Categories
Book Review

Ubur-ubur Lembur: Cerita Perjalanan Karir Raditya Dika (Book Review)

Raditya Dika, salah satu Penulis favorit saya sejak dulu.  Karya-karyanya bisa dibilang yang membuat saya menyukai membaca buku, dan karyanya juga yang membuat saya addict dengan buku-buku lain. Tahu betul karir Radit dimulai, sejak buku Kambing Jantan, tulisan-tulisannya di blog sampai sekarang sudah jadi pemain film serta duduk di bangku Sutradara pada filmnya. Perjalanan panjang, yang kadang kalau saya melihat Radit berkata “Ya ampun you deserved it, Dit!”

Buku-buku Radit yang seputar kehidupannya sehari-sehari selalu cocok untuk saya yang tidak begitu menyukai tulisan-tulisan berat. Ringan tapi penuh makna, itulah yang ingin Radit sampaikan kepada penulis. Tulisannya memang tak begitu berat, tapi jika kamu membacanya ada banyak hal yang akan kamu terima dari Radit, terlebih jika kamu memanandang semua karya-karyanya dari sudut pandang yang berbeda.

Saya dan teman-teman saya sempat berpikir ketika Radit mengeluarkan buku barunya, Ubur-ubur Lembur. Gila ya, masih sempat ini orang nulis buku di tengah kesibukannya yang sudah jadi juri Stand Up Comedy-an, Komika yang materinya sudah terjadwal buat release di Channel Youtube nya, nulis naskah film, buat film, buat vlog bahkan sekarang dia juga harus menyiapkan mental dan fisik untuk pernikahannya. Tapi setelah itu saya ga heran, kenapa Ubur-ubur Lembur ini hadir di awal tahun 2018. Orang produktif, memang selalu menyempatkan berkarya di tengah kesibukan apapun.

Bukan Raditya Dika namanya, jika mengeluarkan buku dengan judul yang unik. Dari awal hingga saat ini Radit selalu konsisten mengeluarkan karya dengan judul menggunakan nama binatang. Pada Ubur-ubur Lembur saya berusaha memahami lembar-per lembar nya, bahkan sampai saya mendapatkan kenapa Radit memberikan judul binatang ini, sampai pada akhirnya saya menangkap pesan yang ingin Radit sampaikan, simple but so touching. Terkadang syaa berpikir Radit ini sebenarnya kalau nulis suka tersedih, tapi karena peran orang sekelilingnya yang dia ceritakan jadilah kita dibuatnya terbahak. Seperti dalam buku ini, bahkan ada touching momment dimana Radit kangen banget sama tetangganya dulu dan ingin sekali bersua karena sudah lama sekali.

Ubur-ubur Lembur tentang apa?

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, buku ini tentang perjalanan karir Radit sejak awal dia menjadi Cungpret (Kacung Kampret) – meminjam kata dari Almira Bastari pada novel Resign!- hingga menjadi seperti saat ini, bagaimana Radit yang belum punya tujuan ketika sudah mendekati ujian akhir SMA, Radit yang resign demi menjadi full writer. Jadi, kalau saat ini kamu belum tahu mau jadi apa, tenang saja toh Radit juga dulu seperti kamu, tingggal terus saja eksplore diri kamu. And you’ll find what do you want to be.

Pada awal-awal bab saya kurang menangkap pesan Radit pada buku ini, setelahnya saya rasa buku ini lumayan asik untuk mengambil pelajaran dari orang yang sudah sukses, bahkan orang terkenal seperti Radit sering sekali mengalami hal-hal yang tak menyenangkan. Kemana pun dia pergi selalu saja ada yang minta selfie, bahkan ketika dia sedang menulis di sebuah cafe. Hal konyol yang ada pada buku ini adalah bagaimana seorang anak Sd bertanya padanya, “Bagaimana sih caranya jadi Artis?’’ iyak netizen memang punya syndrom pengen banget jadi artis dan terkenal, itu juga alasannya kenapa sekarang banyak anak ABG atau masih bau kencur yang mulai merambah dunia Youtube, ya karena pengen terkenal dan kehidupannya juga banyak pengen orang-orang tahu, jadilah dia membuat video sendiri tentang dirinya. Ya, kalau artis kan ga perlu ngerekam sendiri ya karena selalu saja ada pemburu berita yang siap mewawancarainya. Walaupun sekarang sudah terbukti banyak artis-artis yang punya channel pribadi untuk menggugah pertamanan dia dengan artis lain, atau bahkan bagaimana wujud closet mereka. The hell, ini yang pertama kali saya bilang ketika ada artis yang meng-upload closet-nya dengan durasi 15 menit “trus kalau saya tahu closet nya dia kenapa? Abis ngeliat saya bakal terinspirasi gitu? Hahah” little bit rude ya, tapi ya itu saya bahkan menggunakan youtube untuk mengasah skill dan melihat hal-hal yang penting, seperti channelnya Deddy Corbuzier, Remot Tivi dll.

So, back to the topic. Pada buku ini, yang membuat saya tercengang adalah bagaimana percakapan Radit dan Prili. Menjadi artis papan atas ga melulu bahagia, bahkan sering kali orang disekitarnya mengambil keuntungan. Prili sempat dipaksa buat upload foto dengan temannya, karena si teman  ingin sekali memperbanyak followers. Sinting! Hahaha. Jadi dia temanan sama Prili Cuma karena pengen banget followersnya nambah. Ya Tuhan, musti diapain orang-orang yang kaya gini. Kebayangkan kalau kamu terkenal orang-orang yang dekat sama kamu bisa jadi dekat karena ada maksud. Padahal percuma ya, banyak followers kalau postingannya ga ngasih banyak manfaat bagi orang lain. Duh!

Recommended ga nih buat dibaca?
Lucu. Touching. Usefull. 3 kata yang pantas saya layangkan untuk buku ini. Bisa jadi buku ini adalah project film Radit yang berikutnya. I wish. Mengingat, beberapa tahun terakhir Radit absen dari dunia perfilman, yang mungkin karena harus mempersiapkan pernikahannya.
Buku ini, bagus buat kamu yang ingin belajar memahami hidup lebih dalam lagi. Serta bagus juga buat kamu yang suka numpang ketenanaran orang lain, atau suka memanfaatkan temanmu atau kamu yang bercita-cita menjadi terkenal. Read it, and you’ll know more about live. Hidup bukan hanya tentang seberapa orang kenal kamu, tapi seberapa banyak orang yang mendapat manfaat kamu.

Categories
Movie Review

Begini Rasanya Nonton Film Bagus Sendirian di Bioskop!

Pernah pergi ke bioskop dan ternyata di dalam teater bioskop, hanya kamu satu-satunya penonton?
Kalau jawabannya tidak, haha lucky you guys. Dan saya adalah salah satu orang yang pernah merasakan itu. Kok bisa? Ya entahlah, jangan tanya saya, tanya pada orang-orang yang kenapa tidak mau datang ke bioskop. Saya pun ga tahu harus bahagia/sedih/takut/bangga ketika menonton sendiri di dalam bioskop. Wait. I mean, saya benar-benar menonton sendiri di dalam bioskop, and it’s mean dari 140 kursi di bisokop hanya satu kursi yang terisi dan itu diisi oleh saya.

