar pada dunia perfilman, khususnya dunia acapella. Setahu saya, dan boleh kamu googling juga kalau penyanyi Acapella suka dipandang sebelah mata. Perlakuan seperti itu, karena mereka menyanyikan lagu-lagu yang bukan orisinil, alias lagu cover semua.


Entah kenapa penyanyi Acapella diperlakukan seperti itu. Saya bahkan dari beberpa tahun terakhir sudah follow Mike Topkins, penyanyi Acapella di channel Youtube nya dia. Kalau kamu lihat channel Youtube Topkins, kamu akan jatuh cinta, apalagi dia suka sekali memperlihatkan proses pembuatan dari hasilnya acapella nya yang sudah pasti jelimet.


Hadir sekuel Pitch Perfect 2 & 3 membuktikan bahwa, mereka berhasil  mengangkat derajat acapella ke level yang lebih tinggi, terbukti dengan sekuel yang dihadirkan membuat para penggemarnya untuk kembali melihat karyanya dan magisnya music acapella. Mungkin premis dan plot dalam film ini banyak juga kamu temui di film-film, grup music yang ingin bisa mendapatkan tropi di kejuaraan nasional, namun terhalang dengan pemimpin yang tidak mau berinovasi dalam memberikan penampilannya.


Dalam dunia hiburan inovasi adalah penting, agar penikmat karyamu tidak bosan dan selalu menantikan kejutan yang akan kamu berikan. Kedatangan Becca, Ana Kendrik memberikan inovasi yang membuat penonton merasa Bellas, grup Acapella wanita di Universitas Barden Bella bangkit dan perlu dipertimbangkan dalam music Acapella. Dan nampaknya, sang Sutradara memberikan porsi besar pada Anna Kendrik dalam film ini, terbukti penampilan Becca ketika mengikuti audisi untuk Bellas yang menampilkan Cup Song (When I’m Gone), sangat-sangat menarik hati siapapun yang mendenangarkannya. Cup Songs is viral on internet, bahkan beberpa orang mencoba membuat cover lagu tersebut, ohya beserta cup dancenya.


Yang membuat lucu dalam film ini juga adalah peran Rebel Wilson, Fat Amy. Fat Amy sengaja memperkenal diri kepada orang lain dnegan sebutan “Fat” Amy, yang mana sesuai dengan postur tubuhnya. Hal ini dilakukan agar orang-orang yang bertubuh ramping tidak memnghinanya di belakang. Penulis Skenario yang cerdas. Hal ini juga dapat menjadi pelajaran untuk orang-orang yang suka body shaming.


Bellas, grup wanita acapella yang menggambarkan girls squad yang solid. Saya suka sekali bagaimana sutradara menggambarkan kekerabatan antara anggota Bellas. Terharu.


Mungkin juga kamu akan mengenal hal baru, seperti Riff Off (Adu suara), yang mana akan diberikan sebuah tema dan masing-masing grup harus menyanyikan lagu sesuai tema. Dan pada moment inilah seluruh peserta diuji, seberapa banyak lagu dan penyanyi yang dia ketahui.
Sayangnya, saya kurang begitu menyukai lelucon yang keluar dari film ini, nampaknya agak vulgar. Tapi, saya cukup memahami karena jika di Amerika jokes yang mereka paparkan masih terbilang normal, dan memang market jokes nya bukan untuk netizen Indonesia.


Tapi, bukannya hidup itu lebih indah, jika kita tertawakan bahkan sampai hal yang menurut kita itu tabu atau negative. Hahaha.

Categories
Movie Review

Coco: Film Animasi yang Menyentuh

Pixar tahun ini bangkit kembali dengan film Coco. Pemeran utama dalam film ini adalah anak bocah berusia 12 tahun yang ingin menjadi seorang musisi, namun terhalang oleh sang keluarga yang tidak membolehkannya. Sang bocah yang diam-diam mendambakan musisi ternama Meksiko yang sudah wafat, berusaha untuk bisa bernyanyi dan bermain gitar seperti penyanyi idolanya.