Bioskop serasa milik sendiri


Kegemaran, menonton memang muncul sejak kuliah dulu dan 3 tahun terakhir semakin menggila dengan film. Pasalnya, saya jadi hobi menonton dan membaca karena ingin mengetahui sesuatu atau kehidupan yang tidak pernah dialami dan juga untuk mengetahui bagaimana kehidupan sosial orang-orang di luar serta bagaimana saya harus bersikap, terkadang saya menonton hanya untuk merasakan emosi karakter yang memang bukan saya banget dan kadang suka aja nonton untuk nyari ide atau inspirasi buat ditulis. Faktanya memang setelah menonton, banyak banget yang bisa saya tulis. Semakin banyak film yang saya tonton, semakin banyak pengetahuan yang bisa didapat.
But, kalau nobar sama kawan-kawan saya selalu menjauhi film-film yang bergenre drama melankolis. Oh, come on! Honestly, saya orangnya sangat-sangat baper dan paling ga mau nangis depan banyak orang, biasanya saya nonton drama melankolis di rumah biar bisa nangis bombay tanpa ada yang harus nyinyirin lebay atau cengeng. Sedangkan kalau menonton film horor, kudu dan wajib nobar dan jangan di malam. Enggak kok saya bukannya takut nonton film horor tapi kalau nonton di malam hari takut kesiangan bangunnya, kan besoknya harus kerja, kalau kesiangan ke kantor nanti potong gaji dan kerja jadi ga mood dan bos bisa marah-marah ujung-ujungnya ngeluh pingin Resign! #ElahNgelesAjaSih hahaha.
Kok bisa sendirian di bioskop?
Let’s the story beginhahaha. So, hari minggu kemarin tanggal 11 Maret 2018 saya berkunjung ke Post Santa, salah satu toko buku alternatif (TBH, saya lebih suka Post Santa ketimbang toko buku besar, soalnya disana bukunya bagus-bagus dan yang pasti mayoritas bukunya ga akan kamu temukan di toko buku besar) sebelumnya memang sudah janji dengan dokter THT di daerah Ciranjang. Karena saya tipe orang kalau malam belum mau pulang, jadilah saya berniat untuk menghabiskan waktu sampai malam dengan menonton. Fyi, ga usah kasian ya pas baca tulisan ini karena saya emang udah biasa nonton sendirian, kalau nonton bareng kawan-kawan kan harus nyamain dulu sama jadwal mereka. Kalau ada waktu senggang dikit biasanya nonton di bioskop kalau lagi ga ada duit atau filmnya ga bagus-bagus amat biasanya saya nonton di Hooq atau Viu.
Pas pesan jam 20.30 dan film mulai 21.00 ternyata baru saya doang yang book ticket. Sempet mikir, turn arround and back home or just watch & enjoy the movie. Sambil mikir, saya makan gultik Blok. M saja dulu. Nonton ga ya? Kalau nonton sendirian, khawatir ada yang nyolek atau dengar bunyi yang ga diinginkan. Kalau ga nonton, sayang udah beli tiket, udah nonton film Indonesia, beli tiket di weekeend kan mahal, sayang dong ya kalau ga nonton. Gak ada salahnya sih ya, nonton aja tohdurasinya juga cuma 1 jam 24 menit. Bismillah deh ya, kalau benar sendirian saya akan angkat kaki sepanjang film. Konon dulu, saya pernah diceritain kalau ngomong tentang hal gaib, kakinya jangan napak biar yang gaib ga dekatin atau ganggu kita. Yaudah sih, saya emang orangnya percayaan banget apa kata orang hahaha.
Senangnya ketika mau masuk teater ada 2 orang yang mendekati mbak penjaga pintu teater 6, film yang saya ingin tonton. Alhamdulillah, gak jadi sendirian. Setidaknya kalau ada hal gaib yang ganggu, saya merasakannya ga sendirian. Anditu semua sirna sudah, karena dua orang tadi cuma nyapa mbak penjaga teater dong, soalnya si mbak teman mereka. Ealah kzl! Di sisi lain saya juga kasian sama mbak penjaganya, dia berdiri di depan teater cuma mau ngerobek tiket saya doang. Mudah-mudahan mbaknya ga dendam ya. Dan jadilah, si Diah sally yang suka nonton ini berada di teater 6, Blok. M Plaza, menonton film Indonesia ter-epik tahun ini.

Awalnya saya sempat bingung, tumben banget bioskop di Plaza Blok.M menayangkan film-film Indonesia, beberapa tahun terakhir Plaza Blok. M sudah tidak menayangkan film-film Indonesia, entah mungkin karena dulu film-film Indonesia belum sebagus dan se-menguntungkan sekarang. Bahkan, sampai akhir tahun kemarin bioskop di Plaza Blok.M belum menayangkan film-film Indonesia, sampai pada akhirnya mereka menayangkan film Indonesia, tepat ketika Dilan 1990 tayang. Mereka tahu sekarang film Indonesia cukup menjanjikan dan mendatangkan uang.
Gila banget sampe segitunya sih! Emang nonton film apa sih?

Kalau beberapa waktu lalu saya membaca buku anak yang membawa saya nostalgia ke masa lalu, kali ini saya menonton film anak yang dipenuhi dengan seni yang menakjubkan. Bercerita tentang anak kembar buncing (perempuan dan laki-laki) Tantri & Tantra yang selalu bermain bersama. Tantra yang jatuh sakit membuat Tantri kehilangan teman bermain. Dari sinilah kisah itu dimulai, Tantra yang sakitnya semakin parah, bahkan beberapa panca inderanya sudah tidak dapat berfungsi dengan baik, yang mengharuskan Tantra di rawat di rumah sakit. Berlatar belakang budaya Bali, Kamila Andini ingin menyampaikan lewat film anak ini tentang bagaimana orang-orang Bali merasakan atau menjalani hidup dengan hal-hal yang terlihat dan tak terlihat.

Jelas sekali mengapa Kamila Andini mengambil latar Bali dalam film ini, Bali memang pas menjadi latar film ini karena memang budaya Bali sangat-sangat kental terlebih bagaimana mereka masih percaya dan terkoneksi dengan leluhur-leluhur mereka. Ketika melihat adegan-adegan dalam film ini, saya pun langsung berpikir betapa edannya Kamila Andini, membuat script hal-hal yang terlihat dan menghubungkannya dengan hal-hal yang tak terlihat atau magis mungkin kata yang tepat, serta merealisasikan hal-hal tersebut dalam sebuah adegan ter-epik tahun ini.

Yang paling saya suka dalam film ini bagaimana Kamila Andini menampilkan sifat anak kembar pada umumnya, yang suka berbagi satu sama lain dan meganalogikannya dengan telur. Ketika makan dengan telur Tantri akan makan putih telur dan kuning telurnya akan diberikan kepada Tantra. Simple but it’s genius & touching.

Awal jadwal tayang 1 Maret, entah kuasa jadwal tayang jadi tanggal 8 Maret


Melalui karyanya ini, Kamila Andini bisa menjadi sineas yang sangat diperhitungkan di tanah air. Film anak yang cukup membuat orang dewasa berpikir jika menontonnya, nampaknya melalui proses yang sangat-sangat panjang, pasalnya film ini dibuat sejak tahun 2011. Paham betul, kenapa film ini diproduksi begitu lama, pastinya film se-epik ini melawati riset yang cukup panjang, terlebih dia harus cuti melahirkan anak kedua. Proses yang panjang ini membuahkan hasil, menyabet penghargaan di Tokyo Filmex 2017 & Best Yout Film di ajang Asia Pasific Screen Award & Jogja-NETPAC Asian Film Festival kategori Asian Features Competititon, serta nominasi di Singapore International & Toronto International Film Festival tahun 2017, yang terbaru Sekala Niskala mendapat nominasi di Berlin International Film Festival 2018 kategori Generation Kplus – Best Film. Patut dibanggakan hasil kerja kerasnya dengan menonton film ini di bioskop.