Konflik dimulai ketika si anak mulai membantah keluarga untuk tetap mengejar cita-citanya, menjadi musisi dan ingin mengikuti lomba menyanyi di alun-alun, mungkin yaa namanya kalau di Indonesia. Sayangnya, jika ingin mengikuti lomba tersebut, sang penyanyi harus bisa dan memiliki alat musik untuk dimainkan, ketika itu gitar si anak dirusak oleh sang keluarga, namun itu semua tidak menghalanginya dan akhirnya si bocah mengambil gitar di pemakaman sang idola. Untuk bagian itu, jangan bayangkan pemakan di Indonesia, jelas berbeda, mangkanya nonton film ini biar gak abstrak. Hehe.


Yeah, hal yang paling bisa menyentuh hati adalah ketika menceritakan kehilangan seseorang, kehilangan arah, bahkan kehilangan masa depan yang seharusnya masih abtrak tapi sudah bisa ditentukan oleh orang tua atau keluarga, mungkin.


Film ini bahkan bisa membuat orang dewasa menangis karena saking menyentuhnya. Kisah kehilangan buyut sang bocah yang tidak disangka-sangka ternyata adalah pencipta lagu yang dia suka dari sang idola. Sang idola, musisi yang dibanggakan ternyata adalah orang yang jahat karena gtelah mengambil lagu sang buyut ketika semasa hidup.


Orang yang sudah meninggal memang sudah tidak berwujud nyata di muka bumi ini, tapi bukan berarti kita harus melupakan mereka yang sudah kembali ke Sang pencipta. Jangan pernah melupakan mereka, apalagi kebaikannya. Mereka boleh tiada, namun selalu ada di hati. karena itulah cara terbaik untuk tetap mengenangnya.


Awalnya, saya pikir film ini tidak begitu melankolis, melihat premis yang cukup mainstream yang sudah sering sekali digunakan dalam sebuah film. Voila! Salah besar, twist yang dihadirkan sangat sangat membuat terkejut dan unpredictable. Bahkan lagu Remember Me, sangat pas membuat siapa pun yang menonton menguras air mata. Film ini membuktikan bahwa, premis boleh saja familiar, namun eksekusi yang menentukan apakah film itu layak mendapat penghargaan best movie? 


Sejauh ini, Coco adalah film animasi favorit saya di tahun 2017. Kalau kamu?

Rating: 4/5

Categories
Movie Review

The Greatest Showman: All about P.T Barnum

Kalau boleh dibilang, film yhang paling saya tunggu-tunggu di tahun 2017 adalah The Greatest Showman. Awalnya, saya melihat promo film ini di akun instagramnya Zac Efron. Lalu, setelah trailernya muncul, saya langsung membatin film ini akan mencetak kesuksesan seperti Drama Musical 2016, La La Land. Teknik pemasaran yang sangat pas, karena memang drama musical maka, pihak Atlantic Record me-launch semua soundtrack-nya lewat akun youtube mereka. And you know what? Oh My God, it was really great great soundtrack ever!


Sampai saat ini, saya masih mendengarkan seluruh soundtrack-nya dan hafal. Hahaha. Karena sudah ditunggu-tunggu ekspetasi saya sangat sangat tinggi pada film ini. Apalagi, setelah mendapat kabar bahwa film ini digadang sebagai best movie di Golden Globe Awards. Dan menurut saya, film bergenre drama musical adalah masterpiece. Bayangkan, buat plot dan twist pada sebuah film aja susahnya setengah mampus, ditambah lagi harus buat lirik lagu dan aransemen nya. Susahnya mencekik banget kan? Tapi tenang aja, kamu cuma cukup beli tiket, sit and enjoy the movie with sweet/salt popcorn.


Sebelum kamu beli tiketnya, coba simak dulu review-nya, dijamin akan balik lagi untuk nonton film ini.


The Greatest Showman adalah film biography Phineas Taylor Barnum, beliau adalah entertainer di sirkus, Pengusaha dan Politikus asal Amerika Serikat. Berkat kiprahnya di dunia sirkus, Barnum menjadi salah satu orang terkaya di abad ke-19.


Mungkin tanpa film ini, saya tidak akan tahu siapa itu PT. Barnum, Hugh Jackman. The Greatest Showman menceritakan tentang jatuh bangunnya Barnum dalam dunia hiburan, sirkus. Dalam film ini, sang penulis scenario, sutradara sangat-sangat brilliant. Barnum, bukanlah seseorang yang lahir dalam kondisi kaya, bahkan dulu orang-orang memperlakukannya seperti sampah. Semangat dan kegigihannya yang membuat dirinya berjanji untuk membahagiakan anak-anaknya dan tak ingin hal yang sama terjadi oleh anak-anaknya. Ide liar dan berbeda yang muncul dari celoteh sang putri membuat akhirnya Barnum membuat sirkus dan mengumpulkan orang-orang dan talenta yang unik.


Mengumpulkan orang-orang yang unik adalah ide yang sangat jenius! Bayangkan, Barnum berhasil mengumpulkan si kembar yang dempet, wanita brewok  bersuara emas, orang afrika dengan kemampuan trapped (zaman dulu orang afrika benar-benar dipandang sebelah mata), orang dewasa dengan tubuh mungil dan masih banyak lagi. Dan mereka benar-benar ada.


Niat ingin membahagiakan sang anak dan keluarga, berhasil dan tiket sirkusnya laku keras. Ketika keluarga dan bahkan diri mereka sendiri (orang-orang unik) menyembunyikan mereka, Barnum malah mempertontonkan mereka.


Kamu dan saya pasti juga tahu, bagaimana orang-orang unik itu agak kurang diterima di masyarakat, bahkan sampai sekarang ini. Jangankan mendapat pekerjaan, menempuh pendidikan saja pasti sulit untuk mereka. Karena harus menghadapi pem-bully-an. Tapi, Barnum membantu dan membuat perspektif bahwa orang-orang unik itu adalah manusia sama seperti yang lain. Lagu This is Me yang dinyanyikan oleh Keala Settle benar-benar sangat menyentuh dan relevan, terlebih vocal yang dihadirkan masyaAllah kerennya. Merinding!

https://www.youtube.com/watch?v=NyVYXRD1Ans&list=PLi0vNpDrBJPdGH3LoC85PgixsOq5vDUV3




Yang menarik perhatian pula, adalah ketika manusia Afrika, Zendaya did her own trapped. Without CGI. And it’s really awesome. Trust me! Boleh dicek deh behind the scene nya. Kisah cinta Zac Efron yang kaya raya dengan Zendaya cukup membuat film ini semakin dipertimbangkan untuk ditonton. Oh ya, dan saya juga suka adegan dan lagu Rewrite The Star yang dinyanyikan Zac & Zendaya. Nampaknya, adegan ini hadir untuk menarik perhatian para kaum millenials.


Sembilan lagu soundtrack dengan lirik yang menyentuh dan adegannya sangat-sangat relevan dan pas untuk kamu nikmati. Walaupun twist yang dihadirkan sudah agak bisa dibaca sejak awal, namun film ini tetap membuat saya jatuh cinta. And you know, saya suka bagaimana Keala dan Hugh Jackman ketika latihan menyanyikan lagu This is Me dan From Now On. I swear you, itu buat bulu kuduk merinding!

https://www.youtube.com/watch?v=XLFEvHWD_NE

https://www.youtube.com/watch?v=PluaPvhkIMU 


Awal niat menonton film demi Zac Efron, tapi entah kenapa pesona Hugh Jackman sangat-sangat tak bisa lepas dari pandangan saya. Hugh Jackman pantas mendapat penghargaan Best Actor tahun ini. And kali ini nampaknya menjadi film terbaik yang pernah diperankan Zac Efron. 


Good plot, touching twist, best actor/actress and great soundtrack sudah membuktikan bahwa film ini WAJIB disantap bersama keluarga atau teman-teman kamu. Film ini juga mengajarkan kita untuk tidak terlalu buta dengan uang dan popularitas. 

https://www.youtube.com/watch?v=4E5Sc0G7w90 


One more thing, ada beberapa hal yang sutradara dan penulis scenario hadirkan dalam film ini, bagaimana kegigihan Barnum dalam berbisnis, selalu mencari hal unik dan berbeda setiap melakukan segala hal, harus rajin mempromosikan bisnis kita, karena produk yang bagus/unik dengan promosi yang benar akan menghasilkan bisnis dengan omzet yang mencengangkan. 


Saya jadi ingat kata-kata yang ada di kaos teman saya

“Bangga karena Beda”


Are you? 
Categories
Movie Review

Susah Sinyal: Drama Comedy yang Sangat Jenius

#JamanNow internet jadi hal yang sangat diagungkan, bahkan beberapa dari kita mungkin gak akan bisa hidup tanpa internet. Teman saya pernah bilang; lebih baik gak makan dari pada gak ada sinyal/kuota internet. Semua bisa terjadi di dunia internet. Bahkan, sekarang kalau nyari berita pasti lewat platform digital.