One of best scene


Seperti Kamila Andini yang membuat Sekala Niskala (The Seen and Unseen) dengan proses yang sangat panjang, saya pun mempunyai proses yang sangat panjang untuk menonton film ini. Dan seperti Kamila Andini yang mendapat penghargaan untuk kerja keras pada film ini, saya pun mendapat kepuasan setelah menonton film ini. Semenjak kemunculan film ini tahun lalu, saya selalu menunggu jadwal releasefilm ini, and finally bisa menonton filmnya di bisokop yang serasa milik sendiri. You know what I mean guys. Hahaha.

Walaupun awal bulan kemarin saya sempat trauma nonton film Indonesia gara-gara nonton film Benyamin, tapi film Sekala Niskala berhasil membuat saya mau balik lagi dan lagi ke bioksop serta terus mendukung film bagus di Indonesia.

Categories
Book Review

Kisah Resign! yang Berkesan (Book Review)

Kapan Terkahir kali pingin resign?


Bagi kamu yang sudah terjun di dunia kerja, mungkin sering sekali bosan dengan pekerjaan yang kamu geluti yang berujung pingin banget resign. Saya kalau kumpul dengan teman-teman, ujung-ujungnya curhat tentang kerjaan dan banyak juga yang dari mereka mau resign. Kalau kamu belum kerja mungkin akan bingung kenapa orang-orang yang sudah bekerja sering sekali mengeluhkan pekerjaannya sampai mau resign. Ibaratnya orang yang pacaran, dikit-dikit si pasangan minta putus, besoknya baikan ya ga pingin putus lagi, begitu saja seterusnya. Sama orang bekerja juga gitu, dikit-dikit pingin resign, besoknya ga mau resign. Hahaha. Orang dewasa memang suka aneh.

Penyebab resignada banyak mulai dari teman-teman di kantor yang sukanya sikut-sikutan atau bermuka dua di depan bos demi sebuah promosi, bisa juga karena senior yang kalau ngasih kerjaan suka seenaknya udel atau si bos yang bener-bener minta dibacain alfatihah atau yasin sekalian dan ada juga yang mau resign karena gaji ga seimbang sama kerjaan atau dia ngerasa kerjaannya bukan passion. Apapun itu, penyebabnya adalah ketidaknyamanan. Kaya sebuah relationship, kalau sudah ga nyaman ujung-ujungnya minta putus.

Jika berbicara tentang resign, pasti berhubungannya sama hal-hal yang tidak menyenangkan. Namun, berbeda jika kamu membaca buku Resign!karya Almira Bastari.


Bukunya tentang apa?


Seperti judulnya Resign! yang pasti buku ini membahas tentang karyawan pada perusahaan consulting yang selalu ingin resign, setiap karyawan punya alasan masing-masing. Kalau dibuat dalam satu premis kurang lebih sebagai berikut, Seorang karyawan yang ingin resign dari kantornya, namun selalu digagalkan oleh si bos.



Dalam cerita ini ada 4 karyawan yang ingin sekali resign, mereka adalah Alranita pegawai termuda yang ingin resign karena perlakuan si bos yang seenake jidat, Carlo karyawan yang baru menikah dan ingin sekali mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih tinggi, Kareninakaryawan senior yang kerjaan selalu dianggap seperti junior alias salah terus apapun yang dia kerjakan tapi pada kenyataannya memang begitu dan Andre yang pingin resign karena pingin punya kehidupan yang normal maklum baru punya anak dan kamu tahu sendirilah ya, kalau kerja sebagai consultan itu jam lemburnya suka ga liat hari, oh kalau kamu gak ngerti tentang pekerjaan consulting, tak usah khawatir, penulis akan memberikan penjelasan tentang pekerjaan consultan perusahaan.

Ohya, selain bercerita tentang 4 karyawan tersebut, kamu juga akan disuguhkan dengan karakter yang benar-benar bossy abis, Tigran si bos yang buat saya geleng-geleng kepala pas baca novel ini. Dan juga buat saya senyum-senyum sendiri di beberapa karakter Tigran. Parahnya si bos selalu tahu kalau karyawannya minta cuti buat interview di kantor lain hahaha. Si bos indigo kayanya.


Siapa aja yang boleh baca buku ini?


Buku Resign! dilabeli dengan Metropop, walaupun begitu kamu ga usah khawatir buku ini ga ada satu pun adegan ciuman apalagi yang lebih parah dari itu. Aman. Siapapun kamu bisa baca buku ini, apalagi kamu yang pingin ketawa haha-hihi. Kamu yang sudah kerja sih, saran saya wajib beli buku ini karena ini temanya kamu banget, konfliknya deket banget sama dunia kantoran. Bisa jadi setelah baca buku ini kamu yang tadinya mau resign, jadi mantep mau resign *eh hahaha.


Gimana? Masih belum punya keinginan mau baca atau beli buku ini ya.


Hmm, gini sebenarnya yang saya suka dari buku ini bagaimana Almira Bastari menceritakan dunia kantoran dengan gaya bahasa yang sangat luwes dan gak bertele-tele, serta bagaimana dia menyebut para pekerja kantor Cungpret (Kacung Kampret) haha. She’s genius. Kata-kata itu iconic banget, si penulis yang berlatar belakang memiliki pendidikan di Meulbourne dan menciptakan kata itu, agak aneh sebenarnya, tapi itu membuktikan bahwa dunia kerja itu memang kampret banget, mau apapun latar belakang dia apalagi kalau punya bos kaya si Tigran. Hahaha. Saya biasa bercanda dengan kawan-kawan menyebut para pekerja di sebuah perusahaan adalah Budak Perusahaan atau Budak Coorporate, ternyata ada yang lebih saklek ngasih julukan, Cungpret. Kampret emang si Almira ini, jadi ketagihan baca karya dia yang lain, kan. Hahaha.



One more thing, pesan Almira dalam bukunya, semoga kamu bisa menemukan pekerjaan yang baik untukmu dan keluarga. Kalau kamu ga happy, mungkin bisa resign?
Kacung Kampret emang si Almira. Hahaha.


4/5

Categories
Movie Review

Review Film: Gado-gado buatan Benyamin sang Biang Kerok (2018)

Apa yang terlintas jika saya sebut nama Benyamin Sueb? Sebutkan 3 hal yang menggambarkan Benyamin Sueb?


Lucu, Betawi & Legend.

Itu sekiranya yang ada dipikiran saya ketika menyebut nama beliau. Dulu, ketika kecil saya sering sekali menonton film-film almarhum Benyamin. Ceritanya lucu-lucu dan bikin ngakak. Adegan yang paling saya ingat adalah dalam film Tarzan Betawi, ketika Benyamin menjadi Tarzan dan kekuatannya ada pada bulu keteknya yang lebat, jadi ketika bulu keteknya dicukur, maka seketika akan menjadi manusia biasa tanpa kekuatan dahsyat. Dan lucunya beliau itu, ketika sedang berlakon bahkan melihat wajah beliau saja, saya dan kawan-kawan masa kecil sudah terbahak.

Tahun 2018, bulan Maret hadir film Benyamin Biang Kerok . Seperti judulnya, film ini terinspirasi oleh beliau, bukan adaptasi dari film-film beliau. Walau ada beberapa adegan yang memang sama dengan film-film beliau terdahulu. Dan kali ini pemeran Benyamin Sueb diperankan oleh aktor serba bisa memainkan peran orang-orang penting di tanah air, Reza Rahardian. Saya akui Reza Rahardian memang cucok banget memainkan peran apapun. Wajar peran ini jatuh ke tangan dia. Aktingnya juga juara banget.