Susah sinyal, hadir debagai penghibur di akhir tahun yang benar-benar sangat menghibur. I mean it, guys. Film keluarga yang mana konfliknya sangat dekat dengan saya, bahkan kamu, berhasil dibalut dengan sangat sangat JENIUS. 3 tahun berturut-turut Ernest Prakasa, menghiasi dunia perfilman Indonesia, mulai dari Ngenest The movie (2015), Cek Toko sebelah (2016) dan kali ini Susah Sinyal. Dari 3 film Ernest, saya paling suka karyanya tahun ini, Susah Sinyal, selain bisa membalut konflik yang sangat dekat dengan kita. Dia juga, membuat setiap adegan terasa lucu, I mean so funny & out of the box.


Iyes, bukan Ernest Prakasa namanya jika tidak bisa menghadirkan sajian yhang sangat-sangat lucu dan berkelas. Honestly, saya sudah mengikuti jejak karirnya sejak tahun 2011, sejak beliau mengikuti kompetisi Stand Up Comedy Indonesia di Kompas TV. Materi yang selalu dibawakan juga tak jauh dari kehidupannya, etnis Tionghoa. Karena itu saya beri judul pada blog kali ini, Drama Comedy yang sangat Jenius. Ernest tahu betul target pasar filmnya, olehkarena nya dia membuat film dengan hal yang berbeda dan cukup lihai.


Sebelum menonton filmnya, saya berpikir bahwa Ernest akan menyajikan penonton dengan comedy yang sangat sudah dia pahami dan terbukti berhasil membuat gelak tawa, tentang etnis Tionghoa. Namun, saya salah besar! Ernest hanya menjadikan comedy tentang etnis Tionghoa nya sedikit dan boleh dibilang hanya sebagai pemanis. Dan Ernest memang tidak pernah mengecewakan waktu dan uang yang sudah saya sisihkan untuk melihat karya-karyanya.
Ernest Prakasa gak pernah main-main dalam berkarya!


Usaha Ernest Prakasa dalam film Susah Sinyal sangat-sangat perlu diacungkan jempol. Pasalnya, Ernest juga konsultasi ke beberapa ahli, seperti psikolog. Sebelum film ini tayang, saya mendapat kesempatan MC di salah satu kampus di Jakarta Barat, dalam acara Parenting, dengan pembicara Mbak Verauli (Psikolog). Beliau juga cerita sedikit tentang keikutsertaan beliau dalam film terbaru Ernest. Dan tak tanggung-tanggung, bahkan Ernest menjadikan Mbak Verauli sebagai pemain. Hayyo tebak Mbak Vera yang mana? Kalau belum nonton pasti bingung.  
Bukan hanya itu, usahanya pun terlihat dengan pemilihan lokasi syuting yang benar-benar enak dipandang dan bisa jadi meng-edukasi penonton. Gila! Sumba memang surganya Indonesia.


Namun, touching moment dalam film ini agak kurang bisa menggetarkan hati. Serta pengambilan gambar ketika, Adina Wirasti menemui anaknya di Sumba, dan mereka berdua melakukan dialog agak kurang pas dan blocking. Nampaknya pula, Ernest mau mengulang kesuksesan sebelumnya bersama Ge Pamungkas, namun entahlah saya kurang suka dengan peran Ge Pamungkas yang dihadirkan.  I don’t know.


Tenang saja, itu semua termaafkan karena plot, twist, main cast serta comedy nya berhasil menggelitik saya, bahkan beberapa comedy-nya hadir sangat jenius dan berbobot. Dalam film ini, Ernest membuktikan bahwa, sang istri Meira Anastasia adalah partner kerja yang hebat. Good Job!


Gak sabar menunggu karya yang lebih bagus dari Ernest Prakasa & Meira Anastasia di tahun 2018. Terus berkarya ya!

Rating: 4/5
Categories
#JumuahBerfaedah Public Speaking

Do What You Love and Love What You Do

Agustus 2017, saya senang sekali karena telah membaca karya Alanda Kariza yang terbaru, Shopismata. Novel yang berlatar belakang politik membuat saya tahu kiprah perempuan di dunia politik. Tetapi ada satu kalimat yang membuat saya mengernyitkan dahi, yaitu; Do What you love and love what you do itu terlalu utopis. Karena bagaimana pun setiap manusia pasti punya rasa bosan.