Film Benyamin Biang Kerok (2018) tentang apa?




Seperti yang tadi sudah saya sampaikan, film ini hanya adaptasi. Yang membedakan adalah karakter Benyamin 2018 cupu, norak, kaya dan anak nyak banget (manja). Sedangkan, kalau dibuat dalam satu premis Pengky yang jatuh cinta kepada seorang perempuan, namun terhalang oleh Said Toni Rojim. Pengki, Reza Rahardian adalah seorang pengusaha di bidang IT dan sangat-sangat kaya. Bahkan, si nyak ke rumah Pengky aja pakai helikopter, ada lift di rumahnya, pokoknya serba high tech.

Entah saya harus memberi label film ini comedy, musikalisasi, fantasi atau drama? Bisa jadi ketiga genre itu masuk dalam film ini. Pasalnya, di awal scene kita akan diperlihatkan bagaimana Pengki dan dua orang temannya menggunakan alat-alat yang sangat canggih. Dari adegan awal itu pula, saya mulai mengerutkan dahi, ada beberapa yang menurut saya kurang masuk akal, jika seandainya film ini mengarah pada genre fantasi. Ada beberapa film hollywood dengan genre fantasi tapi tidak melupakan logika, olehkarenanya film tersebut terasa nyata, bahkan jika ada di kehidupan nyata.

Dan yang membuat saya bingung, bagaimana bisa Pengki yang kaya mampus, punya dua orang teman dari kalangan yang kurang mampu, bahkan tinggal di rumah susun. Okay, mungkin ada bagian dimana saya ke-skip. Serta, musik dalam film ini terasa ada pembatas. Setiap mereka menyanyi, maka akan di-shoot dari satu tempat, yang menurut saya itu membuat lagu dan cerita agak terpisah.


Film Benyamin Biang Kerok (2018) lucu kaya film terdahulunya?


Benyamin Biang Kerok (2018) lucu banget, di bagian Melani Ricardo dan abangnya. Bahkan saya, selalu menunggu kapan lagi adegan mereka, karena bagian mereka berdua yang menurut saya paling natural jokes nya. Bahkan saya tertawa terbahak-bahak setiap mereka berceloteh.  Bagian yang lain menurut saya agak dipaksakan. Saya berpikir film Benyamin Biang Kerok ini benar-benar bisa menghilangkan penat selepas bekerja, saya berharap sekali bisa tertawa terbahak sepanjang film, nyatanya saya salah. Alur ceritanya kurang dimengerti, bahkan sekalipun menggunakan alat-alat yang high tech. Bagaimana bisa seorang perempuan (Achi) yang tidak punya latar belakang IT menggunakan alat-alat canggih? Dan dari mana alat-alat itu hadir? Dari Nyak nya Pengki yang modalin? Ohiya, saya tidak boleh terlalu serius ketika menonton film itu, karena bisa jadi film ini juga termasuk genre fantasi.


Siapa saja yang bisa menonton film ini?


Siapapun  bisa menonton film ini, apalagi kamu pecinta comedy absurd. Tapi tetap, jangan pergi menonton dengan ekspektasi tinggi, anggap saja kamu menonton untuk hiburan. Semua dari kamu bisa menonton film ini, apalagi buat kamu yang kangen dengan almarhum Benyamin Sueb. Siapa tahu kangennya hilang.


Adegan apa yang paling tidak terlupakan dalam film Benyamin Biang Kerok?


Selain adegan Melani Ricardo dan abangnya, adegan di akhir membuat saya tidak akan melupakan film Benyamin Biang Kerok (2018), adegan dimana Pengki ketahuan menerobos ruang rahasia sang antagonis, Said Toni Rojim. Inget banget bagaimana  mereka membuat frenchise film ini, dengan memberikan kata bersambung dan cerita akan berlanjut ke bulan desember 2018. Macam nonton sinetron baek aku ni, lha kalau sinetron masih mending, bersambung dan besoknya sudah bisa melihat lagi kelanjutannya. Hahaha. Berasa ada sinetron masuk bioskop. Cut filmnya suka seenak jidat, tanpa memikirkan perasaan penonton yang penasaran akan kelanjutan filmnya. Sama seperti film besutan Falcon sebelumnya pun macam itu, sengaja dibuat kentang (kenyang nanggung) tapi menurut saya yang ini lebih parah dari itu. Dan entah, setelah mereka meng-cut film ala sinetron apakah desember nanti saya akan menonton lanjutannya. Entahlah.

Ohya, dan satu lagi yang saya suka dari film ini ketika adegan Nyak Pengki sebagai penguasa sekaligus pengcontrol negeri ini. Orang pemerintahan semuanya bergantung kepada Nyak Pengki. Hahaha. Bagian itu, juga saya tertawa paling keras. Satir bosque. Mantap.

Apapun itu, silahkan menonton film ini. Dan dukung terus perfilman Indonesia.

Categories
inspirasi Public Speaking Se-cuap

Menteri Favorit ala Diah Sally

Siapa Menteri Favorit Kamu? 

Beberapa waktu lalu, setelah diskusi tentang dunia politik dan pemerintahan di Indonesia, spontan saya bertanya kepada kawan “Menteri favorit versi lo siapa?” kawan saya pun langsung diam, mukanya terlihat mencari nama yang ingin diucapkan dan akhirnya keluar kata “I don’t know” diikuti dengan gelengan kepala.


Karena saya adalah orang yang cukup suka diskusi, tanpa ditanya balik menteri favorit versi saya, langsung saja saya sebut satu nama Sri Mulyani beserta dengan beberapa track record beliau sebagai menteri Keuangan. Sebelumnya, saya sempat (agak) kesal dengan beliau karena tahun ini pembagian deviden di perusahaan tempat saya berinvestasi cukup mengiris hati ketika tahu bahwa deviden yang dikeluarkan sudah dengan potongan pajak 15%. Oh God, itu banyak banget kan? Banyak menurut saya, sedangkan zakat dalam agama saja yang harus dikeluarkan hanya 2.5%. Saya cukup geram, jadilah saya mencari tahu kemana kah uang yang kita bayarkan untuk pajak?


Kinerja ibu menteri kita sekarang, Sri Mulyani dengan mudah kamu akan temui. ketika ingin tahu uang saya kemana nih, yang saya kasih buat pajak? Saya langsung cek fanpage Kementerian Keuangan RI dan disana kamu akan menemukan #UangKita #UangKitaUntukApa dan beberapa kinerja beliau yang mungkin kamu sering dengar. Yang paling santer akhir-akhir ini adalah tax amnesty& nabung saham. For me, Sri Mulyani too genius dan (bisa) jadi presiden selanjutnya #BukanTulisanTitipan


Kenapa Pilih Beliau?


Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, kinerja beliau nyata sekali, bahkan beberapa situs diantaranya sindonews memaparkan salah tiganya; beliau tegas memangkas anggaran, melakukan extra effort dalam penerimaan pajak dan reformasi birokrasi di internal kementerian keuangan Republik Indonesia yang terus berlanjut. Tiga hal itulah yang membuat Sri Mulyani, sebagai Menteri Terbaik Dunia, saya ulangi sekali lagi, Menteri Terbaik Dunia di World Government Summit yang di gelar di Dubai, Uni Emirat Arab. Penghargaan tersebut diberikan kepada satu menteri terbaik di seluruh dunia, memang penghargaan ini baru di mulai tahun 2016, namun Indonesia harus cukup bangga karena di tahun 2018 kita memiliki menteri terbaik di dunia, walaupun tetap saja angka korupsi di Indonesia masih cukup tinggi.