Sejenak saya mencari tahu apakah kalimat dalam buku itu benar. Dan ternyata itu semua salah, iya salah besar! Saya gak pernah bosen melakukan apa yang saya cintai, mencintai kamu ngomong. Sampai pada akhirnya tahun 2011 saya memutuskan, bagaimana caranya supaya apa yang saya bicarakan bukan hanya omong kosong belaka, syukur-syukur jadi main job. Keputusan untuk menjadi Master of ceremony(MC) sempat ragu, tetapi bismillah siap melangkah.


Sampai tahun 2017, saya mencoba untuk rewind sesuatu yang sudah dilakukan, serta kawan-kawan yang dikirim Tuhan sebagai perantara antara saya dan klien-klien yang telah percaya. Speechless, terharu. sampai di akhir tahun 2016, saya punya resolusi mau nge-MC in Kang Maman, No tulen ILK. Jatuh cinta dengan buku-bukunya membuat saya ingin mengenal beliau lebih jauh. Saya tahu, agar resolusi itu terwujud maka saya juga harus berusaha. Tuhan Maha mendengar sekalipun, resolusi itu terucap selepas solat.

Thank’s God, It’s come true
Bisa sampai detik itu, membuat saya harus terus belajar tentang dunia Public Speaking, khususnya MC. Karena konon katanya, kalau mau sukses ya harus berusaha sendiri, hasilnya serahkan kepada Sang Maha Segalanya.


Mikir lagi! Bagaimana caranya bukan hanya tahu teori tapi juga butuh tempat untuk mengaplikasikannya. Dan Tuhan mempertemukan saya dengan Komunitas Sobat Budaya. I’m grateful. Sobat Budaya, tahun ini bisa dibilang banyak memberikan saya tempat untuk belajar. Mulai dari Pre Launching Buku Kode Nusantara di Galeri Indonesia Kaya, Hari Sumpah Pemuda dan terakhir Hari Nusantara. Thank you, Sobat Budaya (SB) dan Ka Wulan, selaku ketua dari SB! J


MC Hari Nusantara di Kementerian Komunikasi dan Informatika

Bukan Dewi Sandra (DS) tapi, Diah Sally (DS) MC-ing at JNE Tomang
Setiap habis MC dengan Sobat Budaya, suka dapat tawaran MC yang cukup fantastis, baik secara pengalaman, tantangan dan juga fee. Sewaktu dikasih kesempatan MC acara training inhouse Melukis Slide dengan Hati dengan BPJS Ketenagakerjaan di Park Land Hotel, luar biasa tantangannya. Bisa bayangin orang-orang yang ikut acaranya karena memang disuruh perusahaan. Kalau disuruh ikut sebuah acara, bukan karena panggilan hati, suka ada yang bandel peserta. Ditambah waktu itu, small group dan honestly belum pernah MC small group. But, Challenge accepted and I did it!

Naik kelas dengan mengambil tantangan yang datang

Ketika sharing bersama mentor, Kang Abee Perdana (Penyiar di Bandung), beliau bilang bahwa seseorang yang dateng ke sebuah acara bukan karena MC nya, tapi karena pengisi acaranya keren, okay dan hebat. Pesan itu selalu saya ingat-ingat karena bagaimana pun MC adalah jembatan antara sebuah acara/si pelaksana, pengisi acara dan audience. Tugas MC mengantarkan pengisi acara kepada audience dan ketika pengisi acara sudah melewati jembatan bisa saja jembatannya langsung dibakar atau dilupakan. Tapi bagaimana pun juga yang terpenting dalam sebuah acara adalah perantaranya, tanpa perantara kamu tidak akan sampai ke sebuah acara. Penting tetapi jarang dianggap itulah MC. yang terpenting adalah acara sukses, pelaksana senang, pengisi acara bahagia dan sponsor gembira.


Tapi yang paling saya suka ketika menjadi MC adalah bisa kenal dan ngobrol langsung dengan pembicara atau pengisi acara. Tahun ini, berkesempatan bisa ngobrol dan kenal lebih jauh dunia menulis buku, naskah film/sinetron, dunia para youtubers dan komikus.