Muncul nama menteri terbaik versi saya, Sri Mulyani sebelum adanya pengumuman bahwa beliau meraih penghargaan menteri terbaik dunia. Pasalnya, beliau menjadi favorit saya sejak saya bertemu langsung dengan beliau 15 Januari 2018. Ketika itu saya berkesempatan untuk memandu acara Kolaboraksi Kementerian Keuangan RI yang diikuti oleh Eslon I & II. Ga usah ditanya bagaimana perasaan saya memandu mereka, deg-deg-an itu pasti, eslon I & II itu adalah pejabat Kemenkeu RI, bahkan EO-nya pun sudah mewanti-wanti untuk memperlakukan mereka dengan sangat-sangat sopan dan harap maklum kalau ada yang ngeselin. Eslon II dari seluruh Indonesia yang mana mereka adalah orang penting bahkan eslon II di daerah ibaratnya setara dengan eslon I di Jakarta. Dan tambahan, beberapa dari mereka banyak yang sebentar lagi, bahkan beberapa bulan lagi pensiun.

Eslon I & II Kementerian Keuangan RI di seluruh Indonesia 


Eslon I & II aktif mengutarakan ide #KolaborAksi antar divisi
Nyatanya, beliau-beliau ini sangat-sangat menghargai saya dan partner sebagai MC. Kami sengaja berbaur ke seluruh pejabat eslon I & II sebelum acara di mulai dan bertanya-tanya beliau dari mana asalnya, pasangannya berapa divisi apa dll? Mereka pun menjawab dengan antusias. Sambutan dengan crowd yang sangat ditunggu oleh kami, sebagai pemandu acara, tentunya suasana itulah yang menentukan arah acara ini.

Si rakyat antusias banget ketika menyapa pejabat

Ketika sudah dimulai pemaparan eslon I dari beberapa divisi serta wakil menteri keuangan RI, bapak Mardiasmo dan terkahir pamaparan dari ibu Sri Mulyani. Pemaparan beliau agak sedikit berbeda, cara beliau berbicara seperti ngobrol 4 mata, ibarat penyiar radio yang lagi siaran, dan kalau kita denger suara penyiar itu pasti berasa si penyiar ngomong sama kita doang, padahal dia ngomong sama seluruh pendengarnya. Asik banget dengar beliau speech, dan isinya sungguh mencerminkan seorang pemimpin yang wajib digugu dan ditiru.


Ada 2 kalimat yang membuat saya ketika mendengar pingin banget standing ovation buat beliau; ketika beliau bilang “Saya tahu beberapa dari Anda, ada yang sudah berumur dan sebentar lagi sudah mau pensiun. Mungkin Anda akan bilang dalam hati, Sri Mulyani ini orang mau pensiun kok malah disuruh kerja terus.” Hahaha spontan saya terbahak ketika mendengar itu, ya mau gimana lagi ya, selama meraka masih kerja di kementerian ya harus siap untuk kerja. Dan beliau juga bilang “kementrian bukan hanya melayani dan tidak merusuhi rakyat tapi juga aktif mendukung rakyat.” Saya langsung menggelengkan kepala pas mendengar beliau. Pantesan aja, pejabatnya menghargai kami sebagai MC, lha wong Bu Sri Mulyani pesannya juga harus aktif mendukung rakyat, saya dan partner kan rakyat, oiya ditambah kami memang taat bayar pajak. Hahaha.

Sri Mulyani dan Eslon I & II berswafoto
Beliau juga pesan, agar perekonomian Indonesia minimal naik 5.4% serta seluruhnya menyiapkan diri untuk IMF-World Bank annual meeting di Bali bulan Oktober mendatang. So, pastikan kamu ga traveling ke Bali ya pada buan tersebut, karena 15.000 kamar hotel sudah full booked. Saya pun menyimpulkan bahwa beliau ini leadershipnya okay banget, bukan hanya mengayomi tim-nya tapi juga punya ide yang cemerlang untuk Kementerian Keuangan RI. Beliau karismatik sekali orangnya, mengingatkan saya kepada Menteri Keuangan di rumah, Mamak saya. Beliau juga gitu, dikit-dikit potong anggaran, kalau udah awal bulan rajin banget ngingetin anaknya ngeluarin zakat dan bayar pajak (read: ngasih uang belanja). Harapan pengeluaran zakat dan pajak juga sama untuk mewujdukan perekonomian keluarga naik 50%. Aamiin. 


Pas 5 Band, bentukan Kemenkeu RI.
Konon, namanya lahir karena mereka latihannya setelah pulang kerja, pukul 5 sore.

Dirigen Kemenkeu RI, sedangkan dua orang di belakangnya adalah rakyat yang taat bayar pajak.
Kasian si rakyat fotonya di-blur. 
Wah ternyata, tulisan ini panjang banget ya. Saya yakin, kalau kamu yang kurang tertarik dengan dunia politik, pemerintahan dan perekonomian Indonesia (mungkin) bacanya akan dilompat-lompat atau ketika kamu baca ini kamu ngebatin kalau saya masuk dunia politik atau bisa jadi ada yang bilang bahwa tulisan ini dibuat bukan hanya untuk meng-endorse bu Sri Mulyani tapi penggiringan isu/framing buat Bu Sri Mulyani ikut Pilpres 2019. Whatever you think about me, saya cuma mau menjelaskan walaupun saya anak millenial yang bukan kuliah jurusan ilmu politik, hukum atau pun ekonomi tapi saya berusaha memahami negeri ini dengan cara mengamati orang-orang pemerintahan dan memang seharusnya kaum millenial juga melek politik agar jangan sampai mudah dibohongi ketika Pilpres/Pilkada. Dan hasilnya saya menyebut satu nama menteri, Sri Mulyani sebagai menteri favorit. Walaupun beliau favorit saya, tapi tetap saya sebagai rakyat harus mengawal dan mengawasi kinerja beliau, apabila beliau salah pastinya harus ditegur dan kalau terciduk korupsi harus dihukum. 

Itu menteri favorit saya, kalau menteri favorit kamu siapa? Dan kenapa kamu pilih beliau?

Categories
#JumuahBerfaedah Movie Review

Hoax Movie: Genius dan Bagusnya bukan HOAX!

Sering sekali, berbedar berita-berita yang hoax. Menurut kamus Oxford, Hoax adalah berita bohong yang ditujukan untuk kejahatan. Kata ini, sekarang sering kali diucapkan oleh netizen zaman now. Bahkan sekarang beberapa orang ada yang membuat artikel tentang cara menghadapi sebuah info apakah itu hoax atau tidak.

Dan entah mengapa Ifa Ifansyah merubah judul filmnya dari Rumah dan Musim Hujan yang ditayangkan perdana di Jogja-NETPAC Asian Fim Festival 2012. Mungkin memang ingin mengikuti zamannya, sehingga judulnya pun berubah menjadi Hoax. Sesuai judulnya film ini memang benar-benar Hoax, jika saya bilang film ini bagus tanpa kamu membaca keseluruhan tulisan ini. So, yang pasti ke-Hoax-an ini akan mendukung karena ketika kamu membaca tulisan ini, film Hoax sudah turun layar karena memang tidak cukup mengundang penonton, dibanding film romance anak SMA dan ABG.