MC Fortif Muda 45 di Kementerian Pariwisata
MC-ing Tahi Lalats (Komikus)

MC acara literasi w/ Faris BQ, Muh. Assad, Helvy Tiana & Andi Arsyil


Bagaimana sejauh ini kamu percayakan, kalau perkara do what you love and love what you doitu bukan terlalu utopis. Semua bisa terjadi, kalau kita percaya dan terus memeluk apa yang kita suka dan cintai. Kalau kamu bosan melakukan apa yang kamu cintai, berarti kamu benar-benar gak mencintai hal itu atau bisa jadi cara kamu mencintainya kurang inovasi.

Foto ini yang selalu membuat saya pengen nge-MC orang-orang hebat. Saya, Wizzie (Singer), Ge Pamungkas, Tatjana Shapira & Abimana ketika promo film Negeri Van Oranye

Wah tulisan ini, panjang juga ya ternyata. Sebelum saya tutup, satu hal yang akan saya sampaikan (lagi).


Pernah dengar, kalau kamu membantu saudaramu, maka Tuhan akan memabantu urusanmu juga. Atau kamu juga pernah dengar kalau kita mendoakan seseorang, maka doa itu akan balik ke kamu juga. So, kalau kawan kamu acaranya mau ramai, kamu bisa bantu dengan menghubungi saya. Hubunginya sekarang, soalnya kalau hari senin harga naik. Hahaha. ✌

Doain juga ya, bisa nge-MC di acara konser yang katanya hosting tersusah, karena 99% mereka hadir mau lihat musisinya, 1 % karena diajak teman atau gratisan, kemungkinan host nya ga bakal didenger. Kalau dapat job itu akan saya ambil, karena menurut saya hosting tersusah itu adalah MC di Ramayana atau Robinson, ngomong dari pagi sampe malam gak ada yang denger 😢

Oiya, Sending my huge hug buat orang hal yang kamu cintai ya. Dream, Love, Believe and Make it Happend. Karena tulisan ini, saya khususkan untuk kamu, kamu yang punya mimpi besar dan mencintai sesuatu. Olehkarena itu, saya buktikan bahwa saya berhasil mencintai sesuatu dan gak pernah bosan mencintainya. I did it, how about you?


Categories
#JumuahBerfaedah

#JumuahBerfaedah: Cantik Dari Hati

Tulisan ini dibuat bukan untuk meng-endorse salah satu alat make up halal pertama di Indonesia, tetapi memang karena saya ingin berbagi cerita kepada kamu yang cantik. Dan bagi kamu yang ganteng, juga boleh lanjut baca, soalnya saya mau kasih tahu rahasia tentang perempuan.
Hari ini, jadwal saya pergi ke dokter kulit. Dokter saya, Inong yang akhir-akhir menjadi salah satu panelis di Indonesia Lawyer Club (ILC) yang membahas tentang LGBT. Tapi kali ini saya tidak akan membahas tentang LGBT, karena menurut saya sudah jelas pembahasannya. Back to my doctor, ketika saya berobat dokter Inong bilang bahwa, anak laki-laki beliau yang berusia 23 bercerita dan mempunyai pasangan, ketika itu dokter bertemu pasangan sang anak. Sebelumnya sang anak bilang bahwa pasangannya cantik sekali.


Dan dokter pun, bilang bahwa ketika mereka bertemu ternyata kekasih anaknya, mempunyai jerawat di wajahnya. Oiya, dokter Inong ini bukan dokter kecantikan, mangkanya saya percayakan perawatan wajah saya kepada dokter Inong karena membuat wajah saya dan pasien lainnya sehat, bukan putih. Dari pendapapat sang anak, dokter Inong menyimpulkan bahwa laki-laki itu sebenarnya melihat ahlaq atau perilaku perempuan bukan hanya sekedar wajah. Coba lihat artis-artis di TV banyak banget kan yang cantik, lalu kenapa masih sering sakit hati, diceraikan bahkan diselingkuhi oleh pelakor (perebut laki orang)?


Ketika itu juga, saya berpikir. Lalu, kenapa kita (perempuan) sering kali mementingkan wajah ketimbang hati? terkadang wanita lupa, jika kecantikan yang dating dari hati maka kecantikannya tidak akan pernah pudar selamanya. Cantik dari hati dimulai dari memperbaiki perbuatan atau ahlaq kita. Ladies, merawat wajah itu juga penting, sama juga dengan merawat ciptaan-Nya, tetapi ahlaq dan perbuatan adalah kunci cantik sesungguhnya.