Awal film ini dimulai, saya cukup terpukau dengan skenario pengenalan karakter dan bagaimana sutradara mengarahkan secara elegan. Buka bersama di sebuah rumah dan kemudain masing-masing dari mereka memainkan permain dari Korea, dari sang sutradara akan memperkenalkan kita kepada pemain-pemainnya, Raga sebagai kakak sulung (Tora Sudiro) yang mengajak pacar barunya Sukma (Aulia Sarah), Ragil (Vino G. Bastian) dan Ade Tara Basro) yang tetiba menerima telepon dari Sang Ibu (Jajajang C. Noer) serta sang bapak (Lando Simatupang) yang memimpin permain di meja makan.

Genius! Menurut saya Ifa Ifansyah, sang sutradara benar-benar genius membuka film dan memberikan konflik dalam setiap orangnya. Bahkan, Sutradara memberikan 3 cerita sekaligus dalam satu film dan menarik serta sangat sayang untuk dilewatkan, tapi mohon maaf ketika kamu baca tulisan ini, Hoax Moview memang sudah turun layar dan jangan pernah harap ada bajakannya.

Tiga cerita yang disorot adalah cerita Ragil dan bapak di rumah mereka yang dari dulu sudah ditempati. Ragil yang cukup pendiam serta misterius akan membuat kita menebak-nebak sebenrnya apa yang terjadi sama orang ini. Setiap orang punya rahasia, bahkan seklaipun mereka keluarga kandung bahkan se-rumah. Dan saya cukup bisa menebak karakter Ragil dan bagaimana endingnya nanti.

Tapi tidak dengan karakter Raga dan Sukma. Raga yang sudah mapan dan mempunyai rumah sendiri mengajak sang kekasih ke rumah dan ada beberapa dialog yang cukup satire dan (mungkin) kamu bisa tertawa terbahak atau mengernyitkan dahi, bahkan melakukan keduanya bersamaan. Bagian Raga juga cukup sulit untuk ditebak. Namun, lebih sulit lagi menebak cerita Ade.

Setelah pulang dari rumah bapak ke rumah Ibu. Ade mengalami hal yang sangat menyedihkan dan membuat hati saya pilu. Dan ternyata sampai di rumah mengalami hal yang sebanarnya mengerikan, namun Ifa Isfansyah menyelipkan dialog yang cukup membuat heran dan terbahak. Terlebih keluarga ini yang masih cukup kuat memegang adat jawa, dan percaya bahwa setiap orang sebenarnya mempunyai 4 saudara ketika dalam kandungan). Peran ibu yang sangat membingungkan bisa jadi karena memang saudara-saudara ibu dalam kandungan sedang mengikuti Ade dan memainkan perannya masing-masing.

Hoax, drama family yang menceritakan bahwa setiap rumah mempunyai penghuni yang berbeda secara fisik & sudut pandang. Di rumah saya, cukup unik bagaimana kami mengartikan rumah dan masing-masing dari kami menyimpan rahasia. Orang tua saya mengartikan rumah sebagai tempat tinggal, tempat berbagi antar mereka, hiburan bahkan diskusi tentang hal-hal yang dilihat di TV atau di luar rumah, sedangkan menurut kakak saya, rumah adalah tempat terbaik untuk membesarkan anaknya, berbeda dengan saya, rumah memang menjadi tempat istirahat dari kebisingan orang-orang di luar. Mungkin kamu juga punya pengalaman dan pemahaman lain tentang rumah, tapi bagaimanapun juga memang rumah seperti surga, dengan pemahaman masing-masing. Itu sebabnya sejauh apapun kamu melakangkah, rumah adalah tempat terbaik untuk kembali, sekalipun kamu membenci orang-orang di dalamnya. 

Tiga cerita dan satu benang merah, pemahaman dan sudut pandang individu terhadap rumah dan bagaimana mereka menyimpan rahasia membuat saya terkagum dengan cara Ifa Isfansyah mengarahkan film ini. Lalu, dalam film ini siapa yang bohong?

Categories
#JumuahBerfaedah Movie Review

The Disaster Artist: Begini Cara Menghadapi Keputus Asaan!

Pernah merasa putus asa?

Sebelum berlanjut, saya ingin kamu menjawab pertanyaan di atas. Kalau jawabannya pernah atau malah sering, saran saya kamu menonton film The Disaster Artist (2017) tapi sebelum menonton silahkan baca review filmnya dulu di sini.

Tahun 2003 The Room, berhasil menjadi film yang masih sering dibicarakan di dunia bahkan sampai detik ini. Dalam berkarya, siapapun pasti ingin karyanya selalu diingat oleh banyak orang. Tommy Wisseu, sutradara, produser dan pemeran utama dalam film The Room selalu menjadi perbincangan setelah film ini muncul. dan dia berhasil membuat karyanya selalu diingat, meski dengan cara yang sukup berbeda, pasalnya film ini diperbincangkan karena memang menjadi worst movie ever. Konyol dan absurd kata yang tepat bagi alur cerita film ini. Dan bisa jadi perbincangan yang diciptakan penonton yang berupa ejekan, tawaan serta bully-an adalah bentuk apresiasi yang diberikan terhadap film tersebut. Dari respon penonton-lah film ini berhasil besar.

Yang menariknya adalah tahun 2017 James Franco dan Seth Rogent bekerjasama membuat film yang mengangkat tentang film The Room. Film The Disaster Artist tidak bisa dibilang seperti film parodi, karena dari kualitas dan alur juga sangat baik, bahkan James Franco berhasil menyabet penghargaan Best Actor di ajang Golden Globe. Film ini hadir bagai behind the scene pembuatan film The Room versi panjang dengan kualitas plot twist yang jelas dan bagus.

James Franco berhasil membuat film ini dengan banyak pelajaran yang bisa diambil. Proses dan cerita bagaimana film terburuk sepanjang masa bisa terkenal dan selalu menjadi perbincangan, membuat saya tambah bersemangat untuk terus berkarya dan mengejar segala impian saya. Tommy Wisseu membuat film The Room karena memang tak ada agency yang menerimanya untuk jadi artist, mungkin saja karena dia terlalu absurd atau kurang good looking. Oh come on! Hollywood memang sangat ketat sekali dalam pemilihan actor dan actress nya, mangkanya keren banget kan setiap film yang dihasilkan mereka.

Olehkarenanya, dia memutuskan untuk membuat script sendiri, mengajak temannya Matt, Dave Franco untuk menjadi salah satu pemain dan dirinya sebagai pemeran utama. Keputusan yang sangat tepat! Untuk apa berputus asa, tapi ayo kita ciptakan kesempatan dan peluang untuk sukses itu sendiri. Jadi teringat, ketika itu saya ingin sekali menjadi Master of Ceremony (MC) di acara yang narasumbernya/pembicaranya Kang Maman, bingung belum ada kesempatan itu. Akhirnya, saya gabung di salah satu komunitas menulis dan mereka membuat acara dengan mengundang salah satu penulis serta pegiat literasi dan saya pun mengajukan nama Kang Maman, bahkan teman-teman di komunitas langsung menunjuk saya untuk menjadi MC di acara tersebut. And finally, dream come true. Alhamdulillah.

So, ketika melihat bagian itu, saya merasa ini film saya banget. Saya merasakan apa yang Tommy Wisseu rasakan, bedanya mungkin pada hasilnya, dia dan filmnya menjadi terkenal dan diperbincangkan banyak orang, sedangkan saya alhamdulillah bisa dikenal sama Kang Maman aja udah syukur banget, plus waktu itu bisa ngobrol dan tanya langsung tentang karyanya serta gali inspirasi apapun dari beliau.

Tak kenal putus asa juga terlihat pada James Franco yang dengan total memerankan Tommy Wisseu dalam film The Disaster Artist. Gila! James Franco mirip banget sama Tommy Wisseu, bahkan kalau kamu belum melihat acting-nya dalam film The Room, tak usah khawatir karena di akhir scene The Disaster Movie memperlihatkan adegan kedua actor dari film mereka. Tak heran jika film ini mendapat nominasi Best Movie kategori drama comedy – musical.

Oh iya, jangan tanya saya apakah Tommy Wisseu itu kaya banget, sehingga bisa membiayai filmnya sendiri. Pertanyaan itu juga yang ada di otak saya, pasalnya tak ada yang tahu siapa sebenarnya sosok orang yang sangat nyentrik ini, dari mana asalnya, berapa kekayaan yang dia punya, bahkan dalam film ini pun James Franco dan kawan-kawannya tak dapat jawabannya. Konon dia memang sangat menutup informasi tentang dirinya.

Apapun itu, Tommy Wisseu tetap bisa jadi contoh kesuksesan yang nyata. Percaya pada mimpi yang kita inginkan dan terus berusaha mewujudkannya, sekalipun orang lain menertawakannya. Terus bermimpi dan berkarya. 


Rating: 4/5

Categories
Movie Review

Review Film I, Tonya

60 menit pertama menonton film I, Tonya, saya sudah menyimpulkan bahwa film ini sangat sangat unik dan beda. Menggambarkan tentang Tonya Harding, atlet Skating dari Amerika yang berhasil membuat rekor triple axel. Namun rekor itu, belum cukup membuat nama Tonya menjadi baik, bahkan kala itu Tonya Harding terkenal dengan kasus percobaan pembunuhan Nancy Keriggan, teman sesama atletnya.

Pada film ini juga kita akan diajak bertualang di kehidupan Tonya Harding, baik tentang kehidupannya bersama sang kekasih, ibu & karir skatingn-nya. Tonya yang memang didik oleh sang ibu untuk menjadi atlit skating benar-benar membuahkan hasil yang cukup fantastis, terbukti dengan prestasi yang sudah dia torehkan. Namun, hal itu tidak sebanding dengan kehidupannya dengan sang ibu, yang membuat saya tak habis pikir dan selalu menggelengkan kepala karena adegan mereka sangat-sangat kasar.

Allison Janney yang berperan sebagai ibu Tonya, selalu melakukan tindak kekerasan baik secara emosional/verbal maupun fisik. Setiap adegan yang mereka lakukan membuat saya berpikir, “Ada ya, ibu macam itu. Kok bisa?”.

Ketika kuliah di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dulu, dosen saya sering bilang bahwa anak adalah anugerah. Tak semua orang, diberikan kesempatan untuk mempunyai anak. Tapi tetap ada saja orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anak, alih-alih untuk mendidik anak. Bahkan ada pola asuh dengan tipe otoriter, mendidik dengan tegas, bukan kekerasan. Bagian inilah yang banyak orang salah paham. Kekerasan pada anak memang sangat-sangat dilarang, karena banyak sekali dampak yang akan terjadi pada anak ketika dewasa, salah satunya anak bisa melakukan kekerasan yang sama pada sekelilingnya. Tidak selalu memang, tapi sering terjadi pada anak yang mengalami kekerasan. Bahkan karena dampak tersebut, sang anak bisa mengalami gangguan sosial.

Film I, Tonya cukup menggambarkan kekerasan dalam keluarga dan rumah tangga. Seperti pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga lagi. Itulah kehidupan Tonya Harding, Margot Robbie. Dari kecil sudah mengalami kekerasan oleh sang ibu, ketika dewasa dia menikah dengan sosok pria yang juga suka melakukan kekerasan fisik. Film yang dibuat ala dokumenter ini membuat kita benar-benar dibawa seakan-akan para pemeran dalam film ini benar-benar orang asli dalam kehidupan Tonya.  Drama comedy yang satir dibuat agar siapapun yang menonton dapat merenungkan adegan-adegan yang ditampilkan. Mungkin sering dari para orang tua, menggunakan kata-kata verbal pada anaknya. Padahal, hal tersebut bisa saja sangat berpengaruh ketika dewasa.

Di sisi lain, tentang keluarga Tonya, karirnya dalam skating cukup baik. Namun, harus jatuh dikarenakan Tonya menjadi tersangka percobaan pembunuhan terhadap rivalnya, Nancy Keringgan. Menarik! Dalam film ini diceritakan bahwasanya, Tonya tidak bersalah sama sekali, tetapi sang suamilah, Sebastian Stan yang menyuruh bodyguard Tonya untuk menghamburkan konsentrasi Nancy dengan cara memberikan surat cinta. Namun, sang bodyguard justru menyewa orang untuk membunuh Nancy.

Pada akhirnya, putusan pengadilan menetapkan Tonya bersalah dan dikenakan denda, penjara dan tidak boleh mengikuti kompetisi skating seumur hidup. Damn. Adegan ini yang membuat saya-saya sangat sesak. Dari kecil sang ibu bahkan tidak menyekolahkan Tonya sekolah umum, sehingga Tonya menangis tersendak karena dia merasa tidak bisa menjalani hidup tanpa skating dan tidak mempunyai skill lain.

Media dan pihak polisi cukup memberikan dampak yang besar terhadap putusan kasus Tonya. Detektif dalam kasus Tonya menjabarkan bahwa tak ada bukti konkrit bahwa dia terlibat. Namun, media cukup antusias memberitakan bad news tentang Tonya.

Terkadang apa yang dipaparkan media memang tidak semuanya harus kita percaya, karena media terkadang menjual berita demi rating. Tahun 2017, saya berkesempatan berkunjung ke salah satu TV berita di Jakarta. Mereka pun menjabarkan bahwa beberapa kompetitor sering sekali demi berita dan rating tidak memfilter atau menyensor hal-hal yang cukup tidak pantaskan ditayangkan. Semua dilakukan demi rating. So, di jaman serba digital saat ini, sebaiknya kita memang tidak menelan info darimanapun bulat-bulat, karena cukup tahu saja yang bulat.

Drama dark comedy pada film I, Tonya bisa cukup related dengan dunia nyata. Silahkan ditonton dan setelah menonton mari sama-sama introspeksi diri, jika Anda orang tua apakah yang ibu Tonya lakukan pernah Anda lakukan? Dan menginstrospeksi sikap kita ketika melihat atau mendengar berita yang kita terima. 
Categories
Movie Review

Review Film Three Billboards Outside Ebing, Missouri

Yang paling menarik ketika menonton film adalah melihat fenomena yang sangat dekat dengan kita. Fenomena yang dekat dengan kita memang sangat banyak, saking banyaknya bahkan kita tak sadar atau malah melek walak.

Tahun 2017 banyak film yang saya suka terutama film yang mengusung tema dengan kritik sosial. Karena memang otak saya rada kurang nyampe buat mikir film yang fantasi. Dan Three Billboards Outside Ebing, Missouri adalah film dengan judul terpanjang nan ribet untuk diucapkan, tidak seperti judulnya yang ribet, konflik yang ada dalam film ini cukup sering kita temui atau mungkin kita pernah melakukannya/menyaksikannya.

Mildred Hayes yang diperankan oleh Frances McDormand memasang iklan pada papan reklame/billboard di perbatasan Kota Ebing, Missouri, tidak tanggung-tanggung Mildred langsung memasang 3 billboards. Hal ini dilakukan karena hampir satu setengah tahun dia belum mendapatkan keputusan dari kasus pembunuhan dan pemerkosaan anaknya. Ingin mendapat keadilan, Mildred memutuskan untuk menyindir pihak kepolisian dengan memasang iklan tersebut, berikut bunyinya:

Rapped while dying
And still no areests?
How come, Chief Willoughby?

Satir!

Ketika menonton saya pengen banget berdiri dan tepuk tangan untuk keberanian Mildred. Papan reklame yang dikhususkan untuk menyindir pihak kepolisian pun, menjadi daya tarik media. Bahkan tak sedikit dari warganet yang menolak. Sindiran itu sampai ke telinga polisi Jason Dixon, anak buah dari kepala polisi Willoughby. Gambaran dalam film ini Jason Dixon adalah polisi yang suka bermalas-malasan, membuat rusuh dengan menangkap orang-orang kulit hitam (walaupun kadang mereka tidak punya salah). Bum! Sindiran tepat.  Melalui adegan itu, Sutradara Martin McDonagh nampaknya ingin menyindir orang-orang yang bekerja namun, terkadang tidak mengerjakan apa yang menjadi kewajibannya. Serta media yang selalu bersemangat untuk memberitakan apapun untuk konsumsi publik.
Kemarahan Mildred dalam film ini benar-benar membuat saya terbakar, dan berpihak padanya. Banyak upaya dilakukan Mildred untuk mendapatkan keadilan dari pihak kepolisian, konflik antara Mildred dan Jason Dixon membuat siapapun pasti geram melihatnya. Bahkan, acting Dixon bisa dibilang sangat-sangat menjengkelkan. Pantas saja dia memenangkan Best Supporting Actor di penghargaan Golden Globe.

Dari awal film penonton digiring untuk menebak apa yang terjadi dan siapa pembunuhnya, namun di akhir film penonton tidak mendapatkan info apapun. Bahkan, saya agak kesal dengan ending yang tidak menyebutkan siapa pembunuhnya. Mungkin sang Sutradara memang hanya ingin memperlihatkan fenomena-fenomena yang sering terlupa namun penting untuk direnungkan dan memang bukan film detektif, jadi luapan kekesalan saya hanya sampai saat itu. Atau bisa juga, sang sutradara ingin memberikan penonton PR? Entahlah, apapun itu film ini berhasil mengangkat kritik sosial yang cukup untuk direnungkan, olehkarenanya saya memberikan rating 4.5/5. Ohiya, tambahan juga bahwa film ini mendapat penghargaan di Golden Globe kategori Best Motion Picture – Drama & Mildred Hayes, Frances McDormand menyabet Best Performance by an Actress in Motion Picture – Drama. 
Categories
Movie Review

Pidi Baiq, Milea dan Dilan di Tahun 1990 (Review Film)

Nama Pidi Baiq mulai dikenal sebagai penulis, dan semakin banyak orang memperbincangkan namanya semenjak menulis novel Dilan 1990 tahun 2014, serta sekuelnya pada tahun 2015 dan 2016. Selain itu, Pidi Baiq mempunyai band pada tahun 1995 yang diberi nama The Panas Dalam, musisi asal Bandung ini juga telah menulis naskah film Baracas tahun 2017.
Nama beliau makin sering diperbincangkan semenjak ada pengumuman bahwa novel Dilan akan diangkat ke layar lebar dengan Iqbal, mantan personil Coboy Jr sebagai Dilan dan Vanesha Priscilla, adik dari Sissy Priscilla (pemeran AADC) sebagai Milea. Pasalnya, beberapa orang kecewa akan keputusan cast pada film Dilan 1990.
Mengambil latar tahun 90-an dan Bandung, Dilan anak SMA yang juga pemimpin geng motor di sekolahnya dan di sisi lain, Milea anak perempuan yang baru pindah ke sekolah Dilan. Dilan yang sangat puitis dan unik mencoba merebut hati Milea lewat kata-katanya yang puitis dan memberikan hadiah yang tak pernah terpikirkan sama sekali oleh Milea, TTS yang sudah diisi oleh Dilan. Sepanjang film penonton akan dibawa bernostalgia dengan suasana Bandung di tahun 90-an dan kalau boleh dibilang dalam film ini hampir tidak ada konflik seperti film-film yang sering kita temui. Dan nampaknya, itu tak jadi masalah karena sepanjang film, penonton disuguhkan hal-hal unik yang dilakukan dan keluar dari mulut Dilan cukup menghibur bahkan bisa jadi akan kamu ingat sampai beberapa tahun kedepan.
Film ini diambil dari sudut pandang Milea, seperti yang tadi sudah saya katakan di atas, film ini adalah adaptasi dari novel yang dibuat tiga sekuel, bisa jadi filmnya juga akan dibuat tiga sekuel. Sebelum menonton film Dilan 1990, saya sudah membaca bukunya terlebih dahulu. Dilan 1990 hadir sesuai dengan novelnya, bisa dibilang sejauh ini Dilan menjadi Film adaptasi terbaik kedua setelah Critical Eleven, karya Ika Natassa. Hal ini terjadi tak lepas dari Kang Pidi Baiq yang ikut terjun dalam pembuatan naskahnya.
Berbeda dengan Baracas, Dilan 1990 hadir lebih menghibur dan menggemaskan. Namun, dalam Dilan 1990 ada beberapa cast yang dirasanya kurang menghayati perannya, seperti beberapa teman Dilan dan Milea yang hanya sebagai pemeran pendukung, serta di bagian ketika Milea tertawa ditelpon agaknya terlalu dipaksa sehingga saya pun tak dapat rasa Milea bahagia ketika ditelepon Dilan. Beberapa orang kecewa dengan Iqbal sebagai pemeran utamanya, namun saya tak merasa keberatan karena Iqbal cukup bisa mewakili sosok Dilan, walau ada beberapa scene yang kurang penghayatan. Keberhasilan Iqbal dalam memerankan Dilan terbukti hampir semua dialog yang keluar dari mulutnya menjadi iconic film Dilan 1990, hal ini bisa terjadi karena memang penyampaian Iqbal cukup baik dalam film ini. Dan kamu bisa buka internet atau instagram banyak sekali meme dan parodi yang dibuat.
Pada awal film dimulai dengan narasi yang dilakukan Milea, ada suatu keganjalan. Suara Milea, Vanesha Priscilla pada awal narasi sungguh berbeda. Saya pun mengira bahwa itu adalah suara sang kaka, Sissy Priscilla, pemain AADC, jika mendengar dari warna suaranya. Bisa jadi itu memang Sisi Priscilla karena memang pada awal narasi ceritanya Milea sudah dewasa. Kalau memang benar, wajar nampaknya pemilihan peran Milea ketika SMA, Vanesha Priscilla. But, let’s see next series of Dilan yaa.

Kerja keras ingin menampilkan visual yang 90-an sangat-sangat kerasa, terbukti pada saat pengambilan di salah satu scene, ketika Bunda Dilan mengendarai Jeep bersama Milea, CGI nya cukup terlihat jelas. Walau begitu, tak masalah karena cerita yang ditampilkan tidak berat, seperti rindu Dilan terhadap Milea, tetapi kekuatan karakter Dilan dan Milea cukup bisa membuat kamu susah move on dari film ini. Olehkarena itu, setelah menonton saya memberikan rating 3/5 dan saran saya kalau kamu mau nonton harus ajak teman biar lebih asik, solanya kalau sendiri nanti filmnya berubah judul Dilan…da kesepian. Hahaha